Saturday, July 6, 2019

Book Review : A Court of Thorns and Roses (ACOTAR)

Rating : A Court of Thorns and Roses, 4.0 ★★★★☆

Judul : A Court of Thorns and Roses
#1 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-284-8

Ketika Feyre—seorang perempuan pemburu—membunuh serigala di hutan, mahluk serupa binatang buas datang mencarinya untuk menuntut pembalasan. Feyre disandera di tanah magis berbahaya yang hanya pernah didengarnya dari legenda. Dia pun mengetahui bahwa mahluk itu bukanlah seekor hewan, melainkan Tamlin, peri agung abadi yang pernah menguasai dunia fana.

Perasaannya terhadap Tamlin berubah dari permusuhan dingin menjadi api yang membakar setiap cerita menyeramkan yang pernah didengarnya tentang dunia peri. Namun, kesuraman semakin menaungi dunia itu, dan Feyre harus bisa menghentikannya... atau malapetaka akan menimpa Tamlin dan dunianya selama-lamanya.

Awalnya ga pengen ngereview novel ini karena aku udah baca pas pertama kali terbit hampir setahun yang lalu. Tapi karena aku suka banget, dan novel ketiganya mau terbit, alhasil memutuskan untuk ngereview sajalah. Novel ini adalah novel young adult pertama yang bikin aku gabisa move on dan hangover berhari-hari. Pas itu lumayan merana karena buku keduanya belum terbit di Indonesia, penasaran banget sumpah.

Novel ini mengambil sudut pandang pelaku utama, Feyre, seorang manusia fana. Retelling kisah Beauty and the Beast ini menurutku cukup berhasil, dengan mengubah banyak hal seperti adanya fae, sihir, wabah, adanya orang ketiga (aheemm my darling Rhysand), dan menambah kadar romance dewasa yang ulalaaa (terlarang bagi yang belum 17+ biar ga pengen). Latar cerita ini berada di pulau Prythian, negeri yang dikuasai para High Lords (tuan agung kalo diterjemahannya, which is kind of awkward) disebelah utara, dan desa manusia fana disebelah selatan. Mereka dibatasi tembok pelindung magis (the wall) agar selalu terpisah. Para manusia ini takut akan peri karena mitos-mitos yang beredar adalah mereka mahluk yang kejam. Singkat cerita (karena gamau spoiler juga), alurnya mirip Beauty and the Beast deh pokoknya, tapi 100% lebih seru karena lebih banyak konflik dan pertokohan yang lebih kompleks.

Pas awal-awal baca, mungkin alurnya agak lambat, tapi aku enjoy banget ko pas bacanya, tetep menarik kisahnya buat diikutin. Kekurangan di novel ini, pemilihan kata terjemahannya agak kurang pas ya menurutku di beberapa bagian. Sangat berbeda arti dari kalimat asli bahasa Inggrisnya. Selain itu penerjemah menyoba menyensor kalimat-kalimat pada adegan dewasa yang ada di novel ini (biar ga terlalu vulgar, maybe) tapi jatohnya malah aku sebagai pembaca gatau mereka itu lagi ngapain. Pemilihan katanya mengganggu sekali dan mengurangi esensi kalimat. Setelah selesai baca novel terjemahannya, aku langsung baca ebook bahasa Inggrisnya, dan baru paham apa yang dimaksud sebenernya. Jujur, baca novel ini menurutku ceritanya jadi lebih bagus pas baca versi bahasa Inggrisnya. Aku jadi lebih paham sama isi ceritanya. Padahal biasanya aku ga masalah baca versi terjemahan.

Tapi biar bagaimanapun, novel ini worth it buat dibaca. Kisahnya seru dan banyak plot twist yang aduhai. Aku suka semua tokoh yang ada di novel ini, terutama Rhysand dan Lucien. Buku keduanya, A Court of Mist and Fury jauh lebih seru lagi ceritanya dari buku pertama. Bakalan aku review di Book Review : A Court of Mist and Fury (ACOMAF). Trilogi Sarah J. Maas ini pokoknya keren banget, bikin aku fangirling level akut, udah tak tertolong lagi.

0 comments:

Post a Comment