#2 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2020 di Indonesia
ISBN : 978-602-481-304-8
Kesaktian
Alina Starkov sebagai Pemanggil Matahari harus dibayar mahal—diburu sepanjang
Laut Sejati serta dihantui nyawa-nyawa yang terenggut saat dia melarikan diri
bersama Mal, sahabat yang kini menjadi kekasihnya. Namun, mereka berdua tidak
bisa berlama-lama sembunyi. Sementara itu, Sang Kelam semakin gigih menjalankan
rencana yang disusunnya sejak awal, sekalipun itu berarti mengambil tindakan
yang tidak masuk akal. Petualangan Alina semakin berwarna ketika ia terjebak di
kapal Sturmhond, sang perompak partikelir ternama yang punya rahasianya sendiri.
Perjalanan
membawa Alina kembali ke Ravka dan kehadirannya dianggap mukjizat oleh kaum
fanatic. Dia bertekad kembali ke Istana Kecil dan memimpin pasukan Grisha.
Namun, Alina justru terlibat dalam perebutan takhta di antara dua putra mahkota
yang membuatnya semakin jauh dari Mal. Bukan hanya itu, bayang-bayang Sang
Kelam yang begitu nyata kerap datang tiba-tiba dan membuat Alina tidak bisa
membedakan halusinasi dan realita. Tak ada kejayaan tanpa pengorbanan, dan
ketika prahara menyerang Ravka, sanggupkah Alina menjadi juru selamat bagi
negerinya?
Sudah baca review-ku untuk buku pertamanya
belum? Kalo belum, baca dulu Book Review : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)!
Hal pertama yang kupikirin ketika pegang buku ini adalah mengagumi covernya
yang cantik banget, apalagi bagian book
spine-nya yang yaampun, keren sih. Oh, dan kemaren ga sia-sia aku berharap
semoga buku kedua bakalan lebih bagus dari buku pertama, karena emang lebih
seru dan menegangkan. Buku kedua ini banyak karakter-karakter baru bermunculan,
dan tokohnya asik-asik semua! Favoritku ehem, Nikolai Lantsov, pinter banget
dan penuh perhitungan.
Dibuku kedua ini pada bagian awal
menceritakan petualangan Alina dan Mal diatas kapal perompak yang dipimpin
Sturmhond sebagai sandera Sang Kelam—the
Darkling—untuk mencari Sea Dragon
yang digunakan sebagai amplifier
kedua bagi Alina. Lalu setelah mereka terbebas dari Sang Kelam, Alina pergi ke
Istana Kecil bersama Nikolai untuk mengambil alih komando Pasukan Kedua—Second Army—yang berisi pasukan Grisha. Disini
hubungan Alina dan Mal diuji dan sempat renggang karena peran baru Alina
sebagai pemimpin Grisha. Tapi entah kenapa aku kok ngerasa hubungan mereka tuh
kurang dapet feel-nya ya, kurang
greget gitu. Justru hubungan Alina dan the
Darkling terkesan lebih kuat dan mendalam, menurutku karena mereka berdua
setara dalam hal kekuatan jadi tau hal-hal yang sama-sama mereka rasakan,
jadinya lebih cocok menurutku. Wah sepertinya aku juga udah mulai terjerat
pesonanya the Darkling nih, haha.
Menjelang ending
di buku kedua ini, Alina mencoba membunuh the
Darkling (beserta dirinya sendiri) dengan cara meruntuhkan Chapel, tapi sayang gagal dan keduanya
masih bisa selamat. Dibagian epilog
buku ini juga diceritakan sepenggal kisah dari sudut pandang sang Perombak—the Tailor—alias Genya tentang sedikit
gambaran kehidupannya di istana dan why
she did what she did.
Overall aku suka sama buku ini, dan jauh lebih seru
dari buku pertama. Jadi kalau merasa buku satu agak ngebosenin kudu sedikit
lebih sabar dan wajib lanjutin buku kedua karena worth it buat dibaca. Tunggu review
untuk buku ketiga ya, semoga cepet terbit!








0 comments:
Post a Comment