Tuesday, September 24, 2019

Book Review : KKN di Desa Penari

Rating : KKN di Desa Penari, 3.0 ★★★☆☆
Judul : KKN di Desa Penari
Pengarang : Simpleman
Editor : Sein Arlo
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit : September 2019
ISBN : 978-602-220-339-9

Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama music gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat dengan jelas oleh mata.

“Mbak… kita sudah sampai di desa.”

Cerita KKN di Desa Penari yang viral banget di Twitter beberapa minggu lalu ini akhirnya diterbitin jadi novel. Kisah ini konon katanya berdasarkan pengalaman nyata mahasiswa salah satu universitas di Surabaya yang melaksanakan KKN pada tahun 2009 di desa ujung timur pulau Jawa, sebut saja Kota B (terkenal banget), setelah kejadian ini menurut beberapa orang kegiatan KKN di universitas bersangkutan sempat dihentikan selama 2 tahun. Awalnya diceritakan oleh akun @SimpleM81378523 lewat twit bersambung di Twitter, lalu mulai viral dan dibahas di beberapa vlog seleb Indonesia.

Aku pertama kali baca cerita ini di Twitter sebelum viral, aku merinding banget dan berasa banget efek “nyata”-nya, aku bacanya pas malem-malem juga sih, haha. Tapi emang pas baca itu aku merasa kalau cerita ini emang beneran terjadi entah kenapa. Waktu itu aku baca pertama kali dari sudut pandang Widya, emang agak bingung sih. Tapi setelah baca versi Nur jadi paham dan seremnya bertambah banget. Itu pas aku baca versi Twitter-nya ya, bukan versi novelnya. Sekarang mari bahas resensi novelnya. Warning, it contains SPOILER!

Pas pertama kali baca novelnya aku ngerasa kayaknya bakalan banyak yang diubah, dari paragraf pertama aja udah beda, karena di Twitter ga ada bagian awalan seperti di novel. Hal-hal yang diubah tentu bahasanya, karena versi Twitter kebanyakan percakapan pakai bahasa Jawa Suroboyonan yang ada terjemahannya, sedangkan di novel sebagian besar sudah langsung diterjemahkan. Ada juga tokoh-tokoh baru dan kejadian baru. Misalkan untuk bab awal ketika Widya bercakap-cakap dengan Bu Anggi selaku pengawas lapangan untuk tim KKN Widya, dimana sebelumnya tidak ada cerita itu di versi Twitter. Ada juga kejadian mistis yang Widya alami pertama kali, yaitu ketika perjalanan dari jalan utama menuju desa lokasi KKN dengan menempuh motor yang menurut teman-teman Widya hanya memakan waktu 30 menit, namun menurut Widya sudah terasa berjam-jam. Didalam novel tidak disebutkan mengenai hal itu, Widya merasa memang perjalanan memakan waktu 30 menit sama seperti perkiraan teman-temannya.

Dari situ aku udah merasa aneh sih, masa iya yang katanya berdasarkan kisah nyata ketika dijadikan novel ceritanya bisa beda. Menurutku sebagian kisahnya ketika diceritakan ulang di dalam novel malah ada yang berkebalikan. Misalnya kalau versi Twitter kawaturih (mahkota) yang ingin Bima berikan kepada Widya bertujuan untuk pelet (membuat seseorang jatuh cinta melalui ilmu gaib), namun di versi novelnya kawaturih ini ingin diberikan Bima kepada Widya dengan tujuan untuk menyelamatkan Widya dari lelembut karena sebelumnya Bima bermimpi jika Widya dikerumuni banyak ular hijau. Beda banget kan.

Ga cuma itu aja, cerita versi Twitter saat bagian akhir diceritakan bahwa Bima terlihat oleh Widya sedang mandi di sendang yang dikerumuni banyak ular hijau. Ular-ular tersebut adalah anak-anak Bima hasil hubungannya dengan Badarawuhi sebagai siluman ular. Namun pada versi novel, justru Bima diharuskan menikah dengan anak-anak Badarawuhi (entah siapa bapaknya) yang berwujud ular hijau yang berada di sendang sedang mengelilingi Bima tersebut. Jadi kalo di Twitter, kawinnya sama Badarawuhi, versi novel kawinnya sama anaknya Badarawuhi, gitulah pokoknya.

Sudut pandang masih sama, ada versi sudut pandang Widya pada bagian awal, dilanjutkan sudut pandang Nur. Ada epilog juga saat Nur mengunjungi guru spiritualnya saat berada di pesantren. Ada satu salah tulis seingetku, yang harusnya 30 menit jadi 3 menit dibagian awal cerita. Secara garis besar sih ceritanya masih sama seperti di Twitter, tapi ada beberapa yang diubah, sebagian seperti yang aku sebutin diatas. Sejujurnya sebagai pembaca yang pernah baca kisah ini sebelumnya di Twitter lalu baca novelnya, aku kok malah jadi ragu ya kalau ini kisah nyata. Terlalu banyak yang diubah, yang malah jadi meragukan. Kalau ini berdasarkan kisah nyata kenapa bisa beda cerita dan mesti diubah, toh kisah awalnya udah cukup serem dan menarik. Aku gamau sotoy juga sih, mungkin (bisa jadi) berdasarkan kisah nyata sebesar sekian persen, gitu kali. Agak maksa sih kalo menurutku versi novel ini. Mungkin kalo dibikin novel yang entirely different tapi dengan ide yang sama bakalan lebih menarik. Kurang worth it aja gitu beli buku yang (menurutku) mahal dengan cerita yang 95% isinya sama dan pernah beredar secara free di Twitter.

