Wednesday, May 22, 2019

Indonesia Ini Kenapa?


I’m gonna write this article as neutral as possible. Pemilu sudah berlalu tanggal 17 April lalu, merenggut lebih dari 500 nyawa petugas panitia pemungutan suara entah apa sebabnya. Mungkin karena kelelahan, tapi tidak menutup kemungkinan karena sebab yang lain. God knows what’s really happen, bless their souls, may they rest in peace.

Kengerian pemilu tidak cuma berakhir disitu. Rakyat dibuat gaduh saat penghitungan suara sedang berlangsung. Teman jadi lawan akibat tidak sepaham, anggota keluarga saling memutuskan persaudaraan, bahkan nyawa jadi taruhan. Satu kubu teriak curang, kubu lain bungkam. Para pendukungnya-pun perang di media sosial seakan-akan mereka yang paling benar. Ada yang bilang cebongers, ada yang bilang sobat gurun, apa kalian ga sadar kalian semua sedang diambang kehancuran jika terus saling serang? Ini Indonesia, negara berlandaskan Pancasila, bukan milik satu pihak saja.

Saat mendekati hasil akhir, ada yang tidak terima karena suaranya tidak sesuai dengan asumsi kubunya. Dicurangi, katanya. Mana buktinya? Coba gugat ke MK bawa bukti dan fakta nyata, sudah ada prosedurnya. Pengumuman pemilu pas tengah malam, ada apa sebenarnya? Jangan membuat opini yang memperkeruh suasana pemilu yang sudah berdarah-darah ini. Tolong jangan korbankan kami para rakyat kecil yang tidak tahu tujuan permainan politik kalian. Entah kubu pemenang atau penantang, semua sama saja, kalian semua punya agenda masing-masing yang kami tidak tahu apa.

Puncaknya hari ini, saat mereka mengklaim ingin menegakkan keadilan. Keadilan yang mana dan untuk siapa? Aksi damai judulnya, tapi entah bagaimana tetap ada korban jiwa. Kalau sudah begini salah siapa? Salahkan pihak yang telah mencurangi hasil pemilu, kalau tidak ada yang curang tentu kami tidak akan melakukan aksi ini. Salahkan pihak yang tidak bisa menerima kekalahan, kalau mereka mau mengakuinya tentu tidak akan terjadi hal ini. Ah GOBLOK SEMUA LO PADA.

Pemilu ini bukan soal kemenangan salah satu pihak saja, ini harusnya jadi kemenangan rakyat Indonesia. Para calon pemimpin bangsa harusnya mampu menjadi teladan dan memberi kesejukan untuk rakyatnya. Bukan hanya diam seribu bahasa, bukan yang bisanya hanya mengerahkan massa. Tolong jangan gunakan agama untuk senjata, atau menebar kebencian terhadap salah satu golongan karena perbedaan warna kulit semata, karena sesungguhnya kami semua saudara yang mencintai Indonesia.

Mungkin aku terlalu naif dan tak tahu apa-apa, oh tentu saja. Siapa sih saya? Bukan elit politik, bukan juga orang pintar apalagi dukun. Hanya rakyat jelata, yang jengah dengan keadaan Indonesia saat ini. Muak dengan segala agenda politik kalian yang selalu bermuka dua. Kenapa tidak dihentikan saja huru-haranya? Biar bisa tidur nyenyak dan nyaman lihat berita. Oh iya, jangan kelamaan pembatasan Whatsapp dan Instagramnya, biar tidak banyak yang bertanya-tanya.


Yours truly,

0 comments:

Post a Comment