Sunday, June 9, 2019

Book Review : Children of Blood and Bone

Rating : Children of Blood and Bone, 4.2 ★★★★☆

Judul : Children of Blood and Bone
#1 Legacy of Orisha
Pengarang : Tomi Adeyemi
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit : Mei 2019 di Indonesia
ISBN : 978-602-04-9888-1

Mereka membunuh ibuku. Mereka mengambil sihir kaumku. Mereka mencoba memusnahkan kaumku. Tapi sekarang kami bangkit melawan!

Zélie Adebola mengingat masa ketika sihir masih hidup di Orisha. Para Burner dengan nyala api mereka, para Tider yang membangkitkan gelombang, dan ibu Zélie yang membangkitkan jiwa.

Namun segalanya berubah ketika sihir menghilang. Di bawah titah sang raja yang keji, para Maji dibunuh, meninggalkan Zélie tanpa seorang ibu dan kaumnya tanpa harapan.

Sekarang Zélie memiliki kesempatan untuk membawa kembali sihir dan melawan kerajaan. Dengan bantuan dari putri raja yang pemberani, Zélie memperdaya dan melarikan diri dari sang putra mahkota, yang ditugaskan ayahnya untuk melenyapkan sihir selamanya dari kerajaan Orisha. 

Aku suka buku ini! I had no expectation before, karena aku orangnya gampang terserang slump dan akhirnya banyak buku yang berakhir DNF jadi gapernah bikin ekspektasi apa-apa sama buku baru. Buku pertama seri Legacy of Orisha ini cukup berhasil bikin aku hangover setelah selesai bacanya. Jujur aja pertama beli buku ini karena cover-nya cakep bangeeeet, udah itu doang. Begitu bukunya sampe di tangan, aku coba baca satu chapter. Hmmm, the first chapter is quite intriguing. Lalu lanjut baca chapter kedua, eh kebablasan gabisa berenti. Ceritanya seru dan menegangkan, apalagi tokoh heroine utama Zelie Adebola ini orangnya berapi-api. Semangatnya nular ke pembaca. Buku ini banyak action-nya, jadi ga gampang bikin bosen dan berhasil bikin aku deg-degan karena penasaran dan kebawa suasana.

Garis besarnya buku ini menceritakan petualangan Zélie, kakaknya Tzain, sama putri Amari (anaknya villain utama raja Saran) dalam misi petualangan mengembalikan sihir yang hilang dari negeri Orisha. Zelie ini seorang diviner atau calon maji (orang yang terberkati kekuatan) tapi belum punya kekuatan sihir karena sihir dihilangkan oleh raja Saran. Nah selama sihir hilang ini, banyak kaum maji yang ditindas dan dibantai oleh raja Saran karena dendam dan ketakutan orang kosidan (non-maji) terhadap sihir. Para diviner dan maji ini diperlakukan seperti budak, ditindas, dan dipanggil maggot (belatung). Suatu ketika saat ada kemungkinan sihir bisa kembali dipulihkan di Orisha, Zélie dan kawan-kawan ini berupaya mengembalikan sihir dan menyelamatkan para kaum maji dan melawan dari ketidakadilan. Selama perjalanan ini mereka diburu oleh kapten pasukan kerajaan sekaligus putra raja Saran, namanya pangeran Inan. Ceritanya lumayan seru lah, ada romance dikit-dikit yang bikin gregetan tapi ga terlalu bikin cringe. Watch out the twist!

Tomi Adeyemi dalam menulis cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari perlakuan orang-orang (khususnya Amerika) terhadap orang kulit hitam yang tidak adil bahkan kejam. Salah satunya insiden penembakan polisi Amerika terhadap warga sipil kulit hitam tanpa sebab yang gabisa dibenarkan untuk tindakan tersebut, apalagi pelakunya bebas tanpa tuntutan. Tomi menggambarkan kehilangan yang dialami Zélie atas keluarga dan kematian ibunya terhadap kehilangan yang juga dirasakan oleh keluarga korban penembakan atas orang-orang yang mereka kasihi, which is so sad and awful. Semoga kejadian kaya gini gabakal ada lagi. Kita semua sama ko mau apapun warna kulit, ras, agama, atau perbedaan lain. We’re all human, not a monster, so act like a human and stop doing monstrous thing. Sedih lah setelah selesai baca buku ini, terus baca catatan penulis di bagian belakang dan baca kisah dibalik buku ini. I pray for a better, warm, loving world.

Sedikit kekurangan dari buku ini, plotnya agak lambat, apalagi pas ditengah-tengah, tapi terusin aja karena ceritanya seru pas diakhir. Saranku, nunggu buku duanya terbit dulu baru baca buku pertama, soalnya di ending meskipun seru tapi agak gantung, lebih enak kalo udah punya buku kedua biar ga gregetan karena penasaran. Overall, worth your time, apalagi denger-denger mau dibikin film kan, jadi antisipasi baca bukunya dulu sebelum nonton filmnya.

2 comments:

  1. Makasih kak reviewnya membantu bgttt, aku kayanya bakalan beli buku ini, suka YA ttg magic gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, senang bisa membantu. Bukunya worth it banget kok, ga cuma tentang sihir aja, banyak petualangan serunya juga

      Delete