Sunday, July 28, 2019

Rep : Wandecrist Crate Juli 2019

Main bundle Wandecrist Crate bulan Juli

My long wait is over! Wandecrist Crate Chamber of Secrets is finally here! Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Selalu excited dan ga sabar kalo ada owl post yang ngirimin Wandecrist Crate. Saat unboxing #wandecristcrate itu selalu tercabik antara penasaran dan feeling magical. Bulan ini tema Wandecrist Crate adalah Chamber of Secrets, salah satu buku favorit nih!

Items yang ada di wandecrist Crate Juli
Dan bener aja, isinya sangat magical dan aku suka semua itemnya. Crate yang aku dapetin bulan ini isinya total ada 11 items (banyak banget kan!), isinya ada semua item dibawah ini ya :
·      Basilisk pendant
·      Mandrake plush
·      Floo powder aromatherapy candle
·      Tom Riddle’s diary
·      Moon bookmark
·      Howler letter
·      Gryffindor sword replica
·      Dobby magnetic bookmark
·      Fawkes magnetic bookmark
·      Chamber of Secrets bookmark
·      Chamber of Secrets fanart print

Aku bingung banget nentuin favorite item dari isi crate bulan ini. Tapi sepertinya aku jatuh cinta sama Mandrake plush doll, replika pedang Gryffindor, sama lilin Floo powder. Boneka Mandrakenya besar banget, 40cm tingginya, wow! Replika pedang Gryffindor ini juga pertama kali ada di subscription box Indonesia loh, eksklusif kan! Dan lilinnya, hmmm baunya enak banget dan sangat menenangkan.

Howler (dengan warna sesuai asrama) dan Floo Powder candle

Semua item yang aku sebutin diatas, bisa didapetin di paket main bundle ya yang harganya IDR 320.000 (berisi 6-8 items). Selain itu, ada juga jenis paket lain, ada little bundle yang berisi 4-6 items (IDR 210.000), yang terakhir paket paling ekonomis ada tiny bundle yang berisi 2-4 items (IDR 135.000). Jadi, pesan Wandecrist Crate ini bisa disesuaikan sama budget dan kebutuhan ya.

Untuk tema Wandecrist Crate bulan Agustus nanti adalah Prisoner of Azkaban, pssssst salah satu isinya ada tongkat sihir Sirius Black loh. Keren banget, buruan order sebelum kehabisan slot! Apalagi kamu juga bisa dapet potongan harga 10% dengan menggunakan kode rep-ku saat melakukan order. Caranya, tunjukkan kode WANDFIC10 kepada admin instagram @wandecrist melalui direct message (DM). Buruan save slot dulu sebelum kehabisan kuota, dijamin bulan depan isi Wandecrist Crate-nya epic abis!

Tuesday, July 23, 2019

Book Review : Kisah Tanah Jawa Jagat Lelembut

Rating : Kisah Tanah Jawa Jagat Lelembut, 4.2 ★★★★☆

Judul : Kisah Tanah Jawa Jagat Lelembut
Pengarang : Tim @kisahtanahjawa
Editor : Ry Azzura
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-979-780-944-7

Jagat lelembut atau dunia mahluk halus, sampai saat ini masih mendapatkan image mengerikan di mata banyak orang. Sosok-sosok didalamnya selalu digambarkan seram seperti halnya yang sering kita lihat di layar televisi. Belum lagi bumbu-bumbu yang sengaja dibuat dengan tujuan menakut-nakuti. Namun demikian, kita justru makin penasaran dengan keberadaan dunia “mereka”. Seperti apa sosok dan cerita para lelembut yang sebenarnya?

Seperti judulnya, buku ini membahas beragam bentuk dan spesies “mahluk halus” yang ada dibumi. Dilengkapi dengan ilustrasi gambar dan mantra untuk memanggil sebagian dari mereka, which I would never try thank you very much. Agak berbeda dari buku sebelumnya, Kisah Tanah Jawa, yang reviewnya bisa dibaca di blogku Book Review : Kisah Tanah Jawa dimana buku sebelumnya tidak hanya membahas tokoh “mahluk halus” nya saja tapi juga tempat, kisah, dan adat. Dibuku kali ini, tiap spesies dibahas lebih terperinci dan lengkap dengan kisah semasa hidup (jika pernah hidup) yang membuat mereka bisa menjadi lelembut. Spesies yang dibahas dibuku ini ada para pemegang kendali (lelembut top level), mba kunti, Mr.Poci, tuyul, setan rumah sakit, jin penunggu tempat, hantu impor (for real tho), dan masih banyak lagi.

