![]() |
Rating : A Court of Thorns and Roses, 4.0 ★★★★☆
|
Judul : A Court of Thorns and Roses
#1 ACOTAR Series
#1 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-284-8
Ketika
Feyre—seorang perempuan pemburu—membunuh serigala di hutan, mahluk serupa
binatang buas datang mencarinya untuk menuntut pembalasan. Feyre disandera di
tanah magis berbahaya yang hanya pernah didengarnya dari legenda. Dia pun
mengetahui bahwa mahluk itu bukanlah seekor hewan, melainkan Tamlin, peri agung
abadi yang pernah menguasai dunia fana.
Perasaannya
terhadap Tamlin berubah dari permusuhan dingin menjadi api yang membakar setiap
cerita menyeramkan yang pernah didengarnya tentang dunia peri. Namun, kesuraman
semakin menaungi dunia itu, dan Feyre harus bisa menghentikannya... atau
malapetaka akan menimpa Tamlin dan dunianya selama-lamanya.
Awalnya ga pengen ngereview novel ini karena
aku udah baca pas pertama kali terbit hampir setahun yang lalu. Tapi karena aku
suka banget, dan novel ketiganya mau terbit, alhasil memutuskan untuk ngereview
sajalah. Novel ini adalah novel young
adult pertama yang bikin aku gabisa move
on dan hangover berhari-hari. Pas
itu lumayan merana karena buku keduanya belum terbit di Indonesia, penasaran
banget sumpah.
Novel ini mengambil sudut pandang pelaku
utama, Feyre, seorang manusia fana. Retelling
kisah Beauty and the Beast ini menurutku cukup berhasil, dengan mengubah banyak
hal seperti adanya fae, sihir, wabah,
adanya orang ketiga (aheemm my darling
Rhysand), dan menambah kadar romance
dewasa yang ulalaaa (terlarang bagi yang belum 17+ biar ga pengen). Latar
cerita ini berada di pulau Prythian, negeri yang dikuasai para High Lords (tuan agung kalo
diterjemahannya, which is kind of awkward) disebelah utara, dan desa manusia
fana disebelah selatan. Mereka dibatasi tembok pelindung magis (the wall) agar selalu terpisah. Para
manusia ini takut akan peri karena mitos-mitos yang beredar adalah mereka
mahluk yang kejam. Singkat cerita (karena gamau spoiler juga), alurnya mirip Beauty and the Beast deh pokoknya,
tapi 100% lebih seru karena lebih banyak konflik dan pertokohan yang lebih
kompleks.
Pas awal-awal baca, mungkin alurnya agak
lambat, tapi aku enjoy banget ko pas
bacanya, tetep menarik kisahnya buat diikutin. Kekurangan di novel ini, pemilihan
kata terjemahannya agak kurang pas ya menurutku di beberapa bagian. Sangat
berbeda arti dari kalimat asli bahasa Inggrisnya. Selain itu penerjemah menyoba
menyensor kalimat-kalimat pada adegan dewasa yang ada di novel ini (biar ga
terlalu vulgar, maybe) tapi jatohnya
malah aku sebagai pembaca gatau mereka itu lagi ngapain. Pemilihan katanya
mengganggu sekali dan mengurangi esensi kalimat. Setelah selesai baca novel
terjemahannya, aku langsung baca ebook bahasa Inggrisnya, dan baru paham apa
yang dimaksud sebenernya. Jujur, baca novel ini menurutku ceritanya jadi lebih
bagus pas baca versi bahasa Inggrisnya. Aku jadi lebih paham sama isi
ceritanya. Padahal biasanya aku ga masalah baca versi terjemahan.
Tapi biar bagaimanapun, novel ini worth it
buat dibaca. Kisahnya seru dan banyak plot
twist yang aduhai. Aku suka semua tokoh yang ada di novel ini, terutama
Rhysand dan Lucien. Buku keduanya, A Court of Mist and Fury jauh lebih seru
lagi ceritanya dari buku pertama. Bakalan aku review di Book Review : A Court of Mist and Fury (ACOMAF). Trilogi Sarah J. Maas ini pokoknya keren banget, bikin aku fangirling
level akut, udah tak tertolong lagi.








0 comments:
Post a Comment