Wednesday, April 8, 2020

My Top 10 Favorite Books All Time

Nulis post ini sebenernya cukup bikin galau, semua booklovers pasti merasa kesulitan buat nentuin buku-buku mana aja yang jadi favorit karena buku bagus itu banyak banget. Kriteria buku bagus itu juga subjektif sih bagi tiap orang, tapi bagiku buku yang masuk list favoritku itu yang jelas bikin merasa pengen cepet-cepet nyelesain karena penasaran dan jadi lupa waktu, terus nagih banget sampai berkali-kali reread pun gapernah bikin bosen. Nah dibawah ini 10 buku favoritku sepanjang masa (bisa berubah sewaktu-waktu, LOL).

1. Harry Potter
Serial Harry Potter by JK Rowling
It’s obvious, I know. Novel legendaris yang jadi best seller dimana-mana ini merupakan serial terbaik yang pernah aku baca. Dari segi cerita, karakter, fandom, world building, plot twist, pokoknya semua aku suka. Mungkin kedengerannya mainstream sih karena ini novel sejuta umat, tapi emang novel ini tuh terlalu perfect jadi menurutku impossible buat ga jatuh cinta sama dunia Harry Potter, thank JK Rowling for that. Aku juga termasuk fangirl garis keras, haha. Koleksi novelnya aja sampai dobel-dobel, belum termasuk merchandise dan lain-lainnya. Udah ga terhitung lagi sih berapa kali aja aku reread buku 1 sampai 7-nya selama bertahun-tahun ini, gapernah bosen sekalipun.

2. Throne of Glass
Ebook novel pertama Throne of Glass karya SJ Maas
Serial Throne of Glass ini baru aja aku selesain baca belum lama ini dan langsung nangkring di urutan kedua novel favoritku. Serial ini terdiri dari 8 novel, yaitu the Assasin’s Blade, Throne of Glass, Crown on Midnight, Heir of Fire, Queen of Shadows, Empire of Storms, Tower of Dawn, dan yang belum lama release Kingdom of Ash. Secara garis besar serial karya SJ Maas ini menceritakan kehidupan Celaena Sardothien, seorang remaja pembunuh bayaran yang ternyata adalah ratu yang hilang dari negeri Terrasen yang berjuang untuk merebut kembali kerajaannya. Yang paling bikin aku jatuh cinta sama novel ini karakter Celaena alias Aelin yang badass banget, bukan tuan putri lemah macam damsel in distress. Serial ini tergolong high fantasy dengan karakter utama sebagai Fae dan adanya sihir, witch, monster-monster dari sihir hitam, dan peran dewa-dewi.

3. Percy Jackson and the Olympians
Serial Percy Jackson and the Olympians karya Rick Riordan
Bukunya uncle Rick Riordan emang gapernah gagal bikin aku ketagihan, dan serial Percy Jackson and the Olympians ini yang paling top menurutku. Aku dari dulu emang penggemar berat mitologi Yunani, dan baca serial ini berasa diajak berpetualang ke masa Yunani kuno tapi di jaman modern, nah loh. Tokoh-tokoh mitologi Yunani diceritakan kembali dengan cara yang lebih fresh dan diadaptasi dengan dunia modern, apalagi karakter Percy ini asik banget dan humor recehnya bikin ga bosen baca serial ini meski udah berkali-kali!

4. Lockwood & Co.
Serial Lockwood & Co. karya Jonathan Stroud
Aku masih ga terima buku ini tamat cuma sampe buku kelima. Masih inget waktu selesai baca buku terakhirnya langsung hangover seminggu dan gabisa move on, kejam banget emang uncle Jonathan Stroud tuh bikin ending macam itu. Seriesnya Lockwood & Co. ini nagih banget asli deh. Mengisahkan petualangan Lucy, Lockwood, George, dan hantu tengkorak—Skull—yang tergabung dalam agensi Lockwood & Co. dalam memburu dan membasmi hantu di sepenjuru Kota London. Ini ceritanya emang agensi pemburu hantu tapi sama sekali ga horror sih, lebih ke adventure menurutku. Karakter favoritku adalah si Skull, dia tu hantu usil tengil dan mulutnya kotor banget, tapi ngangenin. Give my skull back, I need more!

