Wednesday, August 28, 2019

GPU Book Stack Challenge

Dalam rangka memperingati hari buku nasional tanggal 17 Mei, Gramedia Pustaka Utama atau yang lebih dikenal dengan @bukugpu mengadakan challenge dengan tema book stack atau tumpukan buku. Challenge ini dimulai tanggal 17 Mei dan berakhir tanggal 31 Mei. Aku dari awal langsung tertarik ikutan challenge ini, karena selain hadiahnya yang lumayan WOW, aku juga lagi keranjingan ikutan segala macam challenge, haha.

Waktu aku tau ada challenge ini, hal pertama yang kulakuin adalah memantau stok buku berlogo GPU yang bisa dipake. Lumayan lah jumlahnya, tapi aku masih belum dapet konsepnya. Eh ga begitu lama aku kepikiran bikin castle ala-ala Hogwarts, dan pengen pake buku yang spine-nya warna item. Abis itu aku bongkar-bongkar rak dan mulai nyusun castle-nya, udah ada gambaran sih jadi ga terlalu lama udah dapet desain yang fix.

Begitu desainnya udah oke, aku tinggal bikin props tambahan buat melengkapi castle­-ku. Terus foto deh besok paginya. Lumayan ribet sih karena foto outdoor dan harus gotong buku keluar masuk rumah, apalagi diluar angin pas lagi gede dan menerbangkan atap castle-ku, haha. Jadi ya harus extra effort gitu. Tapi hasilnya aku cukup puas. Setelah dapet fotonya, aku edit pake Photoshop, not a pro really. Ini pertama kalinya aku ngedit foto buat bookstagram pake Photoshop, dan hasilnya masih terlihat sangat amatir (LOL), but it’s ok lah ga terlalu malu-maluin. Hasil akhirnya seperti yang terlihat dibawah.

GPU challenge photo entry, Hogwarts book stack castle

Foto udah dapet, tapi ga langsung aku upload karena lagi memantau situasi, pesaing, dan takut dicontek peserta lain (sok yes banget akumah). Tapi ga tahan lama-lama juga akhirnya kurang 6 hari dari due date juga udah aku upload. Responnya pada positif semua terharu akutu, makasih temen-temen bookstagram semua kalian super sekali. Aku seneng dong karena tingkat engagement di post fotoku tinggi, ga sia-sia berarti fotonya, hehe.

Sehari sebelum deadline, aku rada ilfil sih karena ada salah satu bookstagram yang bikin bookstack temanya castle juga, dan mirip-mirip lah, huhu. Terus aku dapet ide bikin entry lagi, langsung kepikiran bikin book throne karena pas itu abis nonton Game of Thrones. Akhirnya ga makan waktu lama langsung foto-foto cekrek, edit, upload. Hasilnya sih lumayan menurutku, dan pas banget book throne-nya cocok buat dipake bonekaku si Dany.

GPU challenge photo entry, GoT inspired book throne

Nah pas udah lewat tanggal dan nunggu pengumuman aku lumayan berharap bisa menang tapi ga terlalu juga sih, karena aku sadar fotoku hanyalah remah rengginang dibanding sama peserta lain, haha. Eh bagi yang pengen tau foto-foto dari challenge ini bisa cek di hastag #gpubookstackchallenge ya. Hasilnya diumumin 3 bulan kemudian. Itupun dengan berbagai macam cara ngerecokin adminnya biar bikin pengumuman. Dari 5 pemenang yang dijanjiin, ternyata aku terpilih jadi salah satu pemenangnya. Terimakasih banyak @bukugpuI'm grateful and really appreciate it. Meskipun buat tau siapa pemenangnya perlu usaha ekstra, haha.

Apapun itu, aku ucapin terima kasih banyak kepada @bukugpu yang telah mengadakan challenge ini. Tapi alangkah lebih baik untuk lain kali jangan berbelit-belit dan terkesan menghindari peserta untuk mengumumkan siapa pemenang dari challenge yang diadakan, supaya kredibilitas juga dapat dijaga. Oh, hadiah dari challenge ini juga bakalan aku posting di blog kalo udah aku terima nanti. Sekali lagi, terima kasih @bukugpu, semoga bisa lebih baik lagi kedepannya!

