![]() | |
|
Judul : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)
#1 The Grisha Trilogy
#1 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-080-509-459-6
Alina
Starkov bukan siapa-siapa, cuma gadis yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Dia
memang bergabung di militer sebagai pembuat peta, tapi keahliannya tidak
seberapa. Alina bahkan ketiban sial kerena kali ini timnya ditugaskan untuk
menyebrangi Selubung Bayangan—selaput hampa cahaya berisi monster pelahap
manusia. Namun, saat sahabat Mal Oretsev hampir kehilangan nyawa dalam misi
tersebut, Alina tidak tinggal diam dan tersingkaplah kekuatan besar di dalam
dirinya yang tak disangka-sangka.
Kini
Alina diboyong ke Istana Kecil untuk berlatih bersama Grisha, tentara sakti
raja yang dipimpin oleh Sang Kelam. Sang Kelam percaya bahwa Alina dapat
membantunya menghancurkan Selubung Bayangan dan mempersatukan wilayah negeri
yang kocar-kacir karena perang. Namun, pilar-pilar istana menyimpan banyak
rahasia dan segala sesuatu yang tidak sesederhana kelihatannya. Sementara kegelapan
semakin membayangi negeri dan rakyat mulai menggantungkan harapan di pundaknya,
Alina harus menghadapi bahaya yang dapat mengancam dirinya, orang yang dia
cintai, serta masa depan dunia.
Sebenernya aku punya buku ini sejak awal
terbit karena ikutan PO di penerbitnya, tapi karena aku malesan dan mencoba
menyelesaikan TBR jadi baru bisa baca sekarang. Telat sih, padahal buku ini hectic banget di luar negeri dan udah
pernah terbit di Indonesia sebelumnya walaupun cuma buku satu.
Latar cerita dan penokohannya menurutku
sedikit banyak terinspirasi dari Rusia dan sekitarnya ya, terlihat dari nama
tokoh dan nama tempat. Semua latar tempat di buku satu terjadi di Ravka, kerajaan
yang sedang berperang dan mempunyai masalah lain yaitu Bayangan Selubung—Shadow Fold—yang terbentuk di daerah
sekitar Nirlaut (selat kecil) yang memisahkan beberapa daerah di Ravka dan
menyembunyikan monster-monster didalamnya. Aku suka ide ceritanya tentang kaum Grisha—manusia
yang mempunyai kekuatan sejak lahir untuk mengendalikan elemen-elemen tertentu.
Ada Corporalki yang bisa memanipulasi
tubuh manusia, Etheralki yang bisa
mengendalikan elemen alam, dan Materialki
yang bisa memanipulasi benda-benda solid. Dibuku ini juga dilengkapi peta, yang
mempermudah kita berimajinasi dengan dunia Grisha atau Grishaverse.
Tokoh-tokoh utamanya ada tiga orang
untuk buku satu ini, Alina Starkov yang bisa memanggil cahaya atau Sun Summoner, Mal Oretsev teman masa
kecil Alina sejak di panti asuhan Keramzin yang sekarang jadi pelacak, dan Sang
Kelam—the Darkling—pemimpin Grisha di
Ravka yang bisa memanggil bayangan hitam. Mereka bertiga ini terlibat cinta
segitiga, tapi ga bikin muak ko, lebih banyak intrik dan petualangannya dibanding
cinta-cintaan. Villain di buku pertama ini adalah Sang Kelam, tapi walaupun dia jadi villain tapi pesonanya tetep gabisa ditolak, LOL. Cukup oke tiap tokoh karakternya menurutku dan masing-masing punya daya
tarik dari segi yang berbeda.
Sejujurnya, setelah baca buku satu ini I have no idea why this book made such a fuss. Secara keseluruhan ceritanya
menarik walaupun cukup simpel banget untuk ukuran YA fantasy. Ide ceritanya bagus sih, bikin orang cukup penasaran
dan pengen lanjutin baca buku selanjutnya, tapi terlalu sederhana. Alur ceritanya
cepet banget, jadi ga bikin bosen bacanya, tapi juga terkesan diburu-buru. Akibatnya
pendalaman tiap karekter kurang kuat, aku merasa kurang dapet aja feel-nya sama karakter-karakternya. Juga
karena deskripsi fisik karakter dan tempat atau kejadian kurang terperinci (aku
suka berimajinasi jadi detail cerita itu penting, haha). Kalo dari segi
terjemahan menurutku overall cukup
bagus, walaupun aku ga terbiasa dengan kata-kata ‘Sang Kelam’ a.k.a the Darkling, berasa aneh ajasih, tapi
menurutku karena ini terjemahan ya wajar aja.
Dari segi kualitas bukunya, bagus banget sih
asli. Covernya cantik banget dan kualitas kertasnya bagus, lentur, jadi gampang
dibuka dan ga bikin punggung bukunya patah. Ukuran font-nya standar lah, cukup nyaman dimata. Secara keseluruhan buku
ini worth it untuk dibaca, dan ini
lagi nunggu buku keduanya dateng, semoga buku kedua lebih menarik dari buku
sebelumnya. Baca juga review buku kedua seri The Grisha Triogy ini di Book Review : Siege and Storm (Takhta dan Prahara) ya!








0 comments:
Post a Comment