5. ACOTAR Series
Serial A Court of Thorns and Roses karya SJ Maas
Sejujurnya series ini termasuk kategori lumayan di buku pertamanya, tapi pas buku keduanya mulai seru banget. Banyak plot twist tak terduga dan tokoh-tokoh yang mustahil ga bikin jatuh cinta, contohnya, ehem Rhysand. Buku pertama, yaitu A Court of Thorns and Roses merupakan retelling Beauty and the Beast tapi dengan tema high fantasy dengan tokoh-tokoh manusia dan Fae di negeri Prythian yang terbagi dalam kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh seorang High Lord. Ini adalah serial kedua karya SJ Maas yang jadi favoritku. Cukup banyak adegan dewasa di novel ini terutama mulai buku keduanya, jadi pastikan sudah cukup umur ya kalo mau baca, haha.

6. A Song of Ice and Fire
A Song of Ice and Fire karya GRR Martin
Serial novel karya GRR Martin yang diadaptasi menjadi TV show Game of Thrones ini emang epic banget. Gabisa banyak komentar, imajinasinya keren dan beliau ini salah satu penulis yang demen banget matiin karakter sesuka hati, LOL. Novelnya worth it buat dibaca, walaupun tebel bukunya cukup bikin pingsan kalo dipake buat nimpuk kepala orang.

7. The Selection Series
The Selection Series karya Kiera Cass
Aku mau ngaku kalo awalnya aku underestimate The Selection Series karya Kiera Cass ini, ya gimana ya sinopsisnya aja tentang kompetisi 35 wanita memperebutkan seorang pangeran yang sedang mencari isteri. Kukira bakalan cewek banget dan memuakkan. Tapi sekalinya mulai baca aku gabisa berenti dong, dan 3 novel dalam seri ini kuhabisin dalam waktu sehari tanpa tidur saking ketagihan banget. Ga cuma soal berebut si pangeran, novel ini juga mengisahkan sisi lain perjuangan tokoh utama—America Singer—dalam hal persahabatan, keberanian dalam melakukan hal yang benar, dan mengubah stereotype orang terhadap kasta rendah.

8. The Hunger Games Trilogy
The Hunger Games Trilogy karya Suzanne Collins
The Hunger Games Trilogy ini satu-satunya novel dystopia yang masuk list favoritku. Aku ga terlalu suka genre dystopia sih karena pas baca merasa tertekan aja menurutku, jadi ini termasuk sesuatu banget karena aku udah reread berkali kali. Favoritku dari ketiga novel ini adalah buku pertamanya, keren bangeeeeet.

9. The Vampire Academy
The Vampire Academy karya Richelle Mead
Series ini kurang banyak mendapat perhatian, padahal cukup keren dan seru loh walaupun sempat dibikin film dan gagal total. Ada 6 buku dari series The Vampire Academy karya Richelle Mead ini. Menceritakan petualangan Rose Hathaway, seorang dhampir (setengah vampir) yang belajar di akademi untuk menjadi pengawal sahabatnya, vampir bangsawan Putri Vasilisa Dragomir dari ancaman Strigoi (vampir jahat pembunuh), yang dalam prosesnya malah si Rose ini naksir sama pelatihnya Dimitri Belikov. Romance-nya dalem banget, duh bikin baper. Aku suka banget karakter Rose yang impulsive, super badass, dan cara ngomongnya yang kebanyakan sarkas. If you ask me, worth to read.