Nyata atau fiktif, semua tergantung pembaca apakah ingin percaya atau tidak. Kalo ceritanya dirasa ga masuk akal, ya namanya (katanya) hal-hal gaib banyak kan yang ga bisa di nalar. Untuk hal-hal gaib sendiri aku percaya karena didalam kitab memang ada, tapi untuk kisah KKN di Desa Penari ini aku ga terlalu ambil pusing mikirin real atau enggaknya. Yang jelas kisahnya cukup menghibur bagi penyuka cerita mistis (yang belum pernah baca sebelumnya). Diambil aja hikmaknya menurutku, selalu menghormati adat dan jangan melanggar norma. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, more or less.

Friday, September 20, 2019

Lebih Suka Mana, Conan Doyle atau Agatha Christie?

Novel Sherlock Holmes dan Agatha Christie

Bagi penggemar novel detektif tentu ga asing lagi dong sama penulis Sir Arthur Conan Doyle dan tokoh ikoniknya Sherlock Holmes, atau Agatha Christie dengan tokohnya Hercule Poirot dan Miss Marple. Kedua penulis tersebut merupakan favoritku dalam genre detektif misteri. Novelnya sama-sama menarik dengan tokoh detektif hebat yang punya cara memecahkan misteri yang beneran keren dan bikin ga habis pikir, cerdik banget.

Kedua penulis sama-sama mengambil latar belakang negara Inggris sebagai setting tempat kejadiannya. Sherlock Holmes dengan tempat ikoniknya 221B Baker Street, mengambil latar waktu pada abad ke 18. Sedangkan Agatha Christie pada abad 19. Sudut pandang novel Sherlock Holmes kebanyakan melalui kolega Holmes, dr. Watson, meskipun ada beberapa kisah yang dinarasikan langsung oleh Holmes. Kalau novel Agatha Christie sudut pandangnya berbeda-beda dari beberapa orang sekaligus, namun tokoh detektif yang digunakan diantara Hercule Poirot atau Miss Marple.

Yang menarik dan bikin selalu penasaran sama petualangan Sherlock Holmes itu adalah cara dia menyimpulkan dan memecahkan masalah dengan bantuan dr. Watson. Petunjuk-petunjuk yang mungkin terlihat sepele justru menjadi kunci pemecahan masalah yang ga bakal disangka-sangka jika nantinya dijelaskan oleh Sherlock. Inilah yang selalu ditunggu-tunggu sama pembaca novel Sherlock Holmes. Sedangkan untuk novel Agatha Christie, masalah utamanya adalah selalu “menemukan siapa tersangka pembunuhan”. Semua novel Agatha Christie adalah tentang pembunuhan yang diungkapkan lebih kepada sisi psikologi. Biasanya akan dibuat seolah-olah banyak banget tokoh yang jadi suspect pembunuhan, yang bikin pembaca selalu menebak-nebak.

Sejujurnya, ada beberapa judul novel (aku belum baca semua novelnya) Agatha Christie yang menurutku agak ngebosenin karena melulu soal pembunuhan. Meskipun kadang tersangkanya bener-bener ga terduga. Menurutku Agatha Christie juga terlalu banyak membeberkan petunjuk dan menyembunyikan petunjuk. Jadi sebagai pembaca aku merasa overwhelming dengan banyaknya suspect pembunuhan dan fakta-fakta yang ada, yang malah bikin aku bosen ditengah jalan karena kelamaan jelasinnya dan pelaku sebenernya ga juga diungkapkan.

Kalau novel Sherlock Holmes ceritanya bervariasi ga cuma soal pembunuhan. Mulai dari barang hilang, diperas, mencari orang hilang, pencurian, penipuan, banyak banget lah pokoknya dan lebih close to reality karena dekat dengan kejadian sehari-hari. Dan sejujurnya, aku gapernah bosen baca Sherlock Holmes karena selalu dibikin penasaran sama bagaimana cara Sherlock memecahkan masalahnya. Selain itu, ada beberapa kasus Sherlock Holmes yang saling berkaitan yang bikin tambah seru. Ada juga tokoh villain yang sama-sama pintar, yaitu Professor Moriarty yang bakal jadi arch nemenis-nya Sherlock. Which I think make Sherlock Holmes stories more interesting. Tapi Sherlock juga punya dark side, yaitu gampang stress dan depresi kalau otaknya nganggur (penyakit orang pinter gitu kali ya, haha) dan selalu lari ke narkoba dan alkohol, which quite bother me and I don’t like it.