Di awal buku ini dijelaskan apasih jagat lelembut itu, dan ada peringatan khusus bagi pembaca atas “efek samping” jika membaca buku ini, which makes it a lot creepier. Tapi ilustrasinya emang serem sih, asli. Apalagi aku orangnya imajinatif banget kan, setelah liat gambarnya imajinasiku langsung kemana-mana dan berasa liat mereka kemanapun aku pergi. But I’m not afraid, God also watch over me wherever I go, and my God is the One Almighty.

Peringatan untuk pembaca pada awal buku

Untuk “efek samping” yang ada di peringatan itu sendiri aku akuin aku emang sempet pusing pas baca buku itu siang-siang. Tapi jujur aja aku gatau itu karena bukunya atau karena efek aku kelaperan karena dari pagi belum makan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku langsung ibadah aja sih karena itu emang pas masuk waktu Dzuhur juga, terus aku makan banyak-banyak, abis itu ilang deh pusingnya. Entah karena buku atau karena laper, efek dari dua sebab itu berhasil terselesaikan, mwahahaha (LOL).

Satu kekurangan dibuku ini, ga ada daftar isinya. Aku ga ngerti emang sengaja ga dikasih daftar isi dengan tujuan tertentu apa gimana ya. Agak nyusahin sih menurutku, kan ini kumpulan cerita gitu, banyak sub-bab nya, alangkah lebih berpahala kalo dikasih daftar isi untuk mempermudah mencari topik tertentu. Kan kalo mempermudah orang nanti hidupnya bakalan dipermudah juga sama Tuhan, begitu juga sebaliknya, gitu lho tim @kisahtanahjawa hehehe.

Apa ya, aku gabisa banyak berkata-kata. Selain satu kekurangan yang aku sebutin diatas, buku ini emang terlalu menarik buat dilewatkan dan tujuan utamanya adalah membuat kita waspada dan berhati-hati dengan keberadaan mereka. Buku ini menurutku ga bakalan mudah tersingkirkan, meskipun udah pernah baca, tapi tetep menarik untuk dibaca ulang. Good job buat tim @kisahtanahjawa yang cukup berhasil bikin aku tengok kanan kiri pas baca ini, so creepily fun!

Book Review : Kisah Tanah Jawa

Rating : Kisah Tanah Jawa, 4.0 ★★★★☆

Judul : Kisah Tanah Jawa
Pengarang : Tim @kisahtanahjawa
Editor : Ry Azzura
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-979-780-933-1

Tanah Jawa menyimpan banyak kisah misteri yang takkan habis diceritakan dalam semalam. Sosok misterius, ritual mistis, dan tempat angker, selalu membuat kita penasaran. Buku Kisah Tanah Jawa mengajak pembaca membuka selubung mitos dan mistis yang selama ini hanya menjadi kasak-kusuk di masyarakat.

Buku ini cocok banget buat bacaan ringan bagi yang suka cerita mistis dan hal-hal gaib. Kalo boleh jujur ya, keberadaan “mahluk lain” atau hal gaib itu merupakan salah satu topik paling favorit kedua buat diomongin pas lagi ngumpul-ngumpul, yang pertama adalah ngomongin orang lain tentunya, hahaha (LOL). Tapi seriusan deh, buku ini menarik banget buat dibaca dan bikin keinget terus sama kisah yang diceritain.

Yang aku suka dari buku ini, dia memberikan pengetahuan tentang hal-hal diluar panca indera kita yang mungkin ga bisa dijelaskan secara nalar. Yang jelas buku ini selalu mendorong pembaca untuk selalu ingat dan beriman sama Tuhan Yang Maha Esa apapun agama kita, karena cuma Tuhan yang bisa melindungi kita. Aku percaya sama sesuatu yang gaib, karena memang ada dan di kitab sucipun sudah dijelaskan. Cuma kan kebanyakan orang sekarang terlalu mengandalkan logika dan ilmu pengetahuan, jadi mungkin ada beberapa orang yang skeptis mengenai hal-hal gaib. Tapi, dengan adanya pengetahuan ini jangan sampe kita terlalu fokus sama “mahluk-mahluk” itu dan malah lupa sama kewajiban kita sebagai orang yang beragama, apalagi sampe minta pertolongan dan bersekutu sama mereka, nauzubillahiminzalik.