Tuesday, August 27, 2019

Book Review : Wonder by R.J Palacio

Rating : Wonder, 4.6 ★★★★★

Judul : Wonder
Pengarang : R.J. Palacio
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penerbit : Atria
Tahun terbit : September 2012
ISBN : 978-979-024-508-2

“Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita dibalik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibuloficial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat  berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.

Novel ini menguras emosi dan airmata. Menceritakan kisah Auggie saat pertama kali menjalani sekolah umum, bagaimana perlakuan guru dan teman-temannya. Seperti biasa, awalnya mereka kaget karena wajah Auggie yang ga normal dan terkesan “seram”. Sebagian tentu meledek dan menjauhi Auggie, tapi sebagian juga tulus jadi temennya Auggie. Sebenernya secara sifat dan mental, Auggie tu sangat normal seperti halnya anak-anak lain, cuma karena memiliki wajah yang berbeda makanya Auggie dianggap berbeda oleh orang sekitarnya.

Perlakuan temen-temen Auggie di sekolah juga cukup kejam sih, bullying. Mereka mengejek Auggie dengan berbagai sebutan. Bocah Tikus. Aneh. Monster. Freddy Krueger. E.T. Menjijikkan. Wajah Kadal. Mutan. Wow, so damn cruel. Dan aku emang tau hal kaya gini ga cuma terjadi di cerita fiksi. Tokoh antagonis disini namanya Julian, teman sekelasnya Auggie. Tipe-tipe bocah nyebelin yang baik kalo didepan orang tua aja, padahal dibelakang dia jahat banget sampe ngirim notes kata-kata kasar ke Auggie. Bahkan orang tuanya Jullian juga jahat sih ke Auggie, nge-crop Auggie dari foto sekolah karena mukanya dianggap “merusak pemandangan” oh so sick. Tapi semua perlakuan Julian ke Auggie dan sebab-sebabnya bakalan diceritain di bab khusus di novella terpisah judulnya the Julian Chapter. Aku udah baca novella ini dan bagus banget sih sama-sama menguras air mata, akhirnya mereka berdua juga saling memaafkan dan temenan.

Dibuku ini ga cuma menceritakan kisah dari sudu pandang Auggie, tapi juga kakak Auggie, Via, pacarnya Via, Justin, temennya Via, Miranda, dan teman Auggie, Summer & Jack. Dari sudut pandang Via, dia sebenernya sangat sayang sama Auggie, tapi kadang merasa tersisihkan dari perhatian orang tuanya karena Auggie emang butuh perhatian ekstra. Juga masalah Via sama temen-temennya disekolah. Dari sudut pandang Summer dan Jack, menceritakan persahabatan tulus mereka sama Auggie yang awalnya ga gampang. Banyak salah paham karena Auggie merasa mereka jadi temen Auggie karena disuruh sama kepala sekolah Beech Prep, Mr. Tushman yang baik. Setelah salah pahamnya clear, mereka berdua jadi orang terdekat Auggie disekolah, yang selalu ngebelain dan support Auggie.

Overall aku suka banget sama buku ini, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil. Bahkan dari kejadian yang dialamin anak kecil sekalipun. Baca buku ini menurutku wajib dilakukan ditempat sepi, karena aku gabisa berenti mewek, haha. Terharu banget sepanjang cerita. Berharap juga novel lainnya yang masih berhubungan sama Wonder ini juga diterbitin di Indonesia, kaya 365 Days of Wonder, Auggie and Me, dan lain lain. Aku udah baca sebagian dan sama bagusnya kaya Wonder.

Satu kelemahan di buku Wonder terjemahan ini, ada beberapa bagian terutama dari sudut pandang Justin (pacarnya Via) yang berantakan. Ga ada huruf kapital diawal kalimat yang bikin bingung bacanya, keliatan sama sekali ga dibenerin sama editornya. Selain itu semuanya lumayan sih, bahasa terjemahannya juga fine enak dibaca. Buku ini recommended banget bagi yang perlu motivasi, dan membuat kita belajar lebih bersyukur menjalani kehidupan.

Monday, August 26, 2019

Can't Get Over Lockwood & Co Characters

Lockwood & Co series by Jonathan Stroud

Let me tell you a secret that’s not gonna be a secret anymore, I’m crazy over Lockwood & Co series. Since the last book published, I couldn’t get over it, and I don’t know if I ever will be. I love all the books, the stories, the characters, the joke, the sarcasm, the skull… oh how I love the skull. Terutama karakternya, I love them all. Kali ini aku pengen share fanart para karakter Lockwood & Co karya Rachel Raka (@doodlingraka), aku kemarin nemu akun tumblrnya dan langsung dapet ide bikin post di blog.