Aku pribadi lebih suka baca Sherlock Holmes karya Arthur Conan Doyle dibanding novel Agatha Christie karena lebih surprising dan cara penyampaiannya ga ngebosenin. Kedua novelis punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi menurutku keduanya sama-sama berhasil bikin para penggemarnya selalu terhibur dengan cerita detektifnya. So, which one is your favorite?

Wednesday, September 11, 2019

Rep : Wandecrist Crate Agustus 2019

Main bundle Wandecrist Crate the Prisoner of Azkaban
  
Waktunya unboxing Wandecrist Crate bulan Agustus nih! Maaf banget telat, soalnya boxnya juga baru dateng pas masuk bulan September, and this month been so busy and crazy. Wandecrist Crate bulan Agustus ini menurutku isinya keren-keren banget. Apalagi dengan tema Prisoner of Azkaban yang merupakan buku terfavorit dari 7 buku Harry Potter.

Untuk bulan ini, total items yang didapat dari Wandecrist Crate ada 9 items. Aku susah nentuin favoritku yang mana, soalnya kali ini barang-barangnya bagus semua dan usable. Tapi sepertinya aku jatuh hati banget sama tongkat sihir Sirius Black dan tarot card-nya, keren banget ilustrasinya yakin deh. Main bundle dari subscription box Wandecrist Crate Prisoner of Azkaban terdiri dari :
• Sirius Black wand
• Prisoner of Azkaban tarot card
• Monster Book of Monsters pouch
• Book of Spell (house version)
• Knight Bus ticket
• Marauders tumbler
• Trelawney x Marauders tote bag
• Prisoner of Azkaban bookmark
• Prisoner of Azkaban art print

Items favoritku dari Wandecrist Crate bulan ini, tarot card dan Sirius Black’s wand

Wandecrist Crate ini berisi barang-barang handmade Harry Potter produksi asli dari @wandecrist sesuai tema bulan terkait. Biasanya tiap bulan ada clue barang apa aja kira-kira yang bakal ada didalam crate ini, tapi sisanya rahasia dong biar surprise. Nah uniknya yang membedakan Wandecrist Crate ini dari subs box lain, Wandecrist  Crate bisa dipesan dalam 3 jenis bundle (paket) dan bisa disesuaikan dengan asrama kamu di Hogwarts.

Pertama, ada main bundle yang berisi 6-8 items (IDR 320.000), lalu ada little bundle yang berisi 4-6 items (IDR 210.000), yang terakhir paket paling ekonomis ada tiny bundle yang berisi 2-4 items (IDR 135.000). Jadi kalau mau pesan bisa pilih bundle yang sesuai sama budget dan kebutuhan, lalu pilih asrama sesuai keinginanmu. Ordernya bisa langsung DM ke instagram @wandecrist ya.

Saat melakukan order, jangan lupa tunjukkan kode WANDFIC10 kepada kakak admin @wandecrist untuk mendapatkan potongan 10% untuk pemesanan crate jenis bundle apa saja. Ada juga tambahan potongan harga kalau kamu langganan Wandecrist Crate untuk beberapa bulan (pilihan langganan 3 dan 6 bulan), banyak banget kan untungnya. Wandecrist Crate bulan September tema Goblet of Fire juga udah bisa dipesan ya. Salah satunya bakalan ada replika mini Firebolt dan collectible card peserta Triwizard. Jangan sampe kehabisan slot pemesanan, buruan order!

Beberapa item yang ada di Wandecrist Crate

Sunday, September 1, 2019

DIY : Percy Jackson Camp Half Blood Necklace Tutorial

CHB campers necklace from PJO fandom

I’m so excited for this project! Percy Jackson and the Olympians merupakan seri favoritku dari novel mitologi karya uncle Rick Riordan. Selalu berimajinasi betapa serunya tinggal di summer camp sambil berlatih tempur dan pertahanan diri bareng demigod lain. Bagi penggemar Percy Jackson tentunya ga asing dong sama beads necklace yang dipakai tiap pekemah di Camp Half Blood. Kalung dari manik-manik ini diberikan kepada pekemah tiap akhir musim panas, manik-manik ini dilukis dengan gambar event terbesar yang terjadi selama musim panas berlangsung. Maka dari itu, aku pengen bikin kalung iconic dari serial Percy Jackson ini. Tapi karena aku punya banyak fandom favorit, lukisan manik-maniknya bakalan multi-fandom, jadi ga cuma dari Percy Jackson aja. Aku sertain juga ikon-ikon dari fandom Harry Potter dan Game of Thrones.

Bahan-bahan yang dibutuhkan

Bahan :
·      Manik-manik kayu
·      Tali kulit atau serat
·      Cat air akrilik
·      Waterproof drawing pen
·      Kutek kuku bening (top coat)

Alat :
·      Kuas lukis
·      Stik batang kayu kecil

Langkah-langkah membuat kalung Camp Half Blood

Langkah membuat :
1.Masukkan manik-manik kedalam stik batang kayu untuk mempermudah dalam memegang, lalu mulai warnai dengan cat akrilik. Dalam mewarnai manik-manik ini bisa dilukis dengan simbol-simbol tertentu misalnya simbol cabin di Camp Half Blood, pohon pinus Thalia, Empire State Building yang menggambarkan pertempuran di the Last Olympian, maupun simbol yang berasal dari fandom lain sesuai keinginan masing-masing.
2.Setelah cat mengering, lapisi dengan kutek kuku bening agar lebih tahan lama dan waterproof. Ulangi langkah 1 dan 2 berulang-ulang hingga jumlah manik-manik telah mencukupi lalu masukkan manik-manik yang telah dilukis kedalam tali kulit atau serat.
3.Ikat simpul pada satu sisi sesuai gambar diatas.
4.Ulangi ikatan simpul pada kedua sisi ujungnya agar bisa disesuaikan dengan ukuran yang diinginkan (adjustable size).