Buku ini juga berhasil megubah sudut pandangku soal adat-adat Jawa atau kejawen yang ternyata selama ini salah aku pahami. Sebagai orang Jawa asli dan hidup di wilayah Surakarta yang kental banget adat Jawa-nya, kejawen bukan hal asing lagi. Tapi asal-muasalnya dan pemahaman yang selama ini beredar udah salah kaprah banget, padahal ada nilai-nilai filosofis yang tujuannya mulia untuk mengimani Tuhan Yang Maha Esa. Di buku ini bener-bener dikupas tuntas soal kejawen ini.

Selain itu, diceritakan juga mengenai fenomena-fenomena gaib yang banyak menjadi isu di masyarakat. Seperti bangunan angker, pelet, pesugihan, santet atau teluh, dan beberapa kisah mistis yang pernah dialami masyarakat. Semua itu tujuan utamanya adalah mengingatkan kita untuk selalu waspada dan ingat dengan Tuhan dimanapun kita berada. Baca buku ini bagusnya pas siang hari ya, biar malemnya bisa tidur dan ga kebayang-bayang terus, haha. Aku bukan orang yang penakut sih, tapi pernah baca pas malem hari tetep aja ketar-ketir sering tengok kanan kiri.

Kekurangan di buku ini, kadang penulis menuliskan nama secara tiba-tiba dan membuatku bingung itu tokoh yang mana karena suka kebalik-balik sama tokoh lain. Misalkan di bagian cerita berjudul Tanjakan Emen, nah aku ga ngerti ini si “Emen” yang dimaksud disini nama desa atau nama orang. Di bagian narasi cerita ini dituliskan kejadian masa kini baru diceritain kisah masa lalunya. Nah disini ada orang yang mobilnya macet di tanjakan terus ditolongin sama bapak tua.

Konon katanya mobil kami mogok karena ulah mahluk tak kasat mata yang ada disana. Sosok tersebut adalah sosok yang pernah aku lihat di semak-semak dan konon yang menyebabkan Pak Emen kecelakaan dulu.
 Yang bikin aku bingung. Aku gatau pak Emen yang dimaksud disini bapak tua yang nolongin itu namanya Emen, atau ternyata ditolongin sama hantunya Pak Emen. Baru paham setelah baca beberapa kali, karena dikutipan diatas itu pertama kalinya disebut nama Emen dan aku ga paham dia siapa karena kebalik sama si bapak tua. Bingung? Baca sendiri saja ya. Ada ilustrasinya juga yang bisa membuat imajinasi membayangkan hal-hal seram yang bikin ga bisa tidur, banyak kutipan mantra juga yang ga aku baca daripada keinget terus dan bisa bikin ga sengaja ngundang setan, duh amit-amit.

Buku ini highly recommended buat bacaan dikala senggang, sangat menyegarkan setelah sekian lama baca novel fiksi high fantasy terus-terusan. Tim @kisahtanahjawa juga udah nerbitin buku keduanya, bisa dibaca reviewnya di blogku juga Book Review : Kisah Tanah Jawa Jagat Lelembut yang berisi penjelasan spesies jin-jin dan setan yang ada di muka bumi.

Sunday, July 14, 2019

Recipe : Home Made Crispy Churros

Hasil olahan resep Churros ala rumahan

Churros ini adalah salah satu camilan favoritku. Churros sendiri adalah makanan yang berasal dari negara Spanyol dan Portugis, biasanya dimakan saat sarapan atau bisa juga buat camilan. Masih satu keluarga sama donat sih sebenernya, sebutan lainnya adalah donat Spanyol. Bikinnya gampang dan bahannya mudah didapat. Sempet ngehits juga kan beberapa waktu lalu, tapi aku jarang banget beli Churros diluar. Lebih enak dan hemat bikin sendiri, ga sampe sejam juga udah siap santap. Pertama kali bikin Churros itu ga langsung berhasil, sempet beberapa kali trial and error baru bisa dapet takaran yang pas. Nah kali ini aku pengen share resep Churros yang gampang anti gagal versi Rika (rasanya enak kok, wkwk).

