Friday, April 3, 2020

Book Review : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)

Rating : Shadow and Bone, 4.0 ★★★★☆
Judul : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)
#1 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-080-509-459-6

Alina Starkov bukan siapa-siapa, cuma gadis yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Dia memang bergabung di militer sebagai pembuat peta, tapi keahliannya tidak seberapa. Alina bahkan ketiban sial kerena kali ini timnya ditugaskan untuk menyebrangi Selubung Bayangan—selaput hampa cahaya berisi monster pelahap manusia. Namun, saat sahabat Mal Oretsev hampir kehilangan nyawa dalam misi tersebut, Alina tidak tinggal diam dan tersingkaplah kekuatan besar di dalam dirinya yang tak disangka-sangka.

Kini Alina diboyong ke Istana Kecil untuk berlatih bersama Grisha, tentara sakti raja yang dipimpin oleh Sang Kelam. Sang Kelam percaya bahwa Alina dapat membantunya menghancurkan Selubung Bayangan dan mempersatukan wilayah negeri yang kocar-kacir karena perang. Namun, pilar-pilar istana menyimpan banyak rahasia dan segala sesuatu yang tidak sesederhana kelihatannya. Sementara kegelapan semakin membayangi negeri dan rakyat mulai menggantungkan harapan di pundaknya, Alina harus menghadapi bahaya yang dapat mengancam dirinya, orang yang dia cintai, serta masa depan dunia.

Sebenernya aku punya buku ini sejak awal terbit karena ikutan PO di penerbitnya, tapi karena aku malesan dan mencoba menyelesaikan TBR jadi baru bisa baca sekarang. Telat sih, padahal buku ini hectic banget di luar negeri dan udah pernah terbit di Indonesia sebelumnya walaupun cuma buku satu.

Latar cerita dan penokohannya menurutku sedikit banyak terinspirasi dari Rusia dan sekitarnya ya, terlihat dari nama tokoh dan nama tempat. Semua latar tempat di buku satu terjadi di Ravka, kerajaan yang sedang berperang dan mempunyai masalah lain yaitu Bayangan Selubung—Shadow Fold—yang terbentuk di daerah sekitar Nirlaut (selat kecil) yang memisahkan beberapa daerah di Ravka dan menyembunyikan monster-monster didalamnya. Aku suka ide ceritanya tentang kaum Grisha—manusia yang mempunyai kekuatan sejak lahir untuk mengendalikan elemen-elemen tertentu. Ada Corporalki yang bisa memanipulasi tubuh manusia, Etheralki yang bisa mengendalikan elemen alam, dan Materialki yang bisa memanipulasi benda-benda solid. Dibuku ini juga dilengkapi peta, yang mempermudah kita berimajinasi dengan dunia Grisha atau Grishaverse.

Tokoh-tokoh utamanya ada tiga orang untuk buku satu ini, Alina Starkov yang bisa memanggil cahaya atau Sun Summoner, Mal Oretsev teman masa kecil Alina sejak di panti asuhan Keramzin yang sekarang jadi pelacak, dan Sang Kelam—the Darkling—pemimpin Grisha di Ravka yang bisa memanggil bayangan hitam. Mereka bertiga ini terlibat cinta segitiga, tapi ga bikin muak ko, lebih banyak intrik dan petualangannya dibanding cinta-cintaan. Villain di buku pertama ini adalah Sang Kelam, tapi walaupun dia jadi villain tapi pesonanya tetep gabisa ditolak, LOL. Cukup oke tiap tokoh karakternya menurutku dan masing-masing punya daya tarik dari segi yang berbeda.

Sejujurnya, setelah  baca buku satu ini I have no idea why this book made such a fuss. Secara keseluruhan ceritanya menarik walaupun cukup simpel banget untuk ukuran YA fantasy. Ide ceritanya bagus sih, bikin orang cukup penasaran dan pengen lanjutin baca buku selanjutnya, tapi terlalu sederhana. Alur ceritanya cepet banget, jadi ga bikin bosen bacanya, tapi juga terkesan diburu-buru. Akibatnya pendalaman tiap karekter kurang kuat, aku merasa kurang dapet aja feel-nya sama karakter-karakternya. Juga karena deskripsi fisik karakter dan tempat atau kejadian kurang terperinci (aku suka berimajinasi jadi detail cerita itu penting, haha). Kalo dari segi terjemahan menurutku overall cukup bagus, walaupun aku ga terbiasa dengan kata-kata ‘Sang Kelam’ a.k.a the Darkling, berasa aneh ajasih, tapi menurutku karena ini terjemahan ya wajar aja.

Dari segi kualitas bukunya, bagus banget sih asli. Covernya cantik banget dan kualitas kertasnya bagus, lentur, jadi gampang dibuka dan ga bikin punggung bukunya patah. Ukuran font-nya standar lah, cukup nyaman dimata. Secara keseluruhan buku ini worth it untuk dibaca, dan ini lagi nunggu buku keduanya dateng, semoga buku kedua lebih menarik dari buku sebelumnya. Baca juga review buku kedua seri The Grisha Triogy ini di Book Review : Siege and Storm (Takhta dan Prahara) ya!

0 comments:

Post a Comment