Lockwood & Co team on a mission, art by doodlingraka

Karakter di series ini tu sukses bikin aku fangirling level akut, entah dari sarkasme mereka, humor, kelakuan, relationship sesama karakter lain, atau yang lainnya, yang jelas ini salah satu horror series terbaik yang pernah aku baca. Oke, mari kita kenalan sama karakter utama di Lockwood & Co ini dimulai dari favoritku, the Skull.

The Skull
The Skull art by doodlingraka
Hantu favoritku di Lockwood & Co, aku yakin most people yang udah baca seri ini pasti gemes banget sama setan didalem toples satu ini. Dia jail banget, mulutnya kotor suka sumpah serapah, pikirannya jahat karena demen banget nyaranin Lucy buat bunuh Holly pake gantungan baju. Jahatnya konyol dan suka ngata-ngatain orang (terutama sama George). Tapi dia menurutku salah satu temen terbaiknya Lucy, meskipun ngeselin, dia selalu bantu Lucy saat dalam misi dan nyelametin Lucy berkali-kali. Aku patah hati dan penasaran banget sama kelanjutan nasibnya Skull setelah ending di the Empty Grave. Oh I miss my Skull.

Anthony Lockwood
Lockwood art by doodlingraka
Hmmm, I love him. Lockwood yang misterius dan karismatik, aku suka sama kepribadian Lockwood ini yang cerdas, tegas, tapi friendly dan rela berkorban. Terutama setelah buku ketiga, pas mulai muncul hubungan dia sama Lucy, yang dibangun alus banget tapi tau-tau dalem aja. How he confess his “undying devotion” to her. DAMN IT! Melted down my hearts. Aku masih gila dan penasaran setengah mati sama kelanjutan hubungan mereka, ending dibuku kelimanya bikin hangover seminggu lebih, huh nyebelin. I need more!

Lucy Carlyle
Lucy art by doodlingraka
The main character of Lockwood & Co, she’s a badass. Yang bikin aku suka sama Lucy adalah karena dia bisa tahan temenan sama setan, something I can relate (not the way you think). Lucy itu menurutku karakter yang realistis, ga kaya beberapa buku dimana pemeran utama selalu digambarin super cantik/ganteng dengan kekuatan super lain yang terkesan lebay, Lucy disini cuma gadis biasa yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Meski Lucy kadang impulsive, tapi aku selalu suka pas mereka lagi ada di misi berusaha nyari sumber, keren sekaleeee.

George Cubbins
George art by doodlingraka
Oh oh aku gemes banget sama George, terutama hubungan dia sama donat toko Arif, biskuit, sama teh. Aku juga kasian sama George karena sering dikata-katain dan diancam dibunuh sama Skull karena eksperimen dia buat liat reaksinya Skull, termasuk diajak mandi bareng di bathtub. Bayangin aja toples hantu tengkorak diajak mandi bareng George pake gelembung sabun, aku ngakak banget pas bacanya (LOL).

Holly Munro
Holly art by doodlingraka
Awalnya aku ga suka sama Holly, karena Lucy juga ga suka sama Holly, haha. Menurutku Holly ga cocok di Lockwood & Co, terlalu rapi dan teratur, padahal anggota tim lainnya gajelas bentukannya. Aku ngedukung Skull buat bunuh Holly pake pot tanaman, panci, sama gantungan baju, konyol banget. Tapi lama-lama yaudah lah ya, si Holly ga ganggu-ganggu amat ini.

Quill Kipps
Quill art by doodlingraka
Who would’ve thought? Quill yang awalnya nyebelin dan pengen kulempar ke dalem toples bareng Skull bisa jadi teamnya Lockwood. Kasian sih sebenernya si Quill ini, kehilangan kemampuan sensitifitas hantunya dan akhirnya dipecat dari Fittes agency. Tapi Quill cocok sih jadi tim di agensinya Lockwood & Co, apalagi setelah dapet google hantu jadi semangat banget dia pas berburu hantu. Ehm, I ship him with Holly.