Bahan adonan :
·      150 ml susu cair full cream
·      50 gr margarine
·      1 1/2 sdm gula pasir
·      1/4 sdt garam
·      1 bungkus (1 gr) vanilli bubuk
·      80 gr tepung terigu, disaring
·      1 butir telur ayam

Topping :
·      1 1/2 sdm gula halus
·      1/2 sdt kayu manis bubuk
·      Cokelat cair khusus topping

Alat :
·      Panci anti lengket (panci biasa juga bisa)
·      Sendok kayu
·      2 lbr piping bag (kantong plastik segitiga)
·      Spuit bentuk bintang
·      Gunting

Cara membuat :
1. Masukkan susu cair, margarine, gula, garam, dan vanilli kedalam panci dan panaskan di atas kompor dengan api kecil hingga margarine cair dan meletup-letup, lalu matikan kompor.
2. Masukkan tepung terigu ke dalam panci lalu aduk dengan sendok kayu hingga mengental. Jika dirasa masih terlalu lembek, bisa dipanaskan sebentar hingga agak kalis. Sisihkan adonan hingga dingin.
3. Setelah adonan dingin, kocok telur lalu campur kedalam adonan, aduk hingga merata.
4. Masukkan adonan kedalam piping bag, potong bagian ujung lalu letakkan spuit bentuk bintang diujung yang telah dipotong. Setelah itu masukkan kembali ke piping bag kedua.
5. Panaskan minyak pada wajan penggorengan dengan api sedang, cetak adonan yang telah dimasukkan ke dalam piping bag, potong adonan dengan gunting jika panjangnya sudah mencapai kurang lebih 10cm atau sesuai selera.
6. Goreng Churros hingga berwarna keemasan, lalu angkat dan tiriskan. Letakkan Churros pada piring saji.
7. Campur gula halus dengan kayu manis bubuk, lalu taburkan pada Churros. Bisa disajikan dengan topping cokelat atau topping lain sesuai selera.

Gampang banget kan? Bikin Churros ini ga ribet dan ga pake lama. Oh, bagi yang ga suka atau alergi susu, bisa diganti pake air mineral dengan takaran yang sama ya. Gula pasir dan garam juga bisa disesuaikan selera aja, dan bagi yang ga punya spuit bisa dicetak pake plastik langsung, tapi hasilnya kurang terlalu cantik sih dan kurang crispy. Churros ini enak juga dijadiin camilan sambil ngopi cantiiiiik. Selain itu bebas sih bisa dimakan kapanpun, selamat mencoba semoga berhasil!

Saturday, July 6, 2019

Book Review : A Court of Mist and Fury (ACOMAF)

Rating : A Court of Mist and Fury, 4.5 ★★★★☆

Judul : A Court of Mist and Fury
#2 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-542-9

Selamat dari cengkeraman Amarantha, Feyre pun kembali ke negeri Tamlin meski dengan beban yang harus ditanggungnya. Walaupun kini ia mewarisi kekuatan Peri Agung, hatinya tetap manusia, dan itu tidak bisa menebus rasa bersalah atas perbuatannya demi menyelamatkan Tamlin serta seisi Negeri Musim Semi.

Feyre juga masih berutang janji kepada Rhysand, sang Tuan Agung Negeri Malam. Mau tidak mau ia terlibat dalam politik yang gelap, bergairah, dan begitu memesona. Hingga lagi-lagi Feyre menjadi kunci untuk menghentikan kejahatan di dunia peri Prythian yang terlanjur terpecah.

Pokoknya buku kedua ini SERU BANGET! Serunya pas mulai dapet beberapa chapter sih, karena di chapter awal-awal aku pusing bacanya, sungguh. Kebanyakan nyeritain isi kepala Feyre yang lagi depresi setelah ending di buku pertama, which is so annoying. Berasa ikutan depresi akutu. Hanya kelakuan Rhysand yang bisa menyelamatkanku dari kebosanan.

Tapi setelah isi kepala Feyre udah ga terlalu nyebelin, asli ceritanya bagus dan seru banget. Menegangkan dan penuh intrik, menggoda banget (atau lebih tepatnya aku tergoda sama Rhysand wkwk LOL). Karakter Feyre juga berubah dari tukang depresi yang sering muntah jadi heroine badass. Damn I love it. Tapi menurutku Sarah J. Maas terlalu jahat sama karakter Tamlin (honestly I can fully understand why he did what he did, don’t worry I still love you Tamlin), kenapa pula dia dibikin jadi penjahat, plis deh dia ga sejahat itu.

