Monday, April 6, 2020

Book Review : Siege and Storm (Takhta dan Prahara)

Rating : Siege and Storm, 4.2 ★★★★☆
Judul : Siege and Storm (Takhta dan Prahara)
#2 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2020 di Indonesia
ISBN : 978-602-481-304-8

Kesaktian Alina Starkov sebagai Pemanggil Matahari harus dibayar mahal—diburu sepanjang Laut Sejati serta dihantui nyawa-nyawa yang terenggut saat dia melarikan diri bersama Mal, sahabat yang kini menjadi kekasihnya. Namun, mereka berdua tidak bisa berlama-lama sembunyi. Sementara itu, Sang Kelam semakin gigih menjalankan rencana yang disusunnya sejak awal, sekalipun itu berarti mengambil tindakan yang tidak masuk akal. Petualangan Alina semakin berwarna ketika ia terjebak di kapal Sturmhond, sang perompak partikelir ternama yang punya rahasianya sendiri.

Perjalanan membawa Alina kembali ke Ravka dan kehadirannya dianggap mukjizat oleh kaum fanatic. Dia bertekad kembali ke Istana Kecil dan memimpin pasukan Grisha. Namun, Alina justru terlibat dalam perebutan takhta di antara dua putra mahkota yang membuatnya semakin jauh dari Mal. Bukan hanya itu, bayang-bayang Sang Kelam yang begitu nyata kerap datang tiba-tiba dan membuat Alina tidak bisa membedakan halusinasi dan realita. Tak ada kejayaan tanpa pengorbanan, dan ketika prahara menyerang Ravka, sanggupkah Alina menjadi juru selamat bagi negerinya?

Sudah baca review-ku untuk buku pertamanya belum? Kalo belum, baca dulu Book Review : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)! Hal pertama yang kupikirin ketika pegang buku ini adalah mengagumi covernya yang cantik banget, apalagi bagian book spine-nya yang yaampun, keren sih. Oh, dan kemaren ga sia-sia aku berharap semoga buku kedua bakalan lebih bagus dari buku pertama, karena emang lebih seru dan menegangkan. Buku kedua ini banyak karakter-karakter baru bermunculan, dan tokohnya asik-asik semua! Favoritku ehem, Nikolai Lantsov, pinter banget dan penuh perhitungan.

Dibuku kedua ini pada bagian awal menceritakan petualangan Alina dan Mal diatas kapal perompak yang dipimpin Sturmhond sebagai sandera Sang Kelam—the Darkling—untuk mencari Sea Dragon yang digunakan sebagai amplifier kedua bagi Alina. Lalu setelah mereka terbebas dari Sang Kelam, Alina pergi ke Istana Kecil bersama Nikolai untuk mengambil alih komando Pasukan Kedua—Second Army—yang berisi pasukan Grisha. Disini hubungan Alina dan Mal diuji dan sempat renggang karena peran baru Alina sebagai pemimpin Grisha. Tapi entah kenapa aku kok ngerasa hubungan mereka tuh kurang dapet feel-nya ya, kurang greget gitu. Justru hubungan Alina dan the Darkling terkesan lebih kuat dan mendalam, menurutku karena mereka berdua setara dalam hal kekuatan jadi tau hal-hal yang sama-sama mereka rasakan, jadinya lebih cocok menurutku. Wah sepertinya aku juga udah mulai terjerat pesonanya the Darkling nih, haha.

Menjelang ending di buku kedua ini, Alina mencoba membunuh the Darkling (beserta dirinya sendiri) dengan cara meruntuhkan Chapel, tapi sayang gagal dan keduanya masih bisa selamat. Dibagian epilog buku ini juga diceritakan sepenggal kisah dari sudut pandang sang Perombak—the Tailor—alias Genya tentang sedikit gambaran kehidupannya di istana dan why she did what she did.

Overall aku suka sama buku ini, dan jauh lebih seru dari buku pertama. Jadi kalau merasa buku satu agak ngebosenin kudu sedikit lebih sabar dan wajib lanjutin buku kedua karena worth it buat dibaca. Tunggu review untuk buku ketiga ya, semoga cepet terbit!

0 comments:

Post a Comment