Sudah jadi! Kalungnya sudah bisa dipakai, cocoknya sih kalo dipakai bareng kaos jingga Camp Half Blood bagi yang punya. Tapi bisa juga dipakai untuk sehari-hari maupun acara casual. Langkahnya sih keliatan simpel ya, tapi sejujurnya yang ribet itu pas bagian melukis manik-maniknya. Ukurannya kecil banget sih (punyaku kurang kebih diameter 1.2 cm), jadi detailnya agak kurang. Tapi cukup okelah untuk dipakai sendiri. Selamat mencoba!

Tips :
• Untuk gambar atau tulisan ukuran kecil, mending pake drawing pen aja biar bisa rapi. Kalo aku pake drawing pen merk Snowman ukuran 0.2 mm. Jangan pake spidol ya, soalnya kalo dilapisin kutek bakal luntur.
• Untuk mewarnai gambar ukuran kecil dengan cat akrilik, aku pakai kuas ukuran terkecil (000), atau bisa juga pakai tusuk gigi.

Wednesday, August 28, 2019

GPU Book Stack Challenge

Dalam rangka memperingati hari buku nasional tanggal 17 Mei, Gramedia Pustaka Utama atau yang lebih dikenal dengan @bukugpu mengadakan challenge dengan tema book stack atau tumpukan buku. Challenge ini dimulai tanggal 17 Mei dan berakhir tanggal 31 Mei. Aku dari awal langsung tertarik ikutan challenge ini, karena selain hadiahnya yang lumayan WOW, aku juga lagi keranjingan ikutan segala macam challenge, haha.

Waktu aku tau ada challenge ini, hal pertama yang kulakuin adalah memantau stok buku berlogo GPU yang bisa dipake. Lumayan lah jumlahnya, tapi aku masih belum dapet konsepnya. Eh ga begitu lama aku kepikiran bikin castle ala-ala Hogwarts, dan pengen pake buku yang spine-nya warna item. Abis itu aku bongkar-bongkar rak dan mulai nyusun castle-nya, udah ada gambaran sih jadi ga terlalu lama udah dapet desain yang fix.

Begitu desainnya udah oke, aku tinggal bikin props tambahan buat melengkapi castle­-ku. Terus foto deh besok paginya. Lumayan ribet sih karena foto outdoor dan harus gotong buku keluar masuk rumah, apalagi diluar angin pas lagi gede dan menerbangkan atap castle-ku, haha. Jadi ya harus extra effort gitu. Tapi hasilnya aku cukup puas. Setelah dapet fotonya, aku edit pake Photoshop, not a pro really. Ini pertama kalinya aku ngedit foto buat bookstagram pake Photoshop, dan hasilnya masih terlihat sangat amatir (LOL), but it’s ok lah ga terlalu malu-maluin. Hasil akhirnya seperti yang terlihat dibawah.

GPU challenge photo entry, Hogwarts book stack castle

Foto udah dapet, tapi ga langsung aku upload karena lagi memantau situasi, pesaing, dan takut dicontek peserta lain (sok yes banget akumah). Tapi ga tahan lama-lama juga akhirnya kurang 6 hari dari due date juga udah aku upload. Responnya pada positif semua terharu akutu, makasih temen-temen bookstagram semua kalian super sekali. Aku seneng dong karena tingkat engagement di post fotoku tinggi, ga sia-sia berarti fotonya, hehe.

Sehari sebelum deadline, aku rada ilfil sih karena ada salah satu bookstagram yang bikin bookstack temanya castle juga, dan mirip-mirip lah, huhu. Terus aku dapet ide bikin entry lagi, langsung kepikiran bikin book throne karena pas itu abis nonton Game of Thrones. Akhirnya ga makan waktu lama langsung foto-foto cekrek, edit, upload. Hasilnya sih lumayan menurutku, dan pas banget book throne-nya cocok buat dipake bonekaku si Dany.

GPU challenge photo entry, GoT inspired book throne

Nah pas udah lewat tanggal dan nunggu pengumuman aku lumayan berharap bisa menang tapi ga terlalu juga sih, karena aku sadar fotoku hanyalah remah rengginang dibanding sama peserta lain, haha. Eh bagi yang pengen tau foto-foto dari challenge ini bisa cek di hastag #gpubookstackchallenge ya. Hasilnya diumumin 3 bulan kemudian. Itupun dengan berbagai macam cara ngerecokin adminnya biar bikin pengumuman. Dari 5 pemenang yang dijanjiin, ternyata aku terpilih jadi salah satu pemenangnya. Terimakasih banyak @bukugpuI'm grateful and really appreciate it. Meskipun buat tau siapa pemenangnya perlu usaha ekstra, haha.