10. The Wrath and the Dawn Duology
The Wrath and the Dawn duology karya Renee Ahdieh
Duology yang terdiri dari the Wrath and the Dawn dan the Rose and the Dagger karya Renee Ahdieh ini merupakan retelling dari Kisah 1001 Malam atau Arabian Nights. Tokoh utamanya adalah Shahrzad, yang berniat membalas dendam kepada Raja Khorasan—Khalid Al-Rasyid—yang mencari isteri baru setiap hari lalu dibunuh saat matahari terbit. Namun Shahrzad menceritakan sebuah kisah kepada sang Raja menjelang matahari terbit untuk menunda kematiannya, seiring waktu, Shahrzad jatuh cinta kepada sang Raja dan satu-persatu rahasia mulai terbuka. Seru banget ini tuh, ceritanya simpel dan ga berlarut-larut. Cocok bagi yang butuh istirahat sejenak dari cerita high fantasy berjilid-jilid.

Kalo diperhatiin hampir semua novel favoritku genre-nya fantasy, kecuali ada satu dystopia—The Hunger Games. Aku emang penggemar berat fantasi sih, segala yang ada mahluk legenda, mitologi, sihir, peri, dan sejenisnya biasanya aku suka. Nah dari 10 daftar novel favoritku diatas, ada ga yang juga jadi favoritmu? Kasih tau di komen dong!

Monday, April 6, 2020

Book Review : Siege and Storm (Takhta dan Prahara)

Rating : Siege and Storm, 4.2 ★★★★☆
Judul : Siege and Storm (Takhta dan Prahara)
#2 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2020 di Indonesia
ISBN : 978-602-481-304-8

Kesaktian Alina Starkov sebagai Pemanggil Matahari harus dibayar mahal—diburu sepanjang Laut Sejati serta dihantui nyawa-nyawa yang terenggut saat dia melarikan diri bersama Mal, sahabat yang kini menjadi kekasihnya. Namun, mereka berdua tidak bisa berlama-lama sembunyi. Sementara itu, Sang Kelam semakin gigih menjalankan rencana yang disusunnya sejak awal, sekalipun itu berarti mengambil tindakan yang tidak masuk akal. Petualangan Alina semakin berwarna ketika ia terjebak di kapal Sturmhond, sang perompak partikelir ternama yang punya rahasianya sendiri.

Perjalanan membawa Alina kembali ke Ravka dan kehadirannya dianggap mukjizat oleh kaum fanatic. Dia bertekad kembali ke Istana Kecil dan memimpin pasukan Grisha. Namun, Alina justru terlibat dalam perebutan takhta di antara dua putra mahkota yang membuatnya semakin jauh dari Mal. Bukan hanya itu, bayang-bayang Sang Kelam yang begitu nyata kerap datang tiba-tiba dan membuat Alina tidak bisa membedakan halusinasi dan realita. Tak ada kejayaan tanpa pengorbanan, dan ketika prahara menyerang Ravka, sanggupkah Alina menjadi juru selamat bagi negerinya?

Sudah baca review-ku untuk buku pertamanya belum? Kalo belum, baca dulu Book Review : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)! Hal pertama yang kupikirin ketika pegang buku ini adalah mengagumi covernya yang cantik banget, apalagi bagian book spine-nya yang yaampun, keren sih. Oh, dan kemaren ga sia-sia aku berharap semoga buku kedua bakalan lebih bagus dari buku pertama, karena emang lebih seru dan menegangkan. Buku kedua ini banyak karakter-karakter baru bermunculan, dan tokohnya asik-asik semua! Favoritku ehem, Nikolai Lantsov, pinter banget dan penuh perhitungan.

Dibuku kedua ini pada bagian awal menceritakan petualangan Alina dan Mal diatas kapal perompak yang dipimpin Sturmhond sebagai sandera Sang Kelam—the Darkling—untuk mencari Sea Dragon yang digunakan sebagai amplifier kedua bagi Alina. Lalu setelah mereka terbebas dari Sang Kelam, Alina pergi ke Istana Kecil bersama Nikolai untuk mengambil alih komando Pasukan Kedua—Second Army—yang berisi pasukan Grisha. Disini hubungan Alina dan Mal diuji dan sempat renggang karena peran baru Alina sebagai pemimpin Grisha. Tapi entah kenapa aku kok ngerasa hubungan mereka tuh kurang dapet feel-nya ya, kurang greget gitu. Justru hubungan Alina dan the Darkling terkesan lebih kuat dan mendalam, menurutku karena mereka berdua setara dalam hal kekuatan jadi tau hal-hal yang sama-sama mereka rasakan, jadinya lebih cocok menurutku. Wah sepertinya aku juga udah mulai terjerat pesonanya the Darkling nih, haha.

