![]() |
| Rating : KKN di Desa Penari, 3.0 ★★★☆☆ |
Judul : KKN di Desa Penari
Pengarang : Simpleman
Editor : Sein Arlo
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit : September 2019
ISBN : 978-602-220-339-9
Saat
motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu
dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah
menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama music
gamelan yang ditabuh cepat.
Siapa
yang menari di malam gulita seperti ini?
Tiga
puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang
meski temaram bisa dilihat dengan jelas oleh mata.
“Mbak…
kita sudah sampai di desa.”
Cerita KKN di Desa Penari yang viral banget
di Twitter beberapa minggu lalu ini akhirnya diterbitin jadi novel. Kisah ini
konon katanya berdasarkan pengalaman nyata mahasiswa salah satu universitas di
Surabaya yang melaksanakan KKN pada tahun 2009 di desa ujung timur pulau Jawa,
sebut saja Kota B (terkenal banget), setelah kejadian ini menurut beberapa
orang kegiatan KKN di universitas bersangkutan sempat dihentikan selama 2
tahun. Awalnya diceritakan oleh akun @SimpleM81378523 lewat twit bersambung di Twitter, lalu mulai
viral dan dibahas di beberapa vlog
seleb Indonesia.
Aku pertama kali baca cerita ini di Twitter
sebelum viral, aku merinding banget dan berasa banget efek “nyata”-nya, aku
bacanya pas malem-malem juga sih, haha. Tapi emang pas baca itu aku merasa
kalau cerita ini emang beneran terjadi entah kenapa. Waktu itu aku baca pertama
kali dari sudut pandang Widya, emang agak bingung sih. Tapi setelah baca versi
Nur jadi paham dan seremnya bertambah banget. Itu pas aku baca versi Twitter-nya
ya, bukan versi novelnya. Sekarang mari bahas resensi novelnya. Warning, it contains SPOILER!
Pas pertama kali baca novelnya aku ngerasa
kayaknya bakalan banyak yang diubah, dari paragraf pertama aja udah beda,
karena di Twitter ga ada bagian awalan seperti di novel. Hal-hal yang diubah
tentu bahasanya, karena versi Twitter kebanyakan percakapan pakai bahasa Jawa Suroboyonan yang ada terjemahannya,
sedangkan di novel sebagian besar sudah langsung diterjemahkan. Ada juga
tokoh-tokoh baru dan kejadian baru. Misalkan untuk bab awal ketika Widya
bercakap-cakap dengan Bu Anggi selaku pengawas lapangan untuk tim KKN Widya,
dimana sebelumnya tidak ada cerita itu di versi Twitter. Ada juga kejadian mistis
yang Widya alami pertama kali, yaitu ketika perjalanan dari jalan utama menuju
desa lokasi KKN dengan menempuh motor yang menurut teman-teman Widya hanya
memakan waktu 30 menit, namun menurut Widya sudah terasa berjam-jam. Didalam novel
tidak disebutkan mengenai hal itu, Widya merasa memang perjalanan memakan waktu
30 menit sama seperti perkiraan teman-temannya.
Dari situ aku udah merasa aneh sih, masa iya yang
katanya berdasarkan kisah nyata ketika dijadikan novel ceritanya bisa beda. Menurutku
sebagian kisahnya ketika diceritakan ulang di dalam novel malah ada yang
berkebalikan. Misalnya kalau versi Twitter kawaturih
(mahkota) yang ingin Bima berikan kepada Widya bertujuan untuk pelet (membuat seseorang jatuh cinta melalui
ilmu gaib), namun di versi novelnya kawaturih
ini ingin diberikan Bima kepada Widya dengan tujuan untuk menyelamatkan Widya
dari lelembut karena sebelumnya Bima bermimpi jika Widya dikerumuni banyak ular
hijau. Beda banget kan.
Ga cuma itu aja, cerita versi Twitter saat
bagian akhir diceritakan bahwa Bima terlihat oleh Widya sedang mandi di sendang
yang dikerumuni banyak ular hijau. Ular-ular tersebut adalah anak-anak Bima
hasil hubungannya dengan Badarawuhi sebagai siluman ular. Namun pada versi
novel, justru Bima diharuskan menikah dengan anak-anak Badarawuhi (entah siapa
bapaknya) yang berwujud ular hijau yang berada di sendang sedang mengelilingi
Bima tersebut. Jadi kalo di Twitter, kawinnya sama Badarawuhi, versi novel
kawinnya sama anaknya Badarawuhi, gitulah pokoknya.
Sudut pandang masih sama, ada versi sudut
pandang Widya pada bagian awal, dilanjutkan sudut pandang Nur. Ada epilog juga saat Nur mengunjungi guru
spiritualnya saat berada di pesantren. Ada satu salah tulis seingetku, yang harusnya 30 menit jadi 3 menit dibagian awal cerita. Secara garis besar sih ceritanya masih
sama seperti di Twitter, tapi ada beberapa yang diubah, sebagian seperti yang
aku sebutin diatas. Sejujurnya sebagai pembaca yang pernah baca kisah ini
sebelumnya di Twitter lalu baca novelnya, aku kok malah jadi ragu ya kalau ini
kisah nyata. Terlalu banyak yang diubah, yang malah jadi meragukan. Kalau ini
berdasarkan kisah nyata kenapa bisa beda cerita dan mesti diubah, toh kisah
awalnya udah cukup serem dan menarik. Aku gamau sotoy juga sih, mungkin (bisa
jadi) berdasarkan kisah nyata sebesar sekian persen, gitu kali. Agak maksa sih kalo menurutku versi novel ini. Mungkin kalo dibikin novel yang entirely different tapi dengan ide yang sama bakalan lebih menarik. Kurang worth it aja gitu beli buku yang (menurutku) mahal dengan cerita yang 95% isinya sama dan pernah beredar secara free di Twitter.
Nyata atau fiktif, semua tergantung pembaca
apakah ingin percaya atau tidak. Kalo ceritanya dirasa ga masuk akal, ya namanya (katanya) hal-hal gaib banyak kan yang ga bisa di nalar. Untuk hal-hal gaib sendiri aku percaya karena didalam
kitab memang ada, tapi untuk kisah KKN di Desa Penari ini aku ga terlalu ambil
pusing mikirin real atau enggaknya. Yang
jelas kisahnya cukup menghibur bagi penyuka cerita mistis (yang belum pernah baca sebelumnya). Diambil aja hikmaknya menurutku, selalu menghormati adat dan jangan melanggar norma. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, more or less.


