Apapun itu, aku ucapin terima kasih banyak kepada @bukugpu yang telah mengadakan challenge ini. Tapi alangkah lebih baik untuk lain kali jangan berbelit-belit dan terkesan menghindari peserta untuk mengumumkan siapa pemenang dari challenge yang diadakan, supaya kredibilitas juga dapat dijaga. Oh, hadiah dari challenge ini juga bakalan aku posting di blog kalo udah aku terima nanti. Sekali lagi, terima kasih @bukugpu, semoga bisa lebih baik lagi kedepannya!

Tuesday, August 27, 2019

Book Review : Wonder by R.J Palacio

Rating : Wonder, 4.6 ★★★★★

Judul : Wonder
Pengarang : R.J. Palacio
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penerbit : Atria
Tahun terbit : September 2012
ISBN : 978-979-024-508-2

“Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita dibalik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibuloficial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat  berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.

Novel ini menguras emosi dan airmata. Menceritakan kisah Auggie saat pertama kali menjalani sekolah umum, bagaimana perlakuan guru dan teman-temannya. Seperti biasa, awalnya mereka kaget karena wajah Auggie yang ga normal dan terkesan “seram”. Sebagian tentu meledek dan menjauhi Auggie, tapi sebagian juga tulus jadi temennya Auggie. Sebenernya secara sifat dan mental, Auggie tu sangat normal seperti halnya anak-anak lain, cuma karena memiliki wajah yang berbeda makanya Auggie dianggap berbeda oleh orang sekitarnya.

Perlakuan temen-temen Auggie di sekolah juga cukup kejam sih, bullying. Mereka mengejek Auggie dengan berbagai sebutan. Bocah Tikus. Aneh. Monster. Freddy Krueger. E.T. Menjijikkan. Wajah Kadal. Mutan. Wow, so damn cruel. Dan aku emang tau hal kaya gini ga cuma terjadi di cerita fiksi. Tokoh antagonis disini namanya Julian, teman sekelasnya Auggie. Tipe-tipe bocah nyebelin yang baik kalo didepan orang tua aja, padahal dibelakang dia jahat banget sampe ngirim notes kata-kata kasar ke Auggie. Bahkan orang tuanya Jullian juga jahat sih ke Auggie, nge-crop Auggie dari foto sekolah karena mukanya dianggap “merusak pemandangan” oh so sick. Tapi semua perlakuan Julian ke Auggie dan sebab-sebabnya bakalan diceritain di bab khusus di novella terpisah judulnya the Julian Chapter. Aku udah baca novella ini dan bagus banget sih sama-sama menguras air mata, akhirnya mereka berdua juga saling memaafkan dan temenan.

Dibuku ini ga cuma menceritakan kisah dari sudu pandang Auggie, tapi juga kakak Auggie, Via, pacarnya Via, Justin, temennya Via, Miranda, dan teman Auggie, Summer & Jack. Dari sudut pandang Via, dia sebenernya sangat sayang sama Auggie, tapi kadang merasa tersisihkan dari perhatian orang tuanya karena Auggie emang butuh perhatian ekstra. Juga masalah Via sama temen-temennya disekolah. Dari sudut pandang Summer dan Jack, menceritakan persahabatan tulus mereka sama Auggie yang awalnya ga gampang. Banyak salah paham karena Auggie merasa mereka jadi temen Auggie karena disuruh sama kepala sekolah Beech Prep, Mr. Tushman yang baik. Setelah salah pahamnya clear, mereka berdua jadi orang terdekat Auggie disekolah, yang selalu ngebelain dan support Auggie.

Overall aku suka banget sama buku ini, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil. Bahkan dari kejadian yang dialamin anak kecil sekalipun. Baca buku ini menurutku wajib dilakukan ditempat sepi, karena aku gabisa berenti mewek, haha. Terharu banget sepanjang cerita. Berharap juga novel lainnya yang masih berhubungan sama Wonder ini juga diterbitin di Indonesia, kaya 365 Days of Wonder, Auggie and Me, dan lain lain. Aku udah baca sebagian dan sama bagusnya kaya Wonder.

Satu kelemahan di buku Wonder terjemahan ini, ada beberapa bagian terutama dari sudut pandang Justin (pacarnya Via) yang berantakan. Ga ada huruf kapital diawal kalimat yang bikin bingung bacanya, keliatan sama sekali ga dibenerin sama editornya. Selain itu semuanya lumayan sih, bahasa terjemahannya juga fine enak dibaca. Buku ini recommended banget bagi yang perlu motivasi, dan membuat kita belajar lebih bersyukur menjalani kehidupan.