Menjelang ending di buku kedua ini, Alina mencoba membunuh the Darkling (beserta dirinya sendiri) dengan cara meruntuhkan Chapel, tapi sayang gagal dan keduanya masih bisa selamat. Dibagian epilog buku ini juga diceritakan sepenggal kisah dari sudut pandang sang Perombak—the Tailor—alias Genya tentang sedikit gambaran kehidupannya di istana dan why she did what she did.

Overall aku suka sama buku ini, dan jauh lebih seru dari buku pertama. Jadi kalau merasa buku satu agak ngebosenin kudu sedikit lebih sabar dan wajib lanjutin buku kedua karena worth it buat dibaca. Tunggu review untuk buku ketiga ya, semoga cepet terbit!

Saturday, April 4, 2020

Game of Thrones : Book Vs TV Show Character Comparison

Daenerys Targaryen, Drogon, dan Jon Snow

Game of Thrones is the best TV show I’ve ever seen (last season excluded, well the ending’s shitty). Aku juga suka banget sama novel karya GRR Martin ini, jenius banget beliau tuh. Yah walaupun novel dan TV show-nya banyak adegan kekerasan, disgusting death, and lots of titties. Tapi ide ceritanya tuh keren abis, banyak plot twist tak terduga, dan karakternya kuat banget. Bahkan villain-nya punya daya tarik tersendiri, dan mau ga mau tetep suka sama karakter villain-nya (except maybe Joffrey, I hate him as much as I hate Umbridge). Ternyata novel ini ada versi ilustrasinya dong, dan aku telat banget taunya, ada juga game cards-nya, tapi sayangnya di Indonesia ga ada yang jual.

Nah kali ini aku pengen bandingin karakter tokoh Game of Thrones versi official illustration dengan versi TV show-nya. Semua artwork yang aku tampilin disini karya seniman Magali Villeneuve, all the copyright goes to the rightful owner. Asli deh artwork-nya keren-keren banget, salut buat Magali Villeneuve. Ga semua karakter bakalan aku tampilin ya, cuma tokoh utama dan beberapa tokoh yang aku berhasil nemuin artwork-nya aja, haha. Okay here we go.

Robb Stark
Robb Stark portrayed by Richard Madden
Yaampun dear Robb, he deserves better. Aku mewek bombay dong pas red wedding, jahatnyaaaaaa. Padahal si Robb ini salah satu dari sedikit karakter di GoT yang punya straight moral compass.

Arya Stark
Arya Stark portrayed by Maisie Williams
Arya ini salah satu karakter cewek di GoT yang menurutku pantes banget dijadiin idola. She’s so strong and brave. Dari anak kecil yang suka main pedang jadi one of the deadliest assassin! Tapi emang perjuangan Arya ini ga mudah sih, at least she got her family vengeance for the red wedding!

Sansa Stark
Sansa Stark portrayed by Sophie Turner
Oke, mungkin bukan opini paling populer sih ini, but I can’t stand her character. Sansa ini banyak berkembang seiring season di GoT, dari bocah naif manja yang nyebelin banget sampai jadi wanita kuat yang pinter politik, bahkan Queen in the North. But I still found her annoying nonetheless.

Joffrey Baratheon
Joffrey Baratheon portrayed by Jack Gleeson
Ugh pengen kucolok mata si Joffrey. Jahat banget ni orang, cocok jadi anaknya Dolores Umbridge. Ini salah satu karakter paling kubenci di alam semesta. Tapi lumayan puas sih matinya mengenaskan, haha.

