Saturday, July 6, 2019

Book Review : Memoirs of a Geisha

Rating : Memoirs of a Geisha, 4.8 ★★★★★

Judul : Memoirs of a Geisha
Pengarang : Arthur Golden
Penerjemah : Listiana Srisanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2002 di Indonesia
ISBN : 978-602-03-3769-2

Kisah Sayuri bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929, ketika sebagai anak perempuan berusia Sembilan tahun, dengan mata biru-kelabu yang luar biasa, dia dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Tidak tahan dengan kehidupan di rumah itu, dia berusaha melarikan diri. Tindakan itu membuat dia terancam menjadi pelayan seumur hidup. Saat meratapi nasibnya di tepi Sungai Shirikawa, dia bertemu Iwamura Ken. Di luar kebiasaan, pria terhormat ini mendekati dan menghiburnya. Saat itulah Sayuri bertekad akan menjadi geisha, hanya demi mendapat kesempatan bertemu lagi dengan pria itu suatu hari nanti.

Mungkin review ini agak kurang relevan karena novel ini udah terbit lama banget, dan filmnya pun udah ada, tapi bodo amat pokoknya pengen bikin review karena aku suka banget (LOL). Ini adalah salah satu novel non-fantasi favoritku, asli bagus banget. Melalui novel ini sedikit banyak aku jadi tau mengenai budaya Jepang, terutama seni menjadi geisha. Penulisnya sendiri pun, Arthur Golden, ga asal-asalan dalam menulis novel ini. Dia melakukan research di Jepang dengan narasumber beberapa Geisha. Jadi meskipun ini sebuah novel, sedikit banyak isinya merupakan kebenaran dan kabarnya sih merupakan kisah hidup salah satu geisha terkenal, Mineko Iwasaki.

Novel ini dikisahkan dalam sudut pandang Sayuri, tokoh utama disini. Alurnya merupakan flashback, dimana Sayuri menceritakan kisah hidupnya dimulai saat masih tinggal di Yoroido sebagai si kecil Chiyo. Latar novel ini bermula di desa nelayan Yoroido, dan hampir setelahnya kebanyakan berlatar di distrik Gion, Kyoto yang menjadi tempat Chiyo belajar menjadi geisha setelah dijual oleh orang tuanya. Diceritakan juga sedikit hidup Sayuri saat tinggal di New York, Amerika pada bagian akhir kisah.

Memoirs of a Geisha sudah di filmkan pada tahun 2005 dengan judul yang sama, dan mendapat berbagai nominasi dan memenangkan 3 penghargaan Academy Awards. Film ini diperankan oleh tokoh-tokoh terkenal seperti Ziyi Zhang, Michelle Yeoh, Gong Li, dan Ken Watanabe yang memerankan Sayuri, Mameha, Hatsumomo, dan Iwamura Ken secara berturut-turut. Menurutku filmnya cukup bagus dan ceritanya secara garis besar sesuai sama novelnya, meskipun ada beberapa bagian pada novel yang ga ikut diceritakan dalam film. Aktris Michelle Yeoh juga menurutku terlalu tua untuk memerankan Mameha yang diceritakan masih berusia 16 tahun. Selain itu, proses Sayuri menjadi Geisha di film terlalu gampang, padahal di novelnya banyak konflik dan rintangan, karena menjadi geisha tidak semudah itu Ferguso (LOL).

Pas baca novel ini aku  gapernah terserang penyakit “bosan” apalagi tanda-tanda DNF. Terlalu bagus dan bikin penasaran. Mungkin karena banyak hal-hal baru di novel ini yang sebelumnya aku ga tau, perbedaan budaya juga menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. Mempelajari seni menjadi geisha yang misterius dan rahasia meskipun hanya melalui novel. Gaya penceritaan juga mudah dipahami meskipun banyak detail, justru menurutku karena detail itulah aku bener-bener bisa membayangkan keadaan dan menggambarkan gimana situasi saat itu. Budaya dan adat kebiasaan masyarakat Jepang terutama di distrik hiburan geisha saat perang dunia II terlalu menarik untuk dilewatkan.

Banyaknya nominasi dan penghargaan yang diperoleh novel ini ternyata ga lepas dari kontroversi. Seperti yang aku sebutin di paragraf awal, novel ini mengambil model utama geisha Mineko Iwasaki dalam hal perjalanan hidup. Sebelumnya Arthur Golden setuju untuk merahasiakan keterlibatan Mineko dalam pembuatan novel ini, namun di bagian acknowledgement dan beberapa wawancara justru Golden menyebut nama Mineko, yang berbuntut penghianatan dan dibawa ke pengadilan. Mineko juga menyebutkan bahwa Golden mengubah dan mengarang beberapa ritual dalam menjadi geisha, tidak sesuai dengan budaya Jepang yang sesungguhnya dan apa yang telah diceritakan mineko, yang malah membuatnya terkesan negatif.

Salah satunya adalah ritual mizuage didalam novel yang dijelaskan bahwa untuk menjadi geisha sepenuhnya, seorang maiko (geisha magang) harus menjual keperawanannya kepada penawar tertinggi, padahal pada kenyataannya tidak ada ritual seperti itu. Oleh karena hal ini, Mineko Iwasaki banyak mendapat ancaman kekerasan dan kematian, juga ia dijauhi oleh teman-teman dan komunitas geisha karena telah membocorkan banyak hal tentang dunia geisha yang sepantasnya tetap menjadi misteri dan tidak diketahui publik. Untuk meluruskan hal ini, Mineko Iwasaki akhirnya menulis autobiografi yang berjudul Geisha of Gion yang menceritakan kisah hidupnya yang sesungguhnya.

Terlepas berbagai kontroversi diatas, novel ini tetap bagus dan menarik untuk dibaca. Tapi, jangan menjadikan novel ini sebagai acuan pengetahuan mengenai dunia geisha yang sesungguhnya. Dalam novel ini banyak banget kisah sosial dan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga hal-hal mengenai budaya Jepang yang ternyata sangat menarik. Aku udah reread novel ini berkali-kali dan gapernah bosen bacanya. Salah satu novel yang menurutku a must read, dan wajib dipunyai.

0 comments:

Post a Comment