Monday, August 26, 2019

Can't Get Over Lockwood & Co Characters

Lockwood & Co series by Jonathan Stroud

Let me tell you a secret that’s not gonna be a secret anymore, I’m crazy over Lockwood & Co series. Since the last book published, I couldn’t get over it, and I don’t know if I ever will be. I love all the books, the stories, the characters, the joke, the sarcasm, the skull… oh how I love the skull. Terutama karakternya, I love them all. Kali ini aku pengen share fanart para karakter Lockwood & Co karya Rachel Raka (@doodlingraka), aku kemarin nemu akun tumblrnya dan langsung dapet ide bikin post di blog.

Lockwood & Co team on a mission, art by doodlingraka

Karakter di series ini tu sukses bikin aku fangirling level akut, entah dari sarkasme mereka, humor, kelakuan, relationship sesama karakter lain, atau yang lainnya, yang jelas ini salah satu horror series terbaik yang pernah aku baca. Oke, mari kita kenalan sama karakter utama di Lockwood & Co ini dimulai dari favoritku, the Skull.

The Skull
The Skull art by doodlingraka
Hantu favoritku di Lockwood & Co, aku yakin most people yang udah baca seri ini pasti gemes banget sama setan didalem toples satu ini. Dia jail banget, mulutnya kotor suka sumpah serapah, pikirannya jahat karena demen banget nyaranin Lucy buat bunuh Holly pake gantungan baju. Jahatnya konyol dan suka ngata-ngatain orang (terutama sama George). Tapi dia menurutku salah satu temen terbaiknya Lucy, meskipun ngeselin, dia selalu bantu Lucy saat dalam misi dan nyelametin Lucy berkali-kali. Aku patah hati dan penasaran banget sama kelanjutan nasibnya Skull setelah ending di the Empty Grave. Oh I miss my Skull.

Anthony Lockwood
Lockwood art by doodlingraka
Hmmm, I love him. Lockwood yang misterius dan karismatik, aku suka sama kepribadian Lockwood ini yang cerdas, tegas, tapi friendly dan rela berkorban. Terutama setelah buku ketiga, pas mulai muncul hubungan dia sama Lucy, yang dibangun alus banget tapi tau-tau dalem aja. How he confess his “undying devotion” to her. DAMN IT! Melted down my hearts. Aku masih gila dan penasaran setengah mati sama kelanjutan hubungan mereka, ending dibuku kelimanya bikin hangover seminggu lebih, huh nyebelin. I need more!

Lucy Carlyle
Lucy art by doodlingraka
The main character of Lockwood & Co, she’s a badass. Yang bikin aku suka sama Lucy adalah karena dia bisa tahan temenan sama setan, something I can relate (not the way you think). Lucy itu menurutku karakter yang realistis, ga kaya beberapa buku dimana pemeran utama selalu digambarin super cantik/ganteng dengan kekuatan super lain yang terkesan lebay, Lucy disini cuma gadis biasa yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Meski Lucy kadang impulsive, tapi aku selalu suka pas mereka lagi ada di misi berusaha nyari sumber, keren sekaleeee.

George Cubbins
George art by doodlingraka
Oh oh aku gemes banget sama George, terutama hubungan dia sama donat toko Arif, biskuit, sama teh. Aku juga kasian sama George karena sering dikata-katain dan diancam dibunuh sama Skull karena eksperimen dia buat liat reaksinya Skull, termasuk diajak mandi bareng di bathtub. Bayangin aja toples hantu tengkorak diajak mandi bareng George pake gelembung sabun, aku ngakak banget pas bacanya (LOL).

Holly Munro
Holly art by doodlingraka
Awalnya aku ga suka sama Holly, karena Lucy juga ga suka sama Holly, haha. Menurutku Holly ga cocok di Lockwood & Co, terlalu rapi dan teratur, padahal anggota tim lainnya gajelas bentukannya. Aku ngedukung Skull buat bunuh Holly pake pot tanaman, panci, sama gantungan baju, konyol banget. Tapi lama-lama yaudah lah ya, si Holly ga ganggu-ganggu amat ini.

Quill Kipps
Quill art by doodlingraka
Who would’ve thought? Quill yang awalnya nyebelin dan pengen kulempar ke dalem toples bareng Skull bisa jadi teamnya Lockwood. Kasian sih sebenernya si Quill ini, kehilangan kemampuan sensitifitas hantunya dan akhirnya dipecat dari Fittes agency. Tapi Quill cocok sih jadi tim di agensinya Lockwood & Co, apalagi setelah dapet google hantu jadi semangat banget dia pas berburu hantu. Ehm, I ship him with Holly.

Flo Bones
Flo art by doodlingraka
Flo ini awalnya kukira gembel bawah jembatan biasa tukang cari relik hantu yang demen sama permen liquorice. Lama kelamaan terungkap kalo dia ternyata pernah jadi agen dan ngalahin Lockwood di turnamen pedang. Ga nyangka banget, dan sepertinya Flo ini kayaknya bakalan deket sama George, hmmm. Makin penasaran sama kelanjutannya (kalo ada).

Marissa Fittes
Marissa Fittes art by doodlingraka
Plot twist tentang Marissa Fittes alias Penelope Fittes ini ga nyangka banget, keren uncle Stroud bikin ide ceritanya. Seru banget pas bagian akhir the Empty Grave pas adegan Lucy Vs Marissa terus Ezekiel Vs Skull. Aku udah reread pas bagian itu entah berapa kali saking serunya.