Cersei dan Jaime Lannister
Cersei and Jaime Lannister portrayed by Lena Headey and Nikolaj Coster-Waldau
Hah si Cersei ini sebenernya nyebelin dan kampret luar biasa, tapi aku ga sebel-sebel amat sama karakternya. Tapi sayang banget dia matinya kurang greget. Kalo Jaime Lannister ini aku cukup netral karena orangnya sebenernya baik tergantung keadaan dan sudut pandang, tapi kadang suka sebel mau-maunya dibegoin Cersei, nurut banget lagi. Stand up for yourself dude!

Tyrion Lannister
Tyrion Lannister portrayed by Peter Dinklage
Tyrion ini salah satu karakter favoritku, selain pinter dia juga asik banget menurutku. Baik tapi ga ngebosenin, jalannya lurus tapi ga lurus-lurus amat, nah gimana tuh. Hidup dia tuh naik turun banget, korban fitnah berkali-kali, kasian.

Khal Drogo
Khal Drogo portrayed by Jason Momoa
Khal Drogo adalah korban bucinnya Daenerys, LOL. Kasian banget dong Daenerys pas ditinggal mati dan gapunya siapa-siapa lagi. Momen Khal Drogo favoritku itu pas dia nyiramin emas panas ke kepalanya di Viserys, puas banget, haha.

Jon Snow
Jon Snow portrayed by Kit Harington
Mas Jon ini favorit aku dong, someone who deserves a lot better. Hidupnya merana dari awal sampe akhir, ga sempet bahagia dia tuh. Kasian banget aseli, dan produser kampret malah ngebuat hidup dia jadi tambah merana di ending-nya, anggap saja season 7 gapernah ada.

Daenerys Targaryen
Daenerys Targaryen portrayed by Emilia Clarke
All hail Daenerys of the House Targaryen, the First of Her Name, The Unburnt, Queen of the Andals, the Rhoynar and the First Men, Queen of Meereen, Khaleesi of the Great Grass Sea, Protector of the Realm, Lady Regent of the Seven Kingdoms, Breaker of Chains and Mother of Dragons. Mbak Dany ini salah satu karakter wanita terkuat di fandom fantasi, karakter paling favorit di seri ini, who deserve a better ending. Pembunuhan karakter banget sih season 7 itu menurutku, seperti biasa anggap saja season 7 gapernah tayang. Tapi aku masih berharap Jon sama Dany bisa bersatu sih, at least they deserve each other.

Nah diatas itu beberapa tokoh utama Game of Thrones dan sedikit pendapatku tentang mereka, siapa tokoh favoritmu di serial ini? Jawab di komen dong! Sebenernya aku masih punya banyak comparison buat tokoh lain sih, tapi kok aku jadi kebawa sebel ya karena bahas ending season 7 yang kampret banget. Jadi untuk saat ini cukup ini dulu aja kali ya, mungkin kapan-kapan aku pengen bahas merchandise Game of Thrones atau Funko Pop-nya. See ya!

Bingung Mengisi Waktu Luang? Coba Jurnaling!

Flatlay journal

Emang ya disaat kondisi lingkungan yang lagi krisis karena pandemi Covid-19 ini mengharuskan sebagian besar dari kita mengisolasi diri dirumah atau self-quarantine, alhasil tingkat kegabutan pasti meningkat. Mungkin beberapa hari pertama kita cukup senang dengan kegiatan rebahan dikasur sepanjang hari, tapi lama-lama pasti bosen juga. Nah untuk mengisi kegiatan selama dirumah ini, salah satu hal yang aku lakuin selain blogging adalah jurnaling. Hmmm gabisa disebut jurnaling juga sih karena aku ga bikin jurnal apa-apa, mungkin lebih tepat scrapbooking, atau apa ajalah sebutannya, haha. Aku juga masih newbie banget dalam hal jurnaling ini, salah satu hobi dadakan saking gabut dirumah.

