Thursday, August 1, 2019

Book Review : A Court of Wings and Ruin (ACOWAR)

Rating : A Court of Wings and Ruin, 4.0 ★★★★☆

Judul : A Court of Wings and Ruin
#3 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-623-216-323-2

Feyre telah kembali ke Negeri Musim Semi untuk mengumpulkan informasi tentang maneuver Tamlin yang mengancam akan membuat Prythian bertekuk lutut. Namun, demi mencapai semua itu dia harus melakukan sebuah permainan—dan satu kesalahan saja bisa menciptakan malapetaka, bukan hanya untuk Feyre, juga untuk dunianya. Ketika perang pecah, Feyre harus bisa memutuskan siapa yang harus dipercaya di antara para Tuan Agung.

Bumi bersimbah darah, demi meraih kekuasaan atas satu hal yang dapat menghancurkan mereka...

ACOWAR versi terjemahan baru aja terbit nih, berarti waktunya bikin review. Meskipun sebenernya aku udah baca novel ini yang versi bahasa Inggrisnya dari lama. Sebelumnya aku udah bikin review juga di blog untuk buku pertama ACOTAR dan buku kedua ACOMAF, bisa dicek ya. Okay, lumayan sebenernya novel ini. Di chapter-chapter awal aku tercabik antara suka aksinya Feyre yang lagi balas dendam (karena licik dan badass banget) atau kasian sama Tamlin karena menurutku dia ga sepenuhnya salah.

Tapi dibuku ini aku bener-bener benci bangeeeeeet sama Ianthe, sebesar aku benci sama Dolores Umbridge. Padahal aku gapernah bener-bener benci sama karakter villain selain dua karakter diatas, bahkan Voldemort pun aku masih suka, Amarantha dan Hybern King yang jadi villain di buku sebelumnya dan buku ini pun aku masih fine-fine aja. But that smug-bitch-priestess Ianthe need to suffer ‘til her death for what she did to Feyre’s sisters, Lucien, and the Suriel, and I thank Feyre to made it happen and avenged them.

Bagian favoritku dari novel ini adalah saat pertemuan bersama semua Prythian High Lords di Summer Court. Menegangkan, walaupun Tamlin nyebelin banget pas itu. Feyre aksinya keren, I like her better. Ada juga yang bikin aku nangis, saat ada tokoh yang meninggal, padahal semenjak buku satu dia selalu bantuin Feyre kalo Feyre lagi butuh petunjuk, make me hate Ianthe even more. Pas ada perang ini juga lumayan seru, walaupun sejujurnya aku agak bingung sama detailnya. Too much maybe? Atau juga karena aku selalu benci tiap ada bagian perang di novel, pengen cepet-cepet nyelesain bacanya, malah kadang aku skip (jangan dicontoh, tapi pas buku ini ga aku skip sih). Aftermath-nya lumayan oke, ada yang bikin tegang juga dan banyak yang mati jadi ga terlalu happy ending banget. Terus aku masih merasa kasihan banget sama Tamlin, poor baby, pengen puk-puk Tamlin. I wish him to find some happiness.

Kedua buku sebelumnya, ACOTAR sama ACOMAF, pilihan kata terjemahannya agak kurang pas dan berantakan, bahkan bikin beberapa kalimat kehilangan esensi kalimatnya. Nah dibuku ketiga ini, masih relatif sama juga, banyak typo-nya. Salah satunya kata "memakan perhiasan" di bab awal, aku bingung ngapain coba si Feyre makan perhiasan? Ternyata setelah kucek di ebook versi bahasa Inggris yang dimaksud adalah "memakai perhiasan" mwahahaha typo-nya fatal sih beda artinya (LOL) dan jadi konyol banget. Selain itu, ada beberapa typo kata “dia” yang cuma ditulis “di”. Aku masih banyak nemu typo juga selain yang aku sebutin diatas, tapi ga perlu aku sebutin satu-satu lah ya. Untuk ukuran novel se-hype ini menurutku editor kurang teliti, typo-nya udah dalam level sangat mengganggu.

Hal lain yang ga aku suka dari novel ACOWAR terjemahan ini, cover bukunya glossy (padahal kedua buku sebelumnya covernya doff) dan kertasnya kaku banget, kualitas kertasnya bagusan yang ACOMAF. Jujur aja, dari segi cerita aku suka sama novel ini dan recommended untuk baca karena seru dan ga bikin bosen (banyak perang, banyak yang mati aku suka LOL). Tapi untuk novel terjemahan terbitan BIP ini aku agak nyesel beli. Untuk harga IDR 198.000 tapi dengan kualitas kertas yang gak sebagus buku sebelumnya (kertas cetakan ACOMAF fleksibel dan lentur banget) dan banyak banget typo mengganggu, menurutku kurang worth it sih. Kalo mau baca buku ini tu harus selalu dipegang pake dua tangan, gabisa baca sambil bukunya diletakin di meja karena bakal nutup sendiri, kertas dan jilidnya kaku (gak lentur).

Setelah novel ini juga ada novella A Court of Frost and Starlight (ACOFAS), dengan setting waktu setelah ACOWAR, diceritakan dari beberapa sudut pandang tokoh diantaranya Feyre, Rhysand, Cassian, sama Morrigan. Semoga aja yang ACOFAS juga diterjemahin ke bahasa Indonesia dengan kualitas bahasa dan cetakan buku yang better dari ACOWAR kali ini. Untuk ACOWAR sendiri semoga penerbit bisa memperbaiki banyak  typo-nya di cetakan selanjutnnya yaa.

6 comments:

  1. Oh tuhaaaaan, kalo ngk beli ntar penasaran sama kelanjutannm ceritany.

    Bener banget, kyk asala terbit aja gitu. Ngak mikiran kualitas. Kan jadinya aneh.

    Menurut kamu ada yg d potong ngk ceritanya? Katany ACOTAR ada yg d potong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalo dipotong sih kayaknya engga ya, cuman ya itu mungkin editornya kurang teliti, penerjemahnya milih katanya kurang sesuai juga. Yang di ACOTAR ga terlalu merhatiin sih aku malahan, karena sebelumnya udah baca yg engver jadinya banyak yg aku skip karena agak malesin terjemahannya

      Delete
  2. Aku udh beli ini dan emg bener kualitas sampul sm kertasnya bagusan buku sebelumnya

    ReplyDelete
  3. yang a court of frost and starlight udh keluar terjemahannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. beluuum, maybe nunggu sekalian a court of silver flames

      Delete