Flo Bones
Flo art by doodlingraka
Flo ini awalnya kukira gembel bawah jembatan biasa tukang cari relik hantu yang demen sama permen liquorice. Lama kelamaan terungkap kalo dia ternyata pernah jadi agen dan ngalahin Lockwood di turnamen pedang. Ga nyangka banget, dan sepertinya Flo ini kayaknya bakalan deket sama George, hmmm. Makin penasaran sama kelanjutannya (kalo ada).

Marissa Fittes
Marissa Fittes art by doodlingraka
Plot twist tentang Marissa Fittes alias Penelope Fittes ini ga nyangka banget, keren uncle Stroud bikin ide ceritanya. Seru banget pas bagian akhir the Empty Grave pas adegan Lucy Vs Marissa terus Ezekiel Vs Skull. Aku udah reread pas bagian itu entah berapa kali saking serunya.

Dari semua karakter diatas favoritku Skull dong jelas, hantu tipe 3 dengan mulut terkotor, haha. Aku masih belum sembuh hangover dari Lockwood & Co, padahal buku terakhir udah kubaca berbulan-bulan lalu. Masih berarap ada lanjutannya aku tuh, atau mini novella gitu gapapa lah (pengennya). Penasaran banget sama nasib Skull, kelanjutan hubungan Lockwood Lucy, Holly Quill, sama George Flo. Jadi aku kadang suka buka-buka tumblr, instagram, dan pinterest buat nyari fanart Lockwood & Co, dan menurutku fanart karya @doodlingraka ini bagus banget, jangan lupa di follow ya. Dibawah ini aku sertain fanart dan fanfic karya @doodlingraka juga dari beberapa adegan favoritku.

George having a bath with angry Skull, art by doodlingraka

Lucy and Locwood, art by doodlingraka

Lucy and just-released-Skull, art by doodlingraka

Quill and Holly, art by doodlingraka

Monday, August 5, 2019

The Wrath and the Dawn Duology : Left Me Hangover

The Wrath and the Dawn duology by Renée Ahdieh

This book left me hangover because I didn’t prepare for it. I truly had no expectation over the duology. Awalnya aku tertarik baca buku ini karena penasaran sama kisah Arabian Nights, aku pernah nyoba baca Arabian Nights versi aslinya ga pernah bisa selesai (bahasanya filsafat banget bikin ngantuk). Pas sekalinya baca retelling Arabian Nights versi Renée Ahdieh ini eh malah gabisa berenti. Aku inget banget mulai baca buku pertama kemarin pas weekend sehabis dhuhur, selesai sampe tamat buku kedua itu jam 1 malem, wkwk ngebut ga sampe 24 jam.

Once I begin, I could never stop. Apalah daya aku langsung jadi bucinnya Khalid. Dia tu misterius romantis gimana gitu, aku juga suka sama Shahrzad alias Shazi dan mulutnya yang pedes kaya cabe. Mungkin romance di buku ini tu agak klise ya enemy turn into love, tapi menurutku Renée Ahdieh berhasil mengemas kisahnya jadi ga bikin cringe saat bacanya. Baca buku ini meskipun romance tapi ga pernah ngebosenin, selalu diselingi bagian-bagian menegangkan dan misterius jadi selalu bikin penasaran sama kelanjutan kisahnya.

Banyak hal tak terduga terjadi di novel ini, untuk buku pertamanya the Wrath and the Dawn lebih banyak mengambil setting tempat di dalam istana Rey di negeri Khorasan yang mengisahkan tentang Khalid dan Shazi. Meskipun diceritakan juga masa lalu Shazi, Tariq Imran al-Ziyad yang berupaya merebut kembali Shazi dari tangan Khalid. Dibuku ini bakalan dikupas tuntas kisah Khalid dan masa lalunya kenapa bisa jadi seperti sekarang. Menurutku perkembangan kisah Shazi dan Khalid ini moved too fast, cepet banget asli. Tapi aku masih bisa enjoy aja dan ga terlalu terasa dipaksakan. Yang bikin baper dari buku ini salah satunya adalah panggilan sayang Khalid ke Shazi, joonam, yang artinya segalaku atau my everything. Duh, baper.

