Saturday, July 6, 2019

Book Review : A Court of Mist and Fury (ACOMAF)

Rating : A Court of Mist and Fury, 4.5 ★★★★☆

Judul : A Court of Mist and Fury
#2 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-542-9

Selamat dari cengkeraman Amarantha, Feyre pun kembali ke negeri Tamlin meski dengan beban yang harus ditanggungnya. Walaupun kini ia mewarisi kekuatan Peri Agung, hatinya tetap manusia, dan itu tidak bisa menebus rasa bersalah atas perbuatannya demi menyelamatkan Tamlin serta seisi Negeri Musim Semi.

Feyre juga masih berutang janji kepada Rhysand, sang Tuan Agung Negeri Malam. Mau tidak mau ia terlibat dalam politik yang gelap, bergairah, dan begitu memesona. Hingga lagi-lagi Feyre menjadi kunci untuk menghentikan kejahatan di dunia peri Prythian yang terlanjur terpecah.

Pokoknya buku kedua ini SERU BANGET! Serunya pas mulai dapet beberapa chapter sih, karena di chapter awal-awal aku pusing bacanya, sungguh. Kebanyakan nyeritain isi kepala Feyre yang lagi depresi setelah ending di buku pertama, which is so annoying. Berasa ikutan depresi akutu. Hanya kelakuan Rhysand yang bisa menyelamatkanku dari kebosanan.

Tapi setelah isi kepala Feyre udah ga terlalu nyebelin, asli ceritanya bagus dan seru banget. Menegangkan dan penuh intrik, menggoda banget (atau lebih tepatnya aku tergoda sama Rhysand wkwk LOL). Karakter Feyre juga berubah dari tukang depresi yang sering muntah jadi heroine badass. Damn I love it. Tapi menurutku Sarah J. Maas terlalu jahat sama karakter Tamlin (honestly I can fully understand why he did what he did, don’t worry I still love you Tamlin), kenapa pula dia dibikin jadi penjahat, plis deh dia ga sejahat itu.

Novel ini juga berhasil bikin aku berderai-derai air mata pas pertama kali bacanya, terutama bagian Rhysand mengungkapkan pengorbanan dia selama ini buat Feyre pas mereka di kabin. Setelah itu... yaaa baca sendiri wkwk. Oh, adegan dewasa di buku ini banyak banget, tapi asal baca versi terjemahannya sih ga masalah. Wong banyakan diperhalus kata-katanya, jadi biasa aja. Beda sama versi asli bahasa Inggis yang WAOW banget pas adegan itu.

Overall, ini buku keren banget sumpah. Tapi ya itu, pemilihan kata terjemahannya masih sama kaya ACOTAR, agak kurang pas dan ada beberapa typo penulisan. Bagi yang belum baca buku pertamanya, bisa baca reviewku di Book Review : A Court of Thorns and Roses (ACOTAR). Aku kalo bikin review selalu berusaha minim spoiler kok kalo pas ga kelepasan (LOL). Aku udah ga sabar nunggu buku ketiganya terbit, walaupun aku udah baca lewat ebook bahasa Inggrisnya sih. Can’t wait!

0 comments:

Post a Comment