Novel ini juga berhasil bikin aku berderai-derai air mata pas pertama kali bacanya, terutama bagian Rhysand mengungkapkan pengorbanan dia selama ini buat Feyre pas mereka di kabin. Setelah itu... yaaa baca sendiri wkwk. Oh, adegan dewasa di buku ini banyak banget, tapi asal baca versi terjemahannya sih ga masalah. Wong banyakan diperhalus kata-katanya, jadi biasa aja. Beda sama versi asli bahasa Inggis yang WAOW banget pas adegan itu.

Overall, ini buku keren banget sumpah. Tapi ya itu, pemilihan kata terjemahannya masih sama kaya ACOTAR, agak kurang pas dan ada beberapa typo penulisan. Bagi yang belum baca buku pertamanya, bisa baca reviewku di Book Review : A Court of Thorns and Roses (ACOTAR). Aku kalo bikin review selalu berusaha minim spoiler kok kalo pas ga kelepasan (LOL). Aku udah ga sabar nunggu buku ketiganya terbit, walaupun aku udah baca lewat ebook bahasa Inggrisnya sih. Can’t wait!

Book Review : A Court of Thorns and Roses (ACOTAR)

Rating : A Court of Thorns and Roses, 4.0 ★★★★☆

Judul : A Court of Thorns and Roses
#1 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018 di Indonesia
ISBN : 978-602-455-284-8

Ketika Feyre—seorang perempuan pemburu—membunuh serigala di hutan, mahluk serupa binatang buas datang mencarinya untuk menuntut pembalasan. Feyre disandera di tanah magis berbahaya yang hanya pernah didengarnya dari legenda. Dia pun mengetahui bahwa mahluk itu bukanlah seekor hewan, melainkan Tamlin, peri agung abadi yang pernah menguasai dunia fana.

Perasaannya terhadap Tamlin berubah dari permusuhan dingin menjadi api yang membakar setiap cerita menyeramkan yang pernah didengarnya tentang dunia peri. Namun, kesuraman semakin menaungi dunia itu, dan Feyre harus bisa menghentikannya... atau malapetaka akan menimpa Tamlin dan dunianya selama-lamanya.

Awalnya ga pengen ngereview novel ini karena aku udah baca pas pertama kali terbit hampir setahun yang lalu. Tapi karena aku suka banget, dan novel ketiganya mau terbit, alhasil memutuskan untuk ngereview sajalah. Novel ini adalah novel young adult pertama yang bikin aku gabisa move on dan hangover berhari-hari. Pas itu lumayan merana karena buku keduanya belum terbit di Indonesia, penasaran banget sumpah.

Novel ini mengambil sudut pandang pelaku utama, Feyre, seorang manusia fana. Retelling kisah Beauty and the Beast ini menurutku cukup berhasil, dengan mengubah banyak hal seperti adanya fae, sihir, wabah, adanya orang ketiga (aheemm my darling Rhysand), dan menambah kadar romance dewasa yang ulalaaa (terlarang bagi yang belum 17+ biar ga pengen). Latar cerita ini berada di pulau Prythian, negeri yang dikuasai para High Lords (tuan agung kalo diterjemahannya, which is kind of awkward) disebelah utara, dan desa manusia fana disebelah selatan. Mereka dibatasi tembok pelindung magis (the wall) agar selalu terpisah. Para manusia ini takut akan peri karena mitos-mitos yang beredar adalah mereka mahluk yang kejam. Singkat cerita (karena gamau spoiler juga), alurnya mirip Beauty and the Beast deh pokoknya, tapi 100% lebih seru karena lebih banyak konflik dan pertokohan yang lebih kompleks.

Pas awal-awal baca, mungkin alurnya agak lambat, tapi aku enjoy banget ko pas bacanya, tetep menarik kisahnya buat diikutin. Kekurangan di novel ini, pemilihan kata terjemahannya agak kurang pas ya menurutku di beberapa bagian. Sangat berbeda arti dari kalimat asli bahasa Inggrisnya. Selain itu penerjemah menyoba menyensor kalimat-kalimat pada adegan dewasa yang ada di novel ini (biar ga terlalu vulgar, maybe) tapi jatohnya malah aku sebagai pembaca gatau mereka itu lagi ngapain. Pemilihan katanya mengganggu sekali dan mengurangi esensi kalimat. Setelah selesai baca novel terjemahannya, aku langsung baca ebook bahasa Inggrisnya, dan baru paham apa yang dimaksud sebenernya. Jujur, baca novel ini menurutku ceritanya jadi lebih bagus pas baca versi bahasa Inggrisnya. Aku jadi lebih paham sama isi ceritanya. Padahal biasanya aku ga masalah baca versi terjemahan.