Buku keduanya, the Rose and the Dagger, mengisahkan perjuangan Shazi di gurun pasir bersama rombongan Tariq setelah dia dibawa (diculik) kesana. Meskipun Shazi dan Khalid terpisah jarak, tapi Shazi tetap berusaha menghilangkan kutukan Khalid. Buku keduanya lebih banyak membahas perang sih, dan tokohnya masih sama, cuma ada satu tokoh baru yang perannya signifikan. Dibuku kedua ini, banyak tokoh sampingan dari buku pertama yang perannya cukup signifikan, dan tercerahkan sudah pertanyaan dari buku pertama yang belum terjawab. Banyak plot twist juga, terutama di bagian menjelang akhir. Wow, I didn't see that coming.

Buku ini berakhir happy ending (bagi sebagian tokoh). Kisahnya cukup ringan tapi seru buat dibaca, terutama buat yang udah lelah sama novel high fantasy berseries macam diriku. And I have to say, I love this series so much, it left me hangover, so once I finished the second book, I start to read the first book again. Sampe segitunya aku jadi bucinnya Khalid. I don’t mind tho.

Ratings

Book #1 the Wrath and the Dawn, 4.6 ★★★★★
Book #2 the Rose and the Dagger, 4.0 ★★★★☆

Thursday, August 1, 2019

Book Review : A Court of Wings and Ruin (ACOWAR)

Rating : A Court of Wings and Ruin, 4.0 ★★★★☆

Judul : A Court of Wings and Ruin
#3 ACOTAR Series
Pengarang : Sarah J. Maas
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-623-216-323-2

Feyre telah kembali ke Negeri Musim Semi untuk mengumpulkan informasi tentang maneuver Tamlin yang mengancam akan membuat Prythian bertekuk lutut. Namun, demi mencapai semua itu dia harus melakukan sebuah permainan—dan satu kesalahan saja bisa menciptakan malapetaka, bukan hanya untuk Feyre, juga untuk dunianya. Ketika perang pecah, Feyre harus bisa memutuskan siapa yang harus dipercaya di antara para Tuan Agung.

Bumi bersimbah darah, demi meraih kekuasaan atas satu hal yang dapat menghancurkan mereka...

ACOWAR versi terjemahan baru aja terbit nih, berarti waktunya bikin review. Meskipun sebenernya aku udah baca novel ini yang versi bahasa Inggrisnya dari lama. Sebelumnya aku udah bikin review juga di blog untuk buku pertama ACOTAR dan buku kedua ACOMAF, bisa dicek ya. Okay, lumayan sebenernya novel ini. Di chapter-chapter awal aku tercabik antara suka aksinya Feyre yang lagi balas dendam (karena licik dan badass banget) atau kasian sama Tamlin karena menurutku dia ga sepenuhnya salah.

Tapi dibuku ini aku bener-bener benci bangeeeeeet sama Ianthe, sebesar aku benci sama Dolores Umbridge. Padahal aku gapernah bener-bener benci sama karakter villain selain dua karakter diatas, bahkan Voldemort pun aku masih suka, Amarantha dan Hybern King yang jadi villain di buku sebelumnya dan buku ini pun aku masih fine-fine aja. But that smug-bitch-priestess Ianthe need to suffer ‘til her death for what she did to Feyre’s sisters, Lucien, and the Suriel, and I thank Feyre to made it happen and avenged them.

Bagian favoritku dari novel ini adalah saat pertemuan bersama semua Prythian High Lords di Summer Court. Menegangkan, walaupun Tamlin nyebelin banget pas itu. Feyre aksinya keren, I like her better. Ada juga yang bikin aku nangis, saat ada tokoh yang meninggal, padahal semenjak buku satu dia selalu bantuin Feyre kalo Feyre lagi butuh petunjuk, make me hate Ianthe even more. Pas ada perang ini juga lumayan seru, walaupun sejujurnya aku agak bingung sama detailnya. Too much maybe? Atau juga karena aku selalu benci tiap ada bagian perang di novel, pengen cepet-cepet nyelesain bacanya, malah kadang aku skip (jangan dicontoh, tapi pas buku ini ga aku skip sih). Aftermath-nya lumayan oke, ada yang bikin tegang juga dan banyak yang mati jadi ga terlalu happy ending banget. Terus aku masih merasa kasihan banget sama Tamlin, poor baby, pengen puk-puk Tamlin. I wish him to find some happiness.

