 |
Rating : Memoirs of a Geisha, 4.8 ★★★★★
|
Judul : Memoirs of a Geisha
Pengarang : Arthur Golden
Penerjemah : Listiana Srisanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2002 di Indonesia
ISBN : 978-602-03-3769-2
Kisah
Sayuri bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929, ketika sebagai anak
perempuan berusia Sembilan tahun, dengan mata biru-kelabu yang luar biasa, dia
dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Tidak tahan dengan kehidupan di rumah
itu, dia berusaha melarikan diri. Tindakan itu membuat dia terancam menjadi
pelayan seumur hidup. Saat meratapi nasibnya di tepi Sungai Shirikawa, dia
bertemu Iwamura Ken. Di luar kebiasaan, pria terhormat ini mendekati dan
menghiburnya. Saat itulah Sayuri bertekad akan menjadi geisha, hanya demi
mendapat kesempatan bertemu lagi dengan pria itu suatu hari nanti.
Mungkin review ini agak kurang relevan karena
novel ini udah terbit lama banget, dan filmnya pun udah ada, tapi bodo amat
pokoknya pengen bikin review karena aku suka banget (LOL). Ini adalah salah
satu novel non-fantasi favoritku, asli bagus banget. Melalui novel ini sedikit
banyak aku jadi tau mengenai budaya Jepang, terutama seni menjadi geisha. Penulisnya
sendiri pun, Arthur Golden, ga asal-asalan dalam menulis novel ini. Dia
melakukan research di Jepang dengan
narasumber beberapa Geisha. Jadi meskipun ini sebuah novel, sedikit banyak
isinya merupakan kebenaran dan kabarnya sih merupakan kisah hidup salah satu
geisha terkenal, Mineko Iwasaki.
Novel ini dikisahkan dalam sudut pandang
Sayuri, tokoh utama disini. Alurnya merupakan flashback, dimana Sayuri menceritakan kisah hidupnya dimulai saat
masih tinggal di Yoroido sebagai si kecil Chiyo. Latar novel ini bermula di
desa nelayan Yoroido, dan hampir setelahnya kebanyakan berlatar di distrik
Gion, Kyoto yang menjadi tempat Chiyo belajar menjadi geisha setelah dijual
oleh orang tuanya. Diceritakan juga sedikit hidup Sayuri saat tinggal di New
York, Amerika pada bagian akhir kisah.
Memoirs of a Geisha sudah di filmkan pada
tahun 2005 dengan judul yang sama, dan mendapat berbagai nominasi dan memenangkan
3 penghargaan Academy Awards. Film ini diperankan oleh tokoh-tokoh terkenal
seperti Ziyi Zhang, Michelle Yeoh, Gong Li, dan Ken Watanabe yang memerankan
Sayuri, Mameha, Hatsumomo, dan Iwamura Ken secara berturut-turut. Menurutku
filmnya cukup bagus dan ceritanya secara garis besar sesuai sama novelnya,
meskipun ada beberapa bagian pada novel yang ga ikut diceritakan dalam film. Aktris
Michelle Yeoh juga menurutku terlalu tua untuk memerankan Mameha yang
diceritakan masih berusia 16 tahun. Selain itu, proses Sayuri menjadi Geisha di
film terlalu gampang, padahal di novelnya banyak konflik dan rintangan, karena
menjadi geisha tidak semudah itu Ferguso
(LOL).
Pas baca novel ini aku gapernah terserang penyakit “bosan” apalagi
tanda-tanda DNF. Terlalu bagus dan bikin penasaran. Mungkin karena banyak
hal-hal baru di novel ini yang sebelumnya aku ga tau, perbedaan budaya juga
menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. Mempelajari seni menjadi geisha
yang misterius dan rahasia meskipun hanya melalui novel. Gaya penceritaan juga
mudah dipahami meskipun banyak detail, justru menurutku karena detail itulah
aku bener-bener bisa membayangkan keadaan dan menggambarkan gimana situasi saat
itu. Budaya dan adat kebiasaan masyarakat Jepang terutama di distrik hiburan
geisha saat perang dunia II terlalu menarik untuk dilewatkan.
Banyaknya nominasi dan penghargaan yang
diperoleh novel ini ternyata ga lepas dari kontroversi. Seperti yang aku
sebutin di paragraf awal, novel ini mengambil model utama geisha Mineko Iwasaki
dalam hal perjalanan hidup. Sebelumnya Arthur Golden setuju untuk merahasiakan
keterlibatan Mineko dalam pembuatan novel ini, namun di bagian acknowledgement dan beberapa wawancara justru
Golden menyebut nama Mineko, yang berbuntut penghianatan dan dibawa ke
pengadilan. Mineko juga menyebutkan bahwa Golden mengubah dan mengarang
beberapa ritual dalam menjadi geisha, tidak sesuai dengan budaya Jepang yang
sesungguhnya dan apa yang telah diceritakan mineko, yang malah membuatnya terkesan
negatif.
Salah satunya adalah ritual mizuage didalam novel yang dijelaskan
bahwa untuk menjadi geisha sepenuhnya, seorang maiko (geisha magang) harus menjual keperawanannya kepada penawar
tertinggi, padahal pada kenyataannya tidak ada ritual seperti itu. Oleh karena hal
ini, Mineko Iwasaki banyak mendapat ancaman kekerasan dan kematian, juga ia
dijauhi oleh teman-teman dan komunitas geisha karena telah membocorkan banyak
hal tentang dunia geisha yang sepantasnya tetap menjadi misteri dan tidak
diketahui publik. Untuk meluruskan hal ini, Mineko Iwasaki akhirnya menulis
autobiografi yang berjudul Geisha of Gion yang menceritakan kisah hidupnya yang
sesungguhnya.
Terlepas berbagai kontroversi diatas, novel
ini tetap bagus dan menarik untuk dibaca. Tapi, jangan menjadikan novel ini
sebagai acuan pengetahuan mengenai dunia geisha yang sesungguhnya. Dalam novel
ini banyak banget kisah sosial dan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga
hal-hal mengenai budaya Jepang yang ternyata sangat menarik. Aku udah reread novel ini berkali-kali dan
gapernah bosen bacanya. Salah satu novel yang menurutku a must read, dan wajib dipunyai.