Tuesday, September 24, 2019

Book Review : KKN di Desa Penari

Rating : KKN di Desa Penari, 3.0 ★★★☆☆
Judul : KKN di Desa Penari
Pengarang : Simpleman
Editor : Sein Arlo
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit : September 2019
ISBN : 978-602-220-339-9

Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama music gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat dengan jelas oleh mata.

“Mbak… kita sudah sampai di desa.”

Cerita KKN di Desa Penari yang viral banget di Twitter beberapa minggu lalu ini akhirnya diterbitin jadi novel. Kisah ini konon katanya berdasarkan pengalaman nyata mahasiswa salah satu universitas di Surabaya yang melaksanakan KKN pada tahun 2009 di desa ujung timur pulau Jawa, sebut saja Kota B (terkenal banget), setelah kejadian ini menurut beberapa orang kegiatan KKN di universitas bersangkutan sempat dihentikan selama 2 tahun. Awalnya diceritakan oleh akun @SimpleM81378523 lewat twit bersambung di Twitter, lalu mulai viral dan dibahas di beberapa vlog seleb Indonesia.

Aku pertama kali baca cerita ini di Twitter sebelum viral, aku merinding banget dan berasa banget efek “nyata”-nya, aku bacanya pas malem-malem juga sih, haha. Tapi emang pas baca itu aku merasa kalau cerita ini emang beneran terjadi entah kenapa. Waktu itu aku baca pertama kali dari sudut pandang Widya, emang agak bingung sih. Tapi setelah baca versi Nur jadi paham dan seremnya bertambah banget. Itu pas aku baca versi Twitter-nya ya, bukan versi novelnya. Sekarang mari bahas resensi novelnya. Warning, it contains SPOILER!

Pas pertama kali baca novelnya aku ngerasa kayaknya bakalan banyak yang diubah, dari paragraf pertama aja udah beda, karena di Twitter ga ada bagian awalan seperti di novel. Hal-hal yang diubah tentu bahasanya, karena versi Twitter kebanyakan percakapan pakai bahasa Jawa Suroboyonan yang ada terjemahannya, sedangkan di novel sebagian besar sudah langsung diterjemahkan. Ada juga tokoh-tokoh baru dan kejadian baru. Misalkan untuk bab awal ketika Widya bercakap-cakap dengan Bu Anggi selaku pengawas lapangan untuk tim KKN Widya, dimana sebelumnya tidak ada cerita itu di versi Twitter. Ada juga kejadian mistis yang Widya alami pertama kali, yaitu ketika perjalanan dari jalan utama menuju desa lokasi KKN dengan menempuh motor yang menurut teman-teman Widya hanya memakan waktu 30 menit, namun menurut Widya sudah terasa berjam-jam. Didalam novel tidak disebutkan mengenai hal itu, Widya merasa memang perjalanan memakan waktu 30 menit sama seperti perkiraan teman-temannya.

Dari situ aku udah merasa aneh sih, masa iya yang katanya berdasarkan kisah nyata ketika dijadikan novel ceritanya bisa beda. Menurutku sebagian kisahnya ketika diceritakan ulang di dalam novel malah ada yang berkebalikan. Misalnya kalau versi Twitter kawaturih (mahkota) yang ingin Bima berikan kepada Widya bertujuan untuk pelet (membuat seseorang jatuh cinta melalui ilmu gaib), namun di versi novelnya kawaturih ini ingin diberikan Bima kepada Widya dengan tujuan untuk menyelamatkan Widya dari lelembut karena sebelumnya Bima bermimpi jika Widya dikerumuni banyak ular hijau. Beda banget kan.

Ga cuma itu aja, cerita versi Twitter saat bagian akhir diceritakan bahwa Bima terlihat oleh Widya sedang mandi di sendang yang dikerumuni banyak ular hijau. Ular-ular tersebut adalah anak-anak Bima hasil hubungannya dengan Badarawuhi sebagai siluman ular. Namun pada versi novel, justru Bima diharuskan menikah dengan anak-anak Badarawuhi (entah siapa bapaknya) yang berwujud ular hijau yang berada di sendang sedang mengelilingi Bima tersebut. Jadi kalo di Twitter, kawinnya sama Badarawuhi, versi novel kawinnya sama anaknya Badarawuhi, gitulah pokoknya.

Sudut pandang masih sama, ada versi sudut pandang Widya pada bagian awal, dilanjutkan sudut pandang Nur. Ada epilog juga saat Nur mengunjungi guru spiritualnya saat berada di pesantren. Ada satu salah tulis seingetku, yang harusnya 30 menit jadi 3 menit dibagian awal cerita. Secara garis besar sih ceritanya masih sama seperti di Twitter, tapi ada beberapa yang diubah, sebagian seperti yang aku sebutin diatas. Sejujurnya sebagai pembaca yang pernah baca kisah ini sebelumnya di Twitter lalu baca novelnya, aku kok malah jadi ragu ya kalau ini kisah nyata. Terlalu banyak yang diubah, yang malah jadi meragukan. Kalau ini berdasarkan kisah nyata kenapa bisa beda cerita dan mesti diubah, toh kisah awalnya udah cukup serem dan menarik. Aku gamau sotoy juga sih, mungkin (bisa jadi) berdasarkan kisah nyata sebesar sekian persen, gitu kali. Agak maksa sih kalo menurutku versi novel ini. Mungkin kalo dibikin novel yang entirely different tapi dengan ide yang sama bakalan lebih menarik. Kurang worth it aja gitu beli buku yang (menurutku) mahal dengan cerita yang 95% isinya sama dan pernah beredar secara free di Twitter.

Nyata atau fiktif, semua tergantung pembaca apakah ingin percaya atau tidak. Kalo ceritanya dirasa ga masuk akal, ya namanya (katanya) hal-hal gaib banyak kan yang ga bisa di nalar. Untuk hal-hal gaib sendiri aku percaya karena didalam kitab memang ada, tapi untuk kisah KKN di Desa Penari ini aku ga terlalu ambil pusing mikirin real atau enggaknya. Yang jelas kisahnya cukup menghibur bagi penyuka cerita mistis (yang belum pernah baca sebelumnya). Diambil aja hikmaknya menurutku, selalu menghormati adat dan jangan melanggar norma. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, more or less.

4 comments:

  1. Hmm jdi mending bca thread di twit aj kali ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo mau baca di twitter atau beli novelnya langsung itu pilihan sih, tapi coba aja baca novelnya biar ga penasaran :D

      Delete
  2. dari awal aq gak percaya kalau ini 100% real story si, tp cukup lumayan ceritanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin cuma sekian persen yang real, lainnya dilebih lebihkan penceritaannya, gitu sih menurutku

      Delete