Kedua buku sebelumnya, ACOTAR sama ACOMAF, pilihan kata terjemahannya agak kurang pas dan berantakan, bahkan bikin beberapa kalimat kehilangan esensi kalimatnya. Nah dibuku ketiga ini, masih relatif sama juga, banyak typo-nya. Salah satunya kata "memakan perhiasan" di bab awal, aku bingung ngapain coba si Feyre makan perhiasan? Ternyata setelah kucek di ebook versi bahasa Inggris yang dimaksud adalah "memakai perhiasan" mwahahaha typo-nya fatal sih beda artinya (LOL) dan jadi konyol banget. Selain itu, ada beberapa typo kata “dia” yang cuma ditulis “di”. Aku masih banyak nemu typo juga selain yang aku sebutin diatas, tapi ga perlu aku sebutin satu-satu lah ya. Untuk ukuran novel se-hype ini menurutku editor kurang teliti, typo-nya udah dalam level sangat mengganggu.

Hal lain yang ga aku suka dari novel ACOWAR terjemahan ini, cover bukunya glossy (padahal kedua buku sebelumnya covernya doff) dan kertasnya kaku banget, kualitas kertasnya bagusan yang ACOMAF. Jujur aja, dari segi cerita aku suka sama novel ini dan recommended untuk baca karena seru dan ga bikin bosen (banyak perang, banyak yang mati aku suka LOL). Tapi untuk novel terjemahan terbitan BIP ini aku agak nyesel beli. Untuk harga IDR 198.000 tapi dengan kualitas kertas yang gak sebagus buku sebelumnya (kertas cetakan ACOMAF fleksibel dan lentur banget) dan banyak banget typo mengganggu, menurutku kurang worth it sih. Kalo mau baca buku ini tu harus selalu dipegang pake dua tangan, gabisa baca sambil bukunya diletakin di meja karena bakal nutup sendiri, kertas dan jilidnya kaku (gak lentur).

Setelah novel ini juga ada novella A Court of Frost and Starlight (ACOFAS), dengan setting waktu setelah ACOWAR, diceritakan dari beberapa sudut pandang tokoh diantaranya Feyre, Rhysand, Cassian, sama Morrigan. Semoga aja yang ACOFAS juga diterjemahin ke bahasa Indonesia dengan kualitas bahasa dan cetakan buku yang better dari ACOWAR kali ini. Untuk ACOWAR sendiri semoga penerbit bisa memperbaiki banyak  typo-nya di cetakan selanjutnnya yaa.

Crazy Owl Lady

Some of my owl dolls collection

Kali ini aku pengen bikin postingan yang lumayan random banget (LOL). Aku tu suka banget sama burung hantu alias owl dan hobi koleksi barang-barang berbentuk atau bergambar owl. Mulai dari figure pajangan, boneka, bed sheet, alat makan, baju, tas, pokoknya semua barang berbau owl pasti seringnya aku beli. Aku mulai suka banget sama owl itu sejak kecil karena dulu dirumah sempet pelihara burung hantu yang luka terus dirawat, dan ditambah peran owl yang sangat signifikan di film Harry Potter bikin aku tambah addict sama owl. Aku sekarang sebenernya pengen banget pelihara burung hantu dirumah, tapi aku tau mereka ga seharusnya dijadiin peliharaan dan aku kasian kalau mereka terkurung dikandang. Maka dari itu aku secara massive pilih koleksi boneka owl aja biar bisa dipeluk-peluk (tapi sayangnya gabisa disuruh kirim surat).

Aku koleksi boneka owl khusus yang bentuknya mendekati aslinya alias realistic. Terus aku suka bandingin bonekaku sama bentuk burung hantu yang asli, lumayan susah sih tapi seru aja gitu. And I know I’m not a 7 yo girl but I named each of my owl dolls. Aku berasa bocah banget ga sih, koleksi boneka terus dinamain, terus di share di blog (LOL, but I do love it and I have no shame over it). Sementara ini koleksi boneka owl-ku ada beberapa, but still growing ‘cause I have no plan to stop collecting. Here, let me introduce you to each member of my parliament of owls.

Hedwig the Snowy Owl
Hedwig ini adalah salah satu boneka owl pertamaku, tentu saja terispirasi dari Hedwig punya Harry. Tapi kalo Hedwig disini dia punya twin chick namanya Snowflake dan Snowball, sedangkan Hedwig di film Harry Potter ga berkesempatan punya chick, damn it so sad.