Tapi biar bagaimanapun, novel ini worth it buat dibaca. Kisahnya seru dan banyak plot twist yang aduhai. Aku suka semua tokoh yang ada di novel ini, terutama Rhysand dan Lucien. Buku keduanya, A Court of Mist and Fury jauh lebih seru lagi ceritanya dari buku pertama. Bakalan aku review di Book Review : A Court of Mist and Fury (ACOMAF). Trilogi Sarah J. Maas ini pokoknya keren banget, bikin aku fangirling level akut, udah tak tertolong lagi.

Book Review : Memoirs of a Geisha

Rating : Memoirs of a Geisha, 4.8 ★★★★★

Judul : Memoirs of a Geisha
Pengarang : Arthur Golden
Penerjemah : Listiana Srisanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2002 di Indonesia
ISBN : 978-602-03-3769-2

Kisah Sayuri bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929, ketika sebagai anak perempuan berusia Sembilan tahun, dengan mata biru-kelabu yang luar biasa, dia dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Tidak tahan dengan kehidupan di rumah itu, dia berusaha melarikan diri. Tindakan itu membuat dia terancam menjadi pelayan seumur hidup. Saat meratapi nasibnya di tepi Sungai Shirikawa, dia bertemu Iwamura Ken. Di luar kebiasaan, pria terhormat ini mendekati dan menghiburnya. Saat itulah Sayuri bertekad akan menjadi geisha, hanya demi mendapat kesempatan bertemu lagi dengan pria itu suatu hari nanti.

Mungkin review ini agak kurang relevan karena novel ini udah terbit lama banget, dan filmnya pun udah ada, tapi bodo amat pokoknya pengen bikin review karena aku suka banget (LOL). Ini adalah salah satu novel non-fantasi favoritku, asli bagus banget. Melalui novel ini sedikit banyak aku jadi tau mengenai budaya Jepang, terutama seni menjadi geisha. Penulisnya sendiri pun, Arthur Golden, ga asal-asalan dalam menulis novel ini. Dia melakukan research di Jepang dengan narasumber beberapa Geisha. Jadi meskipun ini sebuah novel, sedikit banyak isinya merupakan kebenaran dan kabarnya sih merupakan kisah hidup salah satu geisha terkenal, Mineko Iwasaki.

Novel ini dikisahkan dalam sudut pandang Sayuri, tokoh utama disini. Alurnya merupakan flashback, dimana Sayuri menceritakan kisah hidupnya dimulai saat masih tinggal di Yoroido sebagai si kecil Chiyo. Latar novel ini bermula di desa nelayan Yoroido, dan hampir setelahnya kebanyakan berlatar di distrik Gion, Kyoto yang menjadi tempat Chiyo belajar menjadi geisha setelah dijual oleh orang tuanya. Diceritakan juga sedikit hidup Sayuri saat tinggal di New York, Amerika pada bagian akhir kisah.

Memoirs of a Geisha sudah di filmkan pada tahun 2005 dengan judul yang sama, dan mendapat berbagai nominasi dan memenangkan 3 penghargaan Academy Awards. Film ini diperankan oleh tokoh-tokoh terkenal seperti Ziyi Zhang, Michelle Yeoh, Gong Li, dan Ken Watanabe yang memerankan Sayuri, Mameha, Hatsumomo, dan Iwamura Ken secara berturut-turut. Menurutku filmnya cukup bagus dan ceritanya secara garis besar sesuai sama novelnya, meskipun ada beberapa bagian pada novel yang ga ikut diceritakan dalam film. Aktris Michelle Yeoh juga menurutku terlalu tua untuk memerankan Mameha yang diceritakan masih berusia 16 tahun. Selain itu, proses Sayuri menjadi Geisha di film terlalu gampang, padahal di novelnya banyak konflik dan rintangan, karena menjadi geisha tidak semudah itu Ferguso (LOL).

