![]() |
| Rating : Kisah Saranjana Kota Gaib Kalimantan, 1.5 ★★☆☆☆ |
Judul : Kisah
Saranjana Kota Gaib Kalimantan
Pengarang : Diki Rifattama
Penerbit : Cakrawala
Pustaka
Tahun Terbit : 2022
ISBN : 978-623-96032-9-8
Kota Saranjana dikenal
luas sebagai kota ghaib (tidak terlihat) di Indonesia. Banyak sekali kota-kota
ghaib di Indonesia seperti Alas Purwo, Wentira, dan salah satunya juga Saranjana.
Walaupun dikenal luas
sebagai kota ghaib, namun tak menjamin semua orang akan mempercayainya, bahkan
penulis sendiri saat bercerita dan bertanya dengan masyarakat sekitar tak semua
warga meyakininya. Akan tetapi mereka mengaku merasakan kejadian yang
menunjukkan keberadaannya, hal itulah yang membuat kota Saranjana semakin
misterius.
Mendengar nama kota
Saranjana saja sudah bikin penasaran banget kan tentunya. Sebuah kota ghaib
yang berada di Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan ini sudah menjadi legenda
dari masa ke masa dan selalu menarik untuk dibahas. Inilah salah satu alasanku
memutuskan untuk membeli buku Kisah Saranjana ini. Buku ini adalah novel horor
misteri yang menceritakan petualangan 5 remaja yang sedang liburan dan tidak
sengaja bersinggungan dan masuk ke kota Saranjana. Mereka bertemu dengan
tokoh-tokoh kota Saranjana seperti Mustafa, Raja, dan manusia bernama Abah
Hamid. Okay tanpa basa basi mari kita simak ulasan Kisah Saranjana Kota Gaib Kalimantan berikut.
Pertama kali baca buku ini langsung teringat cerita-cerita picisan yang aku tulis jaman SMP dulu. Format penulisannya mirip teks cerita di buku pelajaran daripada sebuah novel. Awalnya aku pikir buku ini adalah kumpulan cerita dari narasumber berdasarkan kisah nyata, tapi ternyata emang murni novel fiksi. Baca buku ini tuh rasanya pengen cepet-cepet dikelarin karena aku ga bisa menikmati dan terlalu membosankan (sorry!). Bagian awal cerita yang terlalu bertele-tele dengan banyak detail ga penting, jokes yang cringe, konflik yang kurang menarik, dan ending yang antiklimaks.
Rama : Ya jangan dong kasian Om Daeng, pikirkan juga dong perasaan Om Daeng.
Putri : Perasaanku juga ya… (Keceplosan dan semuanya kebingungan menatap Putri)
Rama dalam hati : Hah ini anak kenapa sih? Hampir berubah 350 derajat dari kemarin.
Putri : Hahaha gak apa-apa kok, maksudnya perasaanku nanti gimana kalau band favoritku viral karena ini nantinya, kan sayang (Oh gitu kata semuanya)
Rama : Kirain tadi perasaan apa? Apakah cinta mungkin haha? (Putri mendengarnya kaget dan membuat jantungnya berdebar-debar)
Menurutku penulis
sudah berusaha kreatif dengan mencoba memasukkan bumbu-bumbu romansa kedalam
cerita ini, tapi romansanya terlalu picisan dan bocah banget. Jadi jatohnya
malah aneh banget sih, apalagi ceritanya romansanya ga ada kelanjutannya dan ga
berpengaruh sama jalan cerita, terkesan maksa. Selain itu bahasa yang digunakan
agak terkesan kaku dan cringe, juga banyak menggunakan kata tidak baku
dan slang ala anak jaman sekarang. Mungkin untuk kedepannya, penulisan
cerita bisa diimbangi dengan pengembangan karakter yang kuat, karena disini
karakternya banyak banget tapi ga ada yang terlalu menonjol.
Bagi kamu yang suka
buku cerita horor misteri ringan, buku ini cocok banget buat dibaca. Jalan
ceritanya ringan dan ga perlu pake mikir atau nebak yang aneh-aneh.Tapi untukku
pribadi, aku gabakal reread buku ini lagi sih karena ga sesuai sama selera
bacaku. Sedikit cerita sebenernya aku beli buku ini berawal dari kesalah
pahaman, aku kira buku ini adalah salah satu seri dari Kisah Tanah Jawa karena
emang cover bukunya mirip banget ala-ala buku Kisah Tanah Jawa. Tapi ternyata
aku salah sangka, bener-bener buku yang berbeda dan ga ada hubungannya sama
Kisah Tanah Jawa, bahkan penerbitnya pun beda. Tapi karena sudah terlanjur
dibeli jadi apa boleh buat, di nikmati saja ya kan.
Untukku sebagai penikmat buku, menurutku pribadi buku ini jauh banget dari ekspektasiku, mengecewakan jujur saja. Judul yang sangat menarik tidak diimbangi dengan cerita yang berbobot. Tapi kembali lagi, semua tergantung selera pembaca juga ya. Yah tak apa lah, tetep semangat ya author untuk terus berkarya dan menjadi lebih baik.








0 comments:
Post a Comment