Dari semua karakter diatas favoritku Skull dong jelas, hantu tipe 3 dengan mulut terkotor, haha. Aku masih belum sembuh hangover dari Lockwood & Co, padahal buku terakhir udah kubaca berbulan-bulan lalu. Masih berarap ada lanjutannya aku tuh, atau mini novella gitu gapapa lah (pengennya). Penasaran banget sama nasib Skull, kelanjutan hubungan Lockwood Lucy, Holly Quill, sama George Flo. Jadi aku kadang suka buka-buka tumblr, instagram, dan pinterest buat nyari fanart Lockwood & Co, dan menurutku fanart karya @doodlingraka ini bagus banget, jangan lupa di follow ya. Dibawah ini aku sertain fanart dan fanfic karya @doodlingraka juga dari beberapa adegan favoritku.

George having a bath with angry Skull, art by doodlingraka

Lucy and Locwood, art by doodlingraka

Lucy and just-released-Skull, art by doodlingraka

Quill and Holly, art by doodlingraka

Monday, August 5, 2019

The Wrath and the Dawn Duology : Left Me Hangover

The Wrath and the Dawn duology by Renée Ahdieh

This book left me hangover because I didn’t prepare for it. I truly had no expectation over the duology. Awalnya aku tertarik baca buku ini karena penasaran sama kisah Arabian Nights, aku pernah nyoba baca Arabian Nights versi aslinya ga pernah bisa selesai (bahasanya filsafat banget bikin ngantuk). Pas sekalinya baca retelling Arabian Nights versi Renée Ahdieh ini eh malah gabisa berenti. Aku inget banget mulai baca buku pertama kemarin pas weekend sehabis dhuhur, selesai sampe tamat buku kedua itu jam 1 malem, wkwk ngebut ga sampe 24 jam.

Once I begin, I could never stop. Apalah daya aku langsung jadi bucinnya Khalid. Dia tu misterius romantis gimana gitu, aku juga suka sama Shahrzad alias Shazi dan mulutnya yang pedes kaya cabe. Mungkin romance di buku ini tu agak klise ya enemy turn into love, tapi menurutku Renée Ahdieh berhasil mengemas kisahnya jadi ga bikin cringe saat bacanya. Baca buku ini meskipun romance tapi ga pernah ngebosenin, selalu diselingi bagian-bagian menegangkan dan misterius jadi selalu bikin penasaran sama kelanjutan kisahnya.

Banyak hal tak terduga terjadi di novel ini, untuk buku pertamanya the Wrath and the Dawn lebih banyak mengambil setting tempat di dalam istana Rey di negeri Khorasan yang mengisahkan tentang Khalid dan Shazi. Meskipun diceritakan juga masa lalu Shazi, Tariq Imran al-Ziyad yang berupaya merebut kembali Shazi dari tangan Khalid. Dibuku ini bakalan dikupas tuntas kisah Khalid dan masa lalunya kenapa bisa jadi seperti sekarang. Menurutku perkembangan kisah Shazi dan Khalid ini moved too fast, cepet banget asli. Tapi aku masih bisa enjoy aja dan ga terlalu terasa dipaksakan. Yang bikin baper dari buku ini salah satunya adalah panggilan sayang Khalid ke Shazi, joonam, yang artinya segalaku atau my everything. Duh, baper.

Buku keduanya, the Rose and the Dagger, mengisahkan perjuangan Shazi di gurun pasir bersama rombongan Tariq setelah dia dibawa (diculik) kesana. Meskipun Shazi dan Khalid terpisah jarak, tapi Shazi tetap berusaha menghilangkan kutukan Khalid. Buku keduanya lebih banyak membahas perang sih, dan tokohnya masih sama, cuma ada satu tokoh baru yang perannya signifikan. Dibuku kedua ini, banyak tokoh sampingan dari buku pertama yang perannya cukup signifikan, dan tercerahkan sudah pertanyaan dari buku pertama yang belum terjawab. Banyak plot twist juga, terutama di bagian menjelang akhir. Wow, I didn't see that coming.

Buku ini berakhir happy ending (bagi sebagian tokoh). Kisahnya cukup ringan tapi seru buat dibaca, terutama buat yang udah lelah sama novel high fantasy berseries macam diriku. And I have to say, I love this series so much, it left me hangover, so once I finished the second book, I start to read the first book again. Sampe segitunya aku jadi bucinnya Khalid. I don’t mind tho.

Ratings

Book #1 the Wrath and the Dawn, 4.6 ★★★★★
Book #2 the Rose and the Dagger, 4.0 ★★★★☆

Thursday, August 1, 2019

Book Review : A Court of Wings and Ruin (ACOWAR)

Rating : A Court of Wings and Ruin, 4.0 ★★★★☆

Judul : A Court of Wings and Ruin
#3 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-623-216-323-2

Feyre telah kembali ke Negeri Musim Semi untuk mengumpulkan informasi tentang maneuver Tamlin yang mengancam akan membuat Prythian bertekuk lutut. Namun, demi mencapai semua itu dia harus melakukan sebuah permainan—dan satu kesalahan saja bisa menciptakan malapetaka, bukan hanya untuk Feyre, juga untuk dunianya. Ketika perang pecah, Feyre harus bisa memutuskan siapa yang harus dipercaya di antara para Tuan Agung.