Pas baca novel ini aku  gapernah terserang penyakit “bosan” apalagi tanda-tanda DNF. Terlalu bagus dan bikin penasaran. Mungkin karena banyak hal-hal baru di novel ini yang sebelumnya aku ga tau, perbedaan budaya juga menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. Mempelajari seni menjadi geisha yang misterius dan rahasia meskipun hanya melalui novel. Gaya penceritaan juga mudah dipahami meskipun banyak detail, justru menurutku karena detail itulah aku bener-bener bisa membayangkan keadaan dan menggambarkan gimana situasi saat itu. Budaya dan adat kebiasaan masyarakat Jepang terutama di distrik hiburan geisha saat perang dunia II terlalu menarik untuk dilewatkan.

Banyaknya nominasi dan penghargaan yang diperoleh novel ini ternyata ga lepas dari kontroversi. Seperti yang aku sebutin di paragraf awal, novel ini mengambil model utama geisha Mineko Iwasaki dalam hal perjalanan hidup. Sebelumnya Arthur Golden setuju untuk merahasiakan keterlibatan Mineko dalam pembuatan novel ini, namun di bagian acknowledgement dan beberapa wawancara justru Golden menyebut nama Mineko, yang berbuntut penghianatan dan dibawa ke pengadilan. Mineko juga menyebutkan bahwa Golden mengubah dan mengarang beberapa ritual dalam menjadi geisha, tidak sesuai dengan budaya Jepang yang sesungguhnya dan apa yang telah diceritakan mineko, yang malah membuatnya terkesan negatif.

Salah satunya adalah ritual mizuage didalam novel yang dijelaskan bahwa untuk menjadi geisha sepenuhnya, seorang maiko (geisha magang) harus menjual keperawanannya kepada penawar tertinggi, padahal pada kenyataannya tidak ada ritual seperti itu. Oleh karena hal ini, Mineko Iwasaki banyak mendapat ancaman kekerasan dan kematian, juga ia dijauhi oleh teman-teman dan komunitas geisha karena telah membocorkan banyak hal tentang dunia geisha yang sepantasnya tetap menjadi misteri dan tidak diketahui publik. Untuk meluruskan hal ini, Mineko Iwasaki akhirnya menulis autobiografi yang berjudul Geisha of Gion yang menceritakan kisah hidupnya yang sesungguhnya.

Terlepas berbagai kontroversi diatas, novel ini tetap bagus dan menarik untuk dibaca. Tapi, jangan menjadikan novel ini sebagai acuan pengetahuan mengenai dunia geisha yang sesungguhnya. Dalam novel ini banyak banget kisah sosial dan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga hal-hal mengenai budaya Jepang yang ternyata sangat menarik. Aku udah reread novel ini berkali-kali dan gapernah bosen bacanya. Salah satu novel yang menurutku a must read, dan wajib dipunyai.

Friday, July 5, 2019

I'm a Proud Slytherin

My Slytherin-themed collection
“...or perhaps in Slytherin. You’ll make your real friends. Those cunning folk use any means to achieve their ends.” The Sorting Hat
Hal pertama yang jadi stereotype orang ketika denger kata Slytherin pasti jahat, licik, haus kekuasaan, pengguna sihir hitam, dan lain-lain. Well here’s the thing, I don’t mind with all of those bullshits. People has the right to make opinions, so I have the right to think it’s fucking stupid. We’re not a bad people. We’re like our emblem, the serpent : sleek, powerful, and frequently misunderstood. Ketika pertama kali nyobain sorting hat di Pottermore dan dapet Slytherin, reaksiku biasa aja, karena aku selalu tau kalau aku masuk Hogwarts pasti bakalan ditempatin di Slytherin, and I’m proud of it, always. Apalagi kebanyakan member asrama Slytherin pure-blood kan, and... ahem... I’m also a pure-blood.

Tokoh Slytherin favoritku adalah Severus Snape, okay he’s a bully and annoying, but he’s also brave and loyal. Ga semua tokoh Slytherin itu jahat ko, banyak juga tokoh hebat yang dulunya asrama Slytherin kaya Merlin the Great, Horace Slughorn, Leta Lestrange, sama Regulus Black. Oh, and I have a huge crush on Draco Malfoy, I mean who doesn’t?

Slytherin vibes

Another coincidence of being a Slytherin, aku dari dulu selalu suka warna emerald green, dan hitam (I wear black most of the time). Apalagi aku tu punya resting bitch face yang selalu keliatan galak sepanjang waktu, and I only speak sarcasm. Cocok banget pokoknya aku masuk Slytherin. Tapi  ga semua hal tentang Slytherin aku setuju gitu aja, apalagi tokoh-tokoh di serial Harry Potter digambarin mereka itu selalu curang dalam hal apapun, terutama saat Quidditch. Kalo aku punya temen sebangsa Marcus Flint, Crabbe, Goyle, Pansy Parkinson, aku pasti ga tahan, I’d like to put my fists on their nasty faces.