Jurnaling ini cukup gampang sebenernya, tinggal tempel-tempel stiker dan kertas supaya bisa keliahatan aesthetic didalam buku jurnal. Bisa juga ditambah tulisan-tulisan quotes atau curhatan, kalo pinter bikin tulisan indah atau lettering juga bisa ditambahin ke jurnal. Ga ada kaidah tertentu dalam jurnaling ini, sesuai selera dan kreatifitas aja dalam berkreasi.

Beberapa contoh journaling kit
Bahan-bahan dan perlengkapan yang dibutuhin dalam jurnaling atau biasa disebut journaling kit bermacam-macam, bisa didapat dari lingkungan sekitar maupun beli di toko, semua bisa digunain. Journaling kit punyaku biasanya terdiri dari binder, stiker, stempel kayu, memo post-it, washi-tape, bunga kering, novel atau koran bekas, drawing pen, spidol warna-warni, lem, gunting, dan perlengkapan stationary standar lain yang bisa dibeli di toko perlengkapan kantor. Pokoknya lebih memanfaatkan yang ada di sekitar aja sih, bekas label tag baju, karcis bioskop, tiket perjalanan juga bisa digunain untuk bahan jurnaling. Apalagi kalo suka traveling, wajib banget bikin travel-journal dari benda-benda yang dipakai saat perjalanan sebagai pengingat dan kenang-kenangan.

Salah satu jurnal yang aku tau biasanya dibikin semacam planner atau bullet journal (BuJo), isinya bisa tentang jadwal kegiatan (harian, mingguan, bulanan), event, monthly cycle, skincare routine, diet food, mood tracker, diary, dan lain-lain. Aku juga pernah liat ada yang bikin jurnal berisi idola-idola, novel dan buku favorit, fandom, maupun film favorit. Bisa dikreasikan dengan gambar-gambar tangan, sketch, bisa juga di doodle. Berkreasi dengan jurnaling ini bener-bener tak terbatas banget.

Flatlay journal
Kalo aku disini lebih condong ambil tema ke aesthetic vintage journal, jadi isinya cuma kombinasi stiker bertema vintage yang biasanya aku tambahin quotes atau kata-kata penyemangat, dan sedikit curhatan, haha. Kalo butuh inspirasi jurnal, biasanya aku buka di Pinterest atau cari di hastag instagram #creativejournaling #journaling, bisa dicoba disana banyak banget para empunya jurnal. Kalo sudah dapat inspirasi, jangan lupa dicoba ya, buat isi kegiatan dirumah biar mengurangi stress, pokoknya tetep STAY HOME, STAY SAFE!

Friday, April 3, 2020

Book Review : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)

Rating : Shadow and Bone, 4.0 ★★★★☆
Judul : Shadow and Bone (Bayang dan Belulang)
#1 The Grisha Trilogy
Pengarang : Leigh Bardugo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : POP Imprint KPG
Tahun terbit : 2019 di Indonesia
ISBN : 978-080-509-459-6

Alina Starkov bukan siapa-siapa, cuma gadis yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Dia memang bergabung di militer sebagai pembuat peta, tapi keahliannya tidak seberapa. Alina bahkan ketiban sial kerena kali ini timnya ditugaskan untuk menyebrangi Selubung Bayangan—selaput hampa cahaya berisi monster pelahap manusia. Namun, saat sahabat Mal Oretsev hampir kehilangan nyawa dalam misi tersebut, Alina tidak tinggal diam dan tersingkaplah kekuatan besar di dalam dirinya yang tak disangka-sangka.

Kini Alina diboyong ke Istana Kecil untuk berlatih bersama Grisha, tentara sakti raja yang dipimpin oleh Sang Kelam. Sang Kelam percaya bahwa Alina dapat membantunya menghancurkan Selubung Bayangan dan mempersatukan wilayah negeri yang kocar-kacir karena perang. Namun, pilar-pilar istana menyimpan banyak rahasia dan segala sesuatu yang tidak sesederhana kelihatannya. Sementara kegelapan semakin membayangi negeri dan rakyat mulai menggantungkan harapan di pundaknya, Alina harus menghadapi bahaya yang dapat mengancam dirinya, orang yang dia cintai, serta masa depan dunia.