Bumi bersimbah darah, demi meraih kekuasaan atas satu hal yang dapat menghancurkan mereka...

ACOWAR versi terjemahan baru aja terbit nih, berarti waktunya bikin review. Meskipun sebenernya aku udah baca novel ini yang versi bahasa Inggrisnya dari lama. Sebelumnya aku udah bikin review juga di blog untuk buku pertama ACOTAR dan buku kedua ACOMAF, bisa dicek ya. Okay, lumayan sebenernya novel ini. Di chapter-chapter awal aku tercabik antara suka aksinya Feyre yang lagi balas dendam (karena licik dan badass banget) atau kasian sama Tamlin karena menurutku dia ga sepenuhnya salah.

Tapi dibuku ini aku bener-bener benci bangeeeeeet sama Ianthe, sebesar aku benci sama Dolores Umbridge. Padahal aku gapernah bener-bener benci sama karakter villain selain dua karakter diatas, bahkan Voldemort pun aku masih suka, Amarantha dan Hybern King yang jadi villain di buku sebelumnya dan buku ini pun aku masih fine-fine aja. But that smug-bitch-priestess Ianthe need to suffer ‘til her death for what she did to Feyre’s sisters, Lucien, and the Suriel, and I thank Feyre to made it happen and avenged them.

Bagian favoritku dari novel ini adalah saat pertemuan bersama semua Prythian High Lords di Summer Court. Menegangkan, walaupun Tamlin nyebelin banget pas itu. Feyre aksinya keren, I like her better. Ada juga yang bikin aku nangis, saat ada tokoh yang meninggal, padahal semenjak buku satu dia selalu bantuin Feyre kalo Feyre lagi butuh petunjuk, make me hate Ianthe even more. Pas ada perang ini juga lumayan seru, walaupun sejujurnya aku agak bingung sama detailnya. Too much maybe? Atau juga karena aku selalu benci tiap ada bagian perang di novel, pengen cepet-cepet nyelesain bacanya, malah kadang aku skip (jangan dicontoh, tapi pas buku ini ga aku skip sih). Aftermath-nya lumayan oke, ada yang bikin tegang juga dan banyak yang mati jadi ga terlalu happy ending banget. Terus aku masih merasa kasihan banget sama Tamlin, poor baby, pengen puk-puk Tamlin. I wish him to find some happiness.

Kedua buku sebelumnya, ACOTAR sama ACOMAF, pilihan kata terjemahannya agak kurang pas dan berantakan, bahkan bikin beberapa kalimat kehilangan esensi kalimatnya. Nah dibuku ketiga ini, masih relatif sama juga, banyak typo-nya. Salah satunya kata "memakan perhiasan" di bab awal, aku bingung ngapain coba si Feyre makan perhiasan? Ternyata setelah kucek di ebook versi bahasa Inggris yang dimaksud adalah "memakai perhiasan" mwahahaha typo-nya fatal sih beda artinya (LOL) dan jadi konyol banget. Selain itu, ada beberapa typo kata “dia” yang cuma ditulis “di”. Aku masih banyak nemu typo juga selain yang aku sebutin diatas, tapi ga perlu aku sebutin satu-satu lah ya. Untuk ukuran novel se-hype ini menurutku editor kurang teliti, typo-nya udah dalam level sangat mengganggu.

Hal lain yang ga aku suka dari novel ACOWAR terjemahan ini, cover bukunya glossy (padahal kedua buku sebelumnya covernya doff) dan kertasnya kaku banget, kualitas kertasnya bagusan yang ACOMAF. Jujur aja, dari segi cerita aku suka sama novel ini dan recommended untuk baca karena seru dan ga bikin bosen (banyak perang, banyak yang mati aku suka LOL). Tapi untuk novel terjemahan terbitan BIP ini aku agak nyesel beli. Untuk harga IDR 198.000 tapi dengan kualitas kertas yang gak sebagus buku sebelumnya (kertas cetakan ACOMAF fleksibel dan lentur banget) dan banyak banget typo mengganggu, menurutku kurang worth it sih. Kalo mau baca buku ini tu harus selalu dipegang pake dua tangan, gabisa baca sambil bukunya diletakin di meja karena bakal nutup sendiri, kertas dan jilidnya kaku (gak lentur).

Setelah novel ini juga ada novella A Court of Frost and Starlight (ACOFAS), dengan setting waktu setelah ACOWAR, diceritakan dari beberapa sudut pandang tokoh diantaranya Feyre, Rhysand, Cassian, sama Morrigan. Semoga aja yang ACOFAS juga diterjemahin ke bahasa Indonesia dengan kualitas bahasa dan cetakan buku yang better dari ACOWAR kali ini. Untuk ACOWAR sendiri semoga penerbit bisa memperbaiki banyak  typo-nya di cetakan selanjutnnya yaa.