Hal lain yang aku suka dari Slytherin, asramanya yang ada di dungeon dibawah danau itu menurutku unik dan pasti seru banget tidur berasa dibawah air sambil liat cumi-cumi raksasa, sejuk dan cozy. And potions, my favorite lesson with my favorite Professor Snape. Hey, in conclusion, we’re the Slytherins aren’t necessarily evil, only being evil when it’s necessary of course.

Wednesday, July 3, 2019

The Twilight Saga : Book Vs Movie Villain Comparison

Twilight Saga by Stephenie Meyer

Setelah sebelumnya aku bikin post The Twilight Saga : Book Vs Movie Character Comparison yang isinya tokoh protagonis, sekarang aku mau bikin versi villain-nya. Sebuah cerita tentunya ga lengkap dong tanpa tokoh jahat, tapi di Twilight universe ini villain-nya ga banyak, dan tokohnya pun sebenernya tergolong abu-abu dan kurang greget untuk disebut jahat. Yah, gimanapun mari kita bahas satu-satu.

James
James portrayed by Cam Gigandet
James ini pertama kali diperkenalkan di buku pertama, Twilight, itupun dibagian hampir akhir. Porsinya dikit banget, cuma sebagai pelengkap biar ada konfliknya aja sih menurutku. James ini vampire nomaden yang punya kemampuan “pelacak” atau tracker. Jadi dia gapernah meleset atau selalu berhasil menangkap buruannya, dan di Twilight yang jadi buruan adalah Bella. Cam Gigandet yang berperan jadi James ini ga terlalu mirip sama deskripsi James di buku. Terutama bagian rambutnya, di buku ilustrasi rambut James ga terlalu panjang buat bisa dikuncir kaya di film, tapi masih okelah.

Laurent 
Laurent portrayed by Edi Gathegi
Tim casting bener-bener messed up buat cari pemeran Laurent. Edi Gathegi yang meranin Laurent sama sekali ga mirip dengan deskripsi di buku. Laurent itu dideskripsiin “memiliki kulit sewarna zaitun” bukan totally black kaya di film. Ya mungkin cuma karakter sampingan, tapi ga gitu juga kali sembarangan banget casting-nya. Apalagi Laurent ini sebagai salah satu villain di New Moon kan, dan nantinya bakalan jadi akar permasalahan di Breaking Dawn. Ga ngerti lagi deh kenapa bisa di casting gitu.

Victoria
Victoria portrayed by Rachelle Lefevre and Bryce Dallas Howard

Pemeran Victoria ini sempat diperanin sama 2 orang aktris. Di film Twilight & New Moon, Victoria diperanin sama Rachelle Lefevre, di film Eclipse diperanin sama Bryce Dallas Howard. Menurutku dua-duanya cocok sih jadi Victoria, sama-sama punya rambut merah yang natural. Tapi di Eclipse rambut Bryce Dallas Howard dibikin lebih merah menyala biar cocok sama deskripsi Victoria yang “rambutnya tampak seperti kobaran api”.

The Volturi
The Volturi and Carlisle Cullen in painting by Solimena
Dibilang tokoh antagonis sebenernya mereka ga jahat sih, cuma terlampau ambisius dan berkuasa (dan licik). Dari ketiga tokoh Volturi utama, menurutku yang paling menyimpang pemilihan pemerannya cuma karakter Marcus yang diperanin Christopher Heyerdahl, menurutku aktornya terlalu tua dan not-so-vampire-alike. Kalo Aro yang diperanin Michael Sheen sama Caius yang diperanin Jamie Campbell Bower cocok banget sih. Sayangnya, klan Volturi yang ada gambar ilustrasinya cuma 3 tokoh tetua utama, tokoh lain seperti Jane & Alec, Dimitri, Felix, dan lain-lain ga ada ilustrasinya, jadinya gabisa dibandingin deh. Tapi itu aja udah cukup sih, karena mereka semua udah mencakup villain di semua film Twilight Saga.
Aro portrayed by Michael Sheen, Caius by Jamie Campbell Bower, Marcus by Christopher Heyerdahl