Wednesday, May 29, 2019

The Selection Series : Love Version of Hunger Games

The Selection Series by Kiera Cass

I need to admit, aku beli buku ini karena cover-nya cantik banget, udah itu doang (LOL). Aku ga menaruh ekspektasi apa-apa bahkan sempet skeptis sebelum baca buku ini, karena dari judul dan desain sampulnya aja udah keliatan dan ketebak gimana jalan cerita dan ending-nya. Aku sempet ragu lama banget buat mutusin bakalan beli seri ini apa engga. Menurutku jalan ceritanya bakalan too much romance dan cewek banget. Yup, romance is not my cup of tea, always got me cringe. But just because I’m a sucker for a pretty covers, I ended up buying it.

Setelah baca seri ini dari buku satu sampai tiga, tebakanku  ga salah juga, persis sama yang aku bayangin sebelumnya. Jalan ceritanya juga mainstream banget, sangat girl problem. Terjebak diantara dua cowok yang sama-sama dia suka dan ikutan kompetisi buat memperebutkan seorang pangeran, jadi semacam the Hunger Games without the killing part. Isn’t that too typical for a romance? Yes, it is. Tapi, aku suka, bahkan selesai baca tiga buku ini kurang dari 24 jam. Setelah selesai buku tiga, aku langsung reread dari buku satu lagi tapi dengan pandangan yang berbeda. How come?

Buku ini diluar ekspektasiku. Meskipun romance, tapi buku ini ga terlalu bikin cringe. Bahkan aku sampe marathon baca buku ini, begitu buku dateng dianter kurir sekitar sore hari, aku baca sampe malem begadang dan tidur jam 4 pagi (karena pas malem Minggu). Yup, sampe segitunya aku belain ga tidur. Aku gabisa berenti bacanya dan ga rela tidur sebelum abis karena penasaran, meskipun jalan ceritanya udah ketebak banget sih. Yang bener-bener bikin ketagihan itu cara penceritaan dan gaya bahasa Kiera Cass yang gampang dipahami dan ga terlalu bertele-tele sama detail. Konflik dibuku ini juga salah satu yang bikin ketagihan, ga cuma girl problem ternyata.

Selain romance, buku ini menurutku juga termasuk dystopia, karena ada konflik masalah negara dan politik yang belum stabil karena pemberontakan. To be honest, buku ini sempet bikin aku nangis, terutama dibagian saat tokoh America nunjukin keberaniannya dalam melakukan hal yang benar. Such a prettiness in those bravery. Jadi selain romance antara America sama prince Maxon, buku ini juga menceritakan tentang persahabatan, keberanian, dan pengorbanan America dalam melakukan hal yang benar meskipun dengan resiko dia kehilangan banyak hal.

Ini buku bagus, I’m glad I gave it a chance, meskipun aku belum baca dua buku terakhir the Heir & the Crown. Tapi tiga buku pertamanya berakhir jadi salah satu buku kesukaanku, dan aku rekomendasiin banget buat yang mungkin lelah sama konflik di novel YA yang terlalu berat. The Selection Series ini jalan ceritanya ringan tapi bikin ketagihan. Tapi satu kelemahan di buku ini untuk versi terjemahan bahasa Indonesia-nya, bahasanya yang digunain penerjemah banyak yang ga baku, jadi terkesan aneh banget. Saranku mending baca yang versi asli bahasa Inggris aja, far better. Tapi karena aku udah terlanjur beli yang versi terjemahan, aku masih menunggu buat novella Happily Ever After dicetak di Indonesia. Blurb singkat, novella ini menceritakan the selection dari beberapa sudut pandang tokoh di seri utamanya, juga cerita singkat saat ratu Amberly mengikuti the selection di masanya. Ada bonus juga kisah America sama prince Maxon saat setelah event buku the One berakhir. This series are highly recommended.

Ratings

Book #1 The Selection, 4.2 ★★★★☆
Book #2 The Elite, 4.0 ★★★★☆
Book #3 The One, 4.0 ★★★★☆

0 comments:

Post a Comment