Bubo the Great Horned Owl
Bubo ini menurutku boneka yang paling mirip sama aslinya, detailnya keren banget. Great horned owl yang punya nama latin Bubo virginianus juga salah satu spesies owl favoritku, gagah dan ganteng banget perasaan (LOL). Kalau aku bisa punya peliharaan owl, aku pengen punya great horned owl.

Gylfie the Elf Owl
Gylfie ini salah satu boneka favoritku, lucu banget yaampun. Nama Gylfie terinspirasi dari salah satu tokoh owl di film Legend of Guardians : the Owls of Ga’hoole yang namanya Gylfie juga. Mirip banget mereka tu. Elf owl atau Micrathene whitneyi ini persebarannya di Amerika bagian barat daya.

Loki the Snowy Owl
Salah satu koleksi bonekaku yang terbanyak adalah jenis snowy owl atau Bubo scandiacus. Loki ini terinspirasi dari Loki adeknya Thor, karena matanya serem dan keliatan galak menurutku, haha (LOL).

Pigwidgeon the White Faced Owl
Bagi yang baca novel Harry Potter pasti tau dong sama burung hantunya Ron yang namanya Pigwidgeon alis Pig yang dikasih sama Sirius. Nah nama bonekaku ini terinspirasi dari Pig, karena mereka sama-sama jenis white-faced owl atau Ptilopsis granti.

Soren the Barn Owl
Soren ini terisnpirasi dari tokoh utama yang namanya Soren juga di film Legend of Guardians : the Owls of Ga’hoole, temennya Gylfie yang aku sebutin sebelumnya. Soren ini adalah jenis barn owl atau Tyto alba.

Cheetah the Spotted Wood Owl
Namanya Cheetah karena menurutku dia mirip macan tutul (LOL). Aku bingung nentuin dia owl jenis apa karena ga ada yang mirip, haha. Akhirnya kuputuskan dia paling mendekati spotted wood owl atau Strix seloputo (meskipun agak maksa) yang habitatnya banyak terdapat di pulau Jawa.

Mocca the Marsh Owl
Sesungguhnya aku bingung Mocca ini marsh owl atau barred owl. Tapi aku memutuskan lebih mirip marsh owl alias Asio capensis aja deh, haha. Mocca ini boneka official merch di Harry Potter Universal Studio, made in Indonesia loh.

Jon Snow the Snowy Owl
So obvious, namanya terinspirasi dari salah satu karakter Game of Thrones, Aegon Targaryen alias Jon Snow. Karena jenisnya snowy owl, sama-sama ada snow-nya, dan Jon Snow kan seringnya main di salju juga pas di GoT (LOL).

Ling Ling the Long Eared Owl
Aku namain Ling Ling ini sebenernya karena dibagian matanya gak simetris alias agak juling, wkwk. Maksa sih karena ga mirip long-eared owl, tapi yaudah lah ya. Sekilas info, long-eared owl atau Asio otus ini tersebar di Amerika Utara, Eurasia, dan Afrika Utara.

Choco the Screech Owl
Choco ini boneka owl paling ditakuti sama anak kecil kalo lagi dikamarku, karena emang serem sih. Choco adalah screech owl alias butung hantu serak, nama Latinnya Megascops asio.

Poppy the Snowy Owl
Poppy ini snowy owl yang masih dalam tahap fledgling, bukan bayi tapi belum dewasa juga. Poppy adalah kakaknya Snowflake dan Snowball. Lucu banget dia tuh, salah satu favoritku.

Eglantine the Ashy Faced Owl
Eglantine adalah boneka yang kupunya paling terakhir. Nama Eglantine terinspirasi dari adeknya Soren di film Legend of Guardians : the Owls of Ga’hoole. Panggilannya Egg biar ga kepanjangan, Egg ini owl jenis ashy-faced owl atau Tyto glaucops.

Koleksi bonekaku itu hasil ngumpulin selama beberapa tahun. Kebanyakan beli di market place sama online shop instagram. Cari boneka owl itu agak susah menurutku, karena ga banyak perusahaan yang bikin model realistic owl. Merek boneka owl yang  paling banyak aku punya itu dari OZCo sama Aurora, bahannya bagus dan lembut. Wish list boneka owl yang sampai sekarang belum keturutan itu adalah boneka owl yang dijual di Warner Bros Universal Studio Tour, duh pengen banget.