Monday, August 5, 2019

The Wrath and the Dawn Duology : Left Me Hangover

The Wrath and the Dawn duology by Renée Ahdieh

This book left me hangover because I didn’t prepare for it. I truly had no expectation over the duology. Awalnya aku tertarik baca buku ini karena penasaran sama kisah Arabian Nights, aku pernah nyoba baca Arabian Nights versi aslinya ga pernah bisa selesai (bahasanya filsafat banget bikin ngantuk). Pas sekalinya baca retelling Arabian Nights versi Renée Ahdieh ini eh malah gabisa berenti. Aku inget banget mulai baca buku pertama kemarin pas weekend sehabis dhuhur, selesai sampe tamat buku kedua itu jam 1 malem, wkwk ngebut ga sampe 24 jam.

Once I begin, I could never stop. Apalah daya aku langsung jadi bucinnya Khalid. Dia tu misterius romantis gimana gitu, aku juga suka sama Shahrzad alias Shazi dan mulutnya yang pedes kaya cabe. Mungkin romance di buku ini tu agak klise ya enemy turn into love, tapi menurutku Renée Ahdieh berhasil mengemas kisahnya jadi ga bikin cringe saat bacanya. Baca buku ini meskipun romance tapi ga pernah ngebosenin, selalu diselingi bagian-bagian menegangkan dan misterius jadi selalu bikin penasaran sama kelanjutan kisahnya.

Banyak hal tak terduga terjadi di novel ini, untuk buku pertamanya the Wrath and the Dawn lebih banyak mengambil setting tempat di dalam istana Rey di negeri Khorasan yang mengisahkan tentang Khalid dan Shazi. Meskipun diceritakan juga masa lalu Shazi, Tariq Imran al-Ziyad yang berupaya merebut kembali Shazi dari tangan Khalid. Dibuku ini bakalan dikupas tuntas kisah Khalid dan masa lalunya kenapa bisa jadi seperti sekarang. Menurutku perkembangan kisah Shazi dan Khalid ini moved too fast, cepet banget asli. Tapi aku masih bisa enjoy aja dan ga terlalu terasa dipaksakan. Yang bikin baper dari buku ini salah satunya adalah panggilan sayang Khalid ke Shazi, joonam, yang artinya segalaku atau my everything. Duh, baper.

Buku keduanya, the Rose and the Dagger, mengisahkan perjuangan Shazi di gurun pasir bersama rombongan Tariq setelah dia dibawa (diculik) kesana. Meskipun Shazi dan Khalid terpisah jarak, tapi Shazi tetap berusaha menghilangkan kutukan Khalid. Buku keduanya lebih banyak membahas perang sih, dan tokohnya masih sama, cuma ada satu tokoh baru yang perannya signifikan. Dibuku kedua ini, banyak tokoh sampingan dari buku pertama yang perannya cukup signifikan, dan tercerahkan sudah pertanyaan dari buku pertama yang belum terjawab. Banyak plot twist juga, terutama di bagian menjelang akhir. Wow, I didn't see that coming.

Buku ini berakhir happy ending (bagi sebagian tokoh). Kisahnya cukup ringan tapi seru buat dibaca, terutama buat yang udah lelah sama novel high fantasy berseries macam diriku. And I have to say, I love this series so much, it left me hangover, so once I finished the second book, I start to read the first book again. Sampe segitunya aku jadi bucinnya Khalid. I don’t mind tho.

Ratings

Book #1 the Wrath and the Dawn, 4.6 ★★★★★
Book #2 the Rose and the Dagger, 4.0 ★★★★☆

0 comments:

Post a Comment