![]() |
Stay home, stay safe
|
Awal tahun 2020 disambut dengan wabah
penyakit. Sungguh awal tahun yang berat. Bukannya mengeluh, tapi wabah ini
bener-bener mengubah banyak aspek kehidupan sehari-hari, banyak merenggut
orang-orang terkasih, semakin menambah beban berat kehidupan. Sempat merasa
tenang awalnya karena di Indonesia “telat” kemasukan wabahnya, tapi merasa was-was
juga, apa iya bener-bener ga ada atau belum terdeteksi?
Nah kan, awalnya dimulai dari 2 orang yang
terinfeksi pertama kali gara-gara nge-dance
sama orang Jepang positif COVID-19 , lalu bergulir kesana kemari yang berujung
pada ribuan orang lainnya, ditambah kasus impor, penyakit kok diimpor. Sebisa mungkin
pemerintah mengendalikan wabah ini dengan berbagai kebijakan, mulai dari social distancing, meliburkan pegawai
dan karyawan, membatasi kerumunan, menggalakkan pola hidup bersih (harusnya sih
masyarakat udah sadar dari dulu), penyemprotan desinfektan, rapid test Corona, sampai lockdown.
Tapi apalah arti semua itu kalo disepelekan
dan masyarakatnya masih banyak yang ngeyel, huh dasar. Kantor dan perusahaan
meliburkan karyawan biar bisa dirumah aman dari Corona, eh malah pada piknik ke
puncak sama menuhin pantai, mendingan mereka hanyut kelaut sekalian bersama
kebodohannya. Dasar manusia, kalo udah kena Corona terus nularin banyak orang
kan bikin repot pemerintah aja. Ada juga ODP (orang dalam pemantauan) Corona
yang dihimbau untuk tidak beraktifitas diluar rumah, malah klayapan ke mall, dasar egois. Dibilang jangan
membuat keramaian malah ngadain hajatan, gengsinya gabisa ditahan dulu apa? Kan
bisa catering yang udah terlanjur
dipesan dijadiin nasi bungkus terus dibagiin ke warga dari rumah-kerumah. Masih
bandel akhirnya hajatannya dibubarin paksa sama polisi kan? Mamam tuh! Kalo gak
bisa membantu pemerintah untuk meringankan wabah ini, plis jangan nambah-nambahin
beban lain.
Yang ga habis pikir, sama orang-orang yang
memanfaatkan kesempatan ditengah situasi darurat yang lagi desperate kaya gini. Masker sama hand sanitizer diborong terus dijual lagi dengan harga selangit
sampai petugas medis kesulitan buat dapetnya karena habis dipasaran. Sembako diborong
ditimbun sampai orang lain kesulitan, ga semua orang mampu membeli bahan pangan
dalam jumlah banyak, mereka juga butuh makan. Apa ga kasihan? Hati nurani sama
rasa kemanusiaannya udah digadain buat beli masker ya? Oh pantes. Tinggal tunggu
aja “Adzab Penimbun Masker Mati Kena Corona”, huh sebel.
Ada juga artis Youtuber kampret yang dari
dulu suka bikin konten ga guna, udah tau lagi wabah kaya gini, malah syuting dikompleks
perumahan bawa pasukan bikin keramaian. Sampai ditegor dilabrak warga-pun ga
digubrisnya, oalah mbak jangan menuhankan bayaran, rating, subscribers, dan
Adsense. Jadi public figure itu juga jadi panutan, tapi kok kamu malah
menyesatkan. Malu sama simbol agama yang kamu kenakan. Selain itu ada artis
sekaligus anggota DPR yang disaat wabah orang-orang sibuk mengisolasi diri
dirumah, dia malah liburan ke Eropa (yang
udah banyak terjangkiti Corona) bersama suami dan anak-anaknya. Giliran dikritik
malah ga terima, wakil rakyat macam apa. Macam gundulmu kui!
Tapi untungnya ga semua artis kelakuannya
kaya mereka yg aku sebutin tadi, masih banyak yang peduli. Menggerakkan fans, followers, dan teman-temannya
untuk berdonasi lalu disumbangkan kepada yang membutuhkan, terutama yang
berjuang di garda depan. Memberi contoh baik yang dapat diteladani. Syukurlah.
Ditengah wabah ini, yang bisa kita lakukan
adalah bahu-membahu saling menguatkan satu sama lain. Kita bisa membantu para
petugas medis yang bekerja di garda terdepan dengan seminimalnya berada
dirumah, mengisolasi diri sendiri agar tidak menambah jumlah korban terinfeksi.
Kalau ada rejeki lebih, bisalah kita menyumbang untuk membeli perlengkapan
medis seperti APD (alat perlindungan diri), handscoon,
masker, hand sanitizer, dll. Caranya
bisa donasi online di website resmi
yang kredibel, misalnya dari Yayasan Kita Bisa, disana banyak pilihan donasi
untuk membantu perlawanan Corona dalam berbagai aspek. Disana ada juga donasi
yang diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak bisa work-from-home, ibaratnya kalo ga kerja ya gabisa makan. Misalnya
para pekerja sektor informal seperti pedagang, ojek online maupun offline,
buruh, dan masyarakat lain yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya jika tidak
bekerja. Semoga mereka semua selalu dilindungi dari wabah ini, pekerjaan kalian
sangat membantu kami yang diisolasi.
Sambil nangis akutu nulis thread ini, khawatir dan takut ditengah
semua wabah ini. Sebenernya lebih takut sama orang-orang sekitar kalau sampai
terinfeksi daripada ketakutan terhadap diri sendiri. Khawatir sama mereka yang
tidak muda lagi, yang imunitasnya tidak sekuat muda-mudi. Tapi ga munafik sih,
aku sendiri juga takut kalo kena Covid-19 ini terus mati, pasti auto masuk neraka dengan amal
perbuatanku yang ga seberapa ini, apalagi dosa masih dimana-mana, belum jadi
nikah lagi (ignore this one LOL). Tapi
kalau memang sudah takdir ya mau bagaimana lagi, cuma bisa berdoa dan berikhtiar
agar kita semua terhindar dari wabah ini.
I know my writing seems too emotional and
judgemental towards everything, but hey I don’t give a damn. I’d like to thank
everyone, the meds on the front line, the government, and people who fought
this epidemic together, even a small act matters. And I thank God for the chance
to breath, to live until my time comes. To be honest this epidemic scared the
shit out of me, but maybe this way we would give a break to this tired earth, to
heal itself from our toxic we spread for eons, to make us remember and getting
closer to our Maker. My thoughts and prayers to us all, my deepest condolences to
everyone who lost the loved ones, I just hope this epidemic will be over soon,
and we will come out to a better world, a better self.