Sebenernya aku punya buku ini sejak awal terbit karena ikutan PO di penerbitnya, tapi karena aku malesan dan mencoba menyelesaikan TBR jadi baru bisa baca sekarang. Telat sih, padahal buku ini hectic banget di luar negeri dan udah pernah terbit di Indonesia sebelumnya walaupun cuma buku satu.

Latar cerita dan penokohannya menurutku sedikit banyak terinspirasi dari Rusia dan sekitarnya ya, terlihat dari nama tokoh dan nama tempat. Semua latar tempat di buku satu terjadi di Ravka, kerajaan yang sedang berperang dan mempunyai masalah lain yaitu Bayangan Selubung—Shadow Fold—yang terbentuk di daerah sekitar Nirlaut (selat kecil) yang memisahkan beberapa daerah di Ravka dan menyembunyikan monster-monster didalamnya. Aku suka ide ceritanya tentang kaum Grisha—manusia yang mempunyai kekuatan sejak lahir untuk mengendalikan elemen-elemen tertentu. Ada Corporalki yang bisa memanipulasi tubuh manusia, Etheralki yang bisa mengendalikan elemen alam, dan Materialki yang bisa memanipulasi benda-benda solid. Dibuku ini juga dilengkapi peta, yang mempermudah kita berimajinasi dengan dunia Grisha atau Grishaverse.

Tokoh-tokoh utamanya ada tiga orang untuk buku satu ini, Alina Starkov yang bisa memanggil cahaya atau Sun Summoner, Mal Oretsev teman masa kecil Alina sejak di panti asuhan Keramzin yang sekarang jadi pelacak, dan Sang Kelam—the Darkling—pemimpin Grisha di Ravka yang bisa memanggil bayangan hitam. Mereka bertiga ini terlibat cinta segitiga, tapi ga bikin muak ko, lebih banyak intrik dan petualangannya dibanding cinta-cintaan. Villain di buku pertama ini adalah Sang Kelam, tapi walaupun dia jadi villain tapi pesonanya tetep gabisa ditolak, LOL. Cukup oke tiap tokoh karakternya menurutku dan masing-masing punya daya tarik dari segi yang berbeda.

Sejujurnya, setelah  baca buku satu ini I have no idea why this book made such a fuss. Secara keseluruhan ceritanya menarik walaupun cukup simpel banget untuk ukuran YA fantasy. Ide ceritanya bagus sih, bikin orang cukup penasaran dan pengen lanjutin baca buku selanjutnya, tapi terlalu sederhana. Alur ceritanya cepet banget, jadi ga bikin bosen bacanya, tapi juga terkesan diburu-buru. Akibatnya pendalaman tiap karekter kurang kuat, aku merasa kurang dapet aja feel-nya sama karakter-karakternya. Juga karena deskripsi fisik karakter dan tempat atau kejadian kurang terperinci (aku suka berimajinasi jadi detail cerita itu penting, haha). Kalo dari segi terjemahan menurutku overall cukup bagus, walaupun aku ga terbiasa dengan kata-kata ‘Sang Kelam’ a.k.a the Darkling, berasa aneh ajasih, tapi menurutku karena ini terjemahan ya wajar aja.

Dari segi kualitas bukunya, bagus banget sih asli. Covernya cantik banget dan kualitas kertasnya bagus, lentur, jadi gampang dibuka dan ga bikin punggung bukunya patah. Ukuran font-nya standar lah, cukup nyaman dimata. Secara keseluruhan buku ini worth it untuk dibaca, dan ini lagi nunggu buku keduanya dateng, semoga buku kedua lebih menarik dari buku sebelumnya. Baca juga review buku kedua seri The Grisha Triogy ini di Book Review : Siege and Storm (Takhta dan Prahara) ya!