![]() |
| Rating : A Court of Mist and Fury, 4.5 ★★★★☆ |
Judul : A Court of Mist and Fury
#2 ACOTAR Series
#2 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-542-9
Selamat
dari cengkeraman Amarantha, Feyre pun kembali ke negeri Tamlin meski dengan
beban yang harus ditanggungnya. Walaupun kini ia mewarisi kekuatan Peri Agung,
hatinya tetap manusia, dan itu tidak bisa menebus rasa bersalah atas
perbuatannya demi menyelamatkan Tamlin serta seisi Negeri Musim Semi.
Feyre
juga masih berutang janji kepada Rhysand, sang Tuan Agung Negeri Malam. Mau tidak
mau ia terlibat dalam politik yang gelap, bergairah, dan begitu memesona. Hingga
lagi-lagi Feyre menjadi kunci untuk menghentikan kejahatan di dunia peri
Prythian yang terlanjur terpecah.
Pokoknya buku kedua ini SERU BANGET! Serunya pas
mulai dapet beberapa chapter sih,
karena di chapter awal-awal aku
pusing bacanya, sungguh. Kebanyakan nyeritain isi kepala Feyre yang lagi
depresi setelah ending di buku
pertama, which is so annoying. Berasa ikutan depresi akutu. Hanya kelakuan
Rhysand yang bisa menyelamatkanku dari kebosanan.
Tapi setelah isi kepala Feyre udah ga terlalu
nyebelin, asli ceritanya bagus dan seru banget. Menegangkan dan penuh intrik,
menggoda banget (atau lebih tepatnya aku tergoda sama Rhysand wkwk LOL). Karakter
Feyre juga berubah dari tukang depresi yang sering muntah jadi heroine badass. Damn I love it. Tapi menurutku
Sarah J. Maas terlalu jahat sama karakter Tamlin (honestly I can fully
understand why he did what he did, don’t worry I still love you Tamlin), kenapa
pula dia dibikin jadi penjahat, plis deh dia ga sejahat itu.
Novel ini juga berhasil bikin aku
berderai-derai air mata pas pertama kali bacanya, terutama bagian Rhysand
mengungkapkan pengorbanan dia selama ini buat Feyre pas mereka di kabin. Setelah
itu... yaaa baca sendiri wkwk. Oh, adegan dewasa di buku ini banyak banget,
tapi asal baca versi terjemahannya sih ga masalah. Wong banyakan diperhalus
kata-katanya, jadi biasa aja. Beda sama versi asli bahasa Inggis yang WAOW banget
pas adegan itu.
Overall, ini buku keren banget sumpah. Tapi ya
itu, pemilihan kata terjemahannya masih sama kaya ACOTAR, agak kurang pas dan ada
beberapa typo penulisan. Bagi yang
belum baca buku pertamanya, bisa baca reviewku di Book Review : A Court of Thorns and Roses (ACOTAR). Aku kalo bikin review
selalu berusaha minim spoiler kok
kalo pas ga kelepasan (LOL). Aku udah ga sabar nunggu buku ketiganya terbit,
walaupun aku udah baca lewat ebook bahasa Inggrisnya sih. Can’t wait!








0 